Saturday, August 30, 2008

Mariyuana

Musim dingin yang kejam. Suasana mencekam. Badai gurun sahara bertiup kencang membuat badanku menggigil. Tiga lapis baju dan jaket tebal yang membungkus tubuhku seakan tidak ada gunanya. Dingin menusuk, merasuk ke sum-sum tulang. Darahku serasa berhenti mengalir seperti membeku. Bibirku membiru. Telapak kakiku perih karena pecah-pecah seperti tanah di musim kemarau panjang. Gurun sahara porak-poranda. Debu-debu beterbangan. Sampah berserakan.

Aku berdiri dengan malas di mahattah[1] Mutsallast menunggu bis yang entah kapan akan datang. Menunggu bis adalah pekerjaan yang paling memuakkan dan menjengkelkan di Kairo ini, selain tentu saja budaya antri dan jam karet di setiap urusan. Sial! Rutukku dalam hati.

Kertak bunyi gigiku menahan dingin. Bis belum juga datang padahal aku sudah menunggu selama sejam lebih. Tuhan, Kau sungguh-sungguh iseng membuang aku ke negeri Firaun ini, keluhku. Aku geleng-geleng kepala dan tersenyum kecut mengingat kata-kata orang Mesir, "Misr ummul hadharah. Misr ummud dunya." Mesir pusat peradaban. Mesir, ibunya dunia. Alangkah lucunya! Bahkan untuk mendapatkan bis saja kalian menyiksaku sampai kaki pegal linu.

Kulihat matahari yang bersembunyi di balik awan tebal. Rupanya dia juga sedang bermain petak umpat dengan musim. Di Kairo ini tak ada petir bermain-main. Kalaupun ada, dia datang bukan hendak mengantar hujan. Langit pucat pasi!

Akhirnya bis yang kutunggu datang juga. Bis enam puluh lima putih jurusan Sayyidah Zainab. Aku hendak pulang ke Maditul Buuts Al-Islamiyah, asrama mahasiswa asing di daerah Darrasah. Semalam aku bertandang ke rumah Koci di wilayah Saqar Quraisy. Ada haflah[2] karena dia baru datang dari Indonesia setelah liburan akhir semester kemarin.

Wah, sepertinya aku dapat duduk sekarang, pikirku. Kulihat dari jauh bis sepertinya kosong. Mendapat tempat duduk rasanya seperti bertemu malam lailatul qadar saja di Kairo ini. Aku sudah tinggal selama dua tahun di kota ini, dan aku bisa menghitung dengan jari berapa kali aku mendapat tempat duduk jika naik bis. Teman-teman bahkan sampai bilang, "Jika kalian tinggal di Mesir selama empat tahun, dua tahun umur kalian gunakan untuk berdiri. Menunggu bis, di dalam bis, antrian di mana saja, bahkan kadang di ruang kuliah di kampus al-Azhar juga berdiri. Manusia benar-benar sesak!"

Begitu bis mengerem di depanku, aku langsung loncat. Aku harus bergerak cepat karena bis hanya lewat. Tidak menunggu penumpang seperti yang terjadi di negeri antah berantah, Indonesia.

Kuedarkan pandangku untuk mencari kursi. Blas! Semuanya telah terisi. Hanya aku seorang yang berdiri. Ternyata dugaanku salah. Ini benar-benar sial! Bis berjalan. Pikiranku melayang ke mana-mana sampai lupa membayar ongkos.

"Ya basya, ugrah fen?"[3] kondektur yang duduk di samping pintu belakang berteriak padaku dengan bahasa Arab pasaran. Kurogoh sakuku sebelah kanan. Kosong! Kupindah pada yang kiri. Ternyata sama. Melompong! Aduh, bagaimana ini? Semoga di dompetku ada. Kubuka dompet lusuh bergambar Black Cobra. Sip, ada dua pound.[4] Cukuplah buat membawaku ke Buuts sana. Kuberikan selembar satu pound pada kondektur.

"Nazil fel, ya Malaziya?"[5] Orang-orang Mesir memang susah sekali membedakan antara orang Indonesia dengan Malaysia.

"Ana musy Malaziya, Ana Indunisi, ya ammu. Khalli balak min lisanak!"[6] kataku tanpa beban. "Ana nazil Buuts, insyaallah," lanjutku lagi menerangkan padanya bahwa aku akan turun di Buuts.

"Ma'lesy. Wallahi, ana musy arif far' baina Malaziya wa Indunisi. 'Alsyan, syakluhum huwa huwa."[7] Kondektur minta maaf penuh penyesalan sambil memberikan kembalian setengah pound. Aku menerimanya dengan cuek. Memandang jalanan yang dipenuh-sesaki kendaraan. Mobil pribadi bersliweran. Eltramko[8] melaju ugal-ugalan tanpa merasa berdosa jika nanti menyerempet mobil lain. Seorang pemulung menunggang keledai yang dibebani dua karung barang bekas di punggungnya.

Tak ada lagi penumpang yang naik. Tumben, pikirku. Tapi penumpang yang turun juga tak ada. Aku masih berdiri. Bis melewati daerah Gami'. Aku merasakan nyeri yang sangat di kepalaku. Seperti ada yang menusuk-nusuk. Aku tak ambil peduli.

Bis memasuki wilayah Bawwabah Ula. Kepalaku semakin nyeri. Sakit sekali. Aku mencoba melawannya. Mataku memerah. Otot-ototku seperti menegang. Rasa mual menyerang. Perutku seperti dikocok. Aku ingin muntah. Kupaksa diri menelan ludah. Napasku turun-naik terengah-engah. Bis terus melaju. Kondektur sibuk menghitung uang. Penumpang yang lain tak kalah sibuk dengan diri sendiri. Mereka tidak tahu atau pura-pura tak tahu keadaanku. Entahlah! Aku juga tak mau mengiba minta dikasihani.

Kusandarkan punggungku. Tanganku erat menekan perut. Buku Sejarah Sastra Arab Jahili, diktat kuliah yang kubawa kukepit di ketiakku. Tenaga semakin berkurang. Aku benar-benar lemas dan tak kuat lagi. Mahattah berikut aku harus turun, pikirku. Aku menyerah!

Aku meloncat turun, begitu bis berhenti di mahattah Zuhur di depan kantor perusahaan minyak Enpi. Aku mencari air di kusyk.[9] Tapi nihil! Ternyata tutup. Kuberanjak ke bangku mahattah. Tiga orang Mesir sedang duduk di sana.

"Lau samah," kataku permisi. Mereka bergeser memberikan aku tempat duduk. Aku menunduk lesu. Tanganku masih memegang perut. Ibu di sampingku memadang heran.

"Kamu kenapa? Kamu kelihatan sakit," dia bertanya iba.

"Semalam saya tidak tidur. Saya begadang," jawabku. Dia melihat buku yang kukepit di ketiak.

"Boleh saya lihat?" katanya mengambil bukuku. "Sejarah Sastra Arab Jahili. Kamu mahasiswa al-Azhar," lanjutnya bertanya. Aku menganggukkan kepala. Lamat kudengar dia membaca bukuku. "Bahasa Arab 'Adnan adalah bahasa Arab yang digunakan dalam puisi dan prosa Arab Jahili, juga dengan bahasa inilah Al-Quran diturunkan. Bahasa ini adalah bahasa yang paling dekat dengan bahasa bangsa Sam kuno...." Aku tak mendengar apa-apa lagi. Yang kurasakan, ibu itu kemudian merangkul tubuhku yang jatuh tergeletak tak berdaya.

*****

Pelan kubuka mataku. Badanku lemas. Tenagaku lenyap terkuras entah kemana. Aku berbaring kaku menatap pakaian putih yang membungkus seluruh tubuhku. Aku ingin bergerak tapi tak kuat. Tuhan, apakah aku sekarang sudah berada di surga? Tidak! Kulihat selang infus bergelantungan di sampingku. Bau obat merasuk ke hidungku. Jantungku berdetak perlahan. Kesadaranku belum sepenuhnya pulih. Aku masih bertanya-tanya mengapa aku berada di sini?

Seseorang dengan pakaian serba putih, berkaca mata, masuk menghampiriku. Aku menatapnya lemah.

"Alhamdulillah, dzil wakti anta kuwais.[10] Bagaimana perasaanmu?" tanyanya. Aku hanya diam. Ingin kujawab tapi lidahku masih kelu. Bibirku masih berat untuk kugerakkan.

"Thayyib.[11] Sekarang kamu istirahat saja supaya tenagamu pulih dan normal kembali," katanya sambil menutup tabir tempat tidurku. Mataku perlahan mengatup. Aku tertidur.

Ketika terbangun dari tidurku, ruangan sunyi senyap. Aku benar-benar bersedih. Aku merasa kematian begitu dekat denganku. Tuhan, kalaupun aku akan mati, aku ingin mati di pangkuan ibuku. Supaya tenang jiwaku karena hati ibu penuh seluruh mengikhlaskan aku pulang ke pelukan-Mu. Sebagaimana ibu menerimaku dulu dengan senyuman, aku ingin ibu mengantarku pada-Mu juga dengan senyuman. Ya Allah, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Seandainya saja aku tak menjalani hidup seperti ini. Tapi waktu tak pernah berjalan ke belakang. Seperti juga aku menyebut seandainya untuk hal-hal yang telah lewat dan tak mungkin kembali.

Air mata hangat mengalir di pipiku. Aku merasa sangat berdosa. Di tempat jauh, di rantau tandus ini, kini aku tergeletak tak berdaya. Tak ada siapa-siapa. Malam itu aku terlalu banyak menghabiskan snack.[12] Blue ice[13] oleh-oleh Koci benar-benar membuatku lupa daratan. Hingga ketika naik bis siang itu, aku mengalami jackpot. Aku tumbang tak bergeming. Dan sekarang begini jadinya. Aku benci diriku, aku berteriak dalam hati. I hate my self. I hate my self. I hate my self. Tuhan, maafkan aku. Ayah, Ibu, kak Anjani, Alang, maafkan aku yang tolol ini. Kakek, Nenek, lihatlah cucumu yang tak tahu diri ini. Seharusnya aku bicara pada kalian sejak dulu. Tapi aku egois. Aku menuruti nafsuku sendiri. Air mataku semakin deras mengalir. Pikiranku menerawang jauh ke masa lalu. Pulang ke gubuk kecil di daerah tandus di pulau Lombok. Kampung halamanku tempat semuanya dimulai. Kata orang, sikap dan perjalanan hidup seseorang di tentukan oleh masa kecilnya.

*****

Matahari bangkit dari pembaringannya. Kokok ayam mulai ramai. Mereka telah tersebar ke pelataran kehidupan setelah semalam suntuk beristirahat. Kicau burung bernyanyi menyambut pagi dengan riang. Angin bertiup perlahan membuat embun yang menggelantung di daun-daun berjatuhan ke tanah. Tanah menerimanya dengan suka cita lantas menyebarkan bau harum mewangi seperti sehabis tersiram gerimis. Cacing yang tersesat meliuk-liuk mencari tempat basah, tanah humus sebagai persembunyian melanjutkan hidup. Seekor itik besar, yang berjalan lamban karena berat badan yang tak berimbang, menemukan cacing yang malang kemudian melahapnya dengan riang.

Pucuk gunung Rinjani di ujung utara pulau Lombok gagah perkasa. Meruncing serupa keris hendak menggalah langit jauh. Awan-awan putih berserakan. Sekelompok burung merpati terbang di kaki langit menikmati pagi yang cerah. Pohon-pohon turi di sawah telah berbunga membuat burung berwarna kuning, kecian combo kerasan berdiam lama, menghisap kandungan madu yang tersimpan padanya. Kacang panjang dengan aneka warna berbuah subur. Kecipir masih menunggu pertengahan musim kemarau baru berbunga. Ketika sayur-mayur yang lain telah habis, barulah ia berbuah dan bisa dinikmati hasilnya. Seakan-akan mengerti kebutuhan manusia yang tak pernah selesai.

Aku tinggal di rumah sederhana. Hanya punya satu kamar tempat aku, kak Anjani, dan adikku, Alang, tidur bersama. Ayah dan Ibu menyulap kamar tamu menjadi tempat tidur. Ranjang dan kasur diberi korden dan jadilah ruang itu sebuah kamar tidur. Pintu rumah kami menghadap timur. Jika pagi datang, sinar matahari tembus ke kamar.

Aku terbangun dari tidurku karena sinar matahari menyilaukan mata. Aku meloncat dari ranjang, berdiri di bawah pohon kelapa di samping rumah dan mengeluarkan kulup lalu kencing sampai puas. Ccrrrrr. Semut-semut yang sedang beriringan berjalan membawa sebiji beras kocar-kacir. Aku tersenyum memandangnya. Jauh di sebelah timur, terdengar suara anak-anak kelas satu yang sedang belajar membaca. Ibu Maimunah mengajar anak-anak dengan sangat sabar. Kak Anjani juga ada di sana.

"Ini ibu Budi," suara ibu Munah berteriak. Anak-anak kemudian mengikuti. "Ini ibu Budi."

"Ibu, ini Budi. Budi, ini Ibu. Ini Budi, Ibu. Ibu Budi ini," kataku meniru. "Hahaha, kasihan sekali Budi dan Ibunya," lanjutku.

"Segara. Segara, ini ada jambu," Nenek memanggilku. Aku punya pohon jambu di kebun belakang. Jika berbuah aku senang sekali memetiknya.

Aku berlari menghampiri Nenek. Alang menangis di gendongannya. "Inaq. Inaq. Inaq.[14]" Air matanya berlinang. Aku langsung mengambil sepotong kayu untuk memukul buah jambu itu sampai jatuh. Aku membersihkannya kemudian memberikan Alang. Dia pun diam melahap buah jambu itu. Mungkin Ibu belum memberikannya menetek sebelum pergi tadi, pikirku.

Kuusap mataku tengan kedua telapak tangan. Tanpa cuci muka, tanpa sikat gigi, aku menghambur ke dapur dan menemukan kmek tanak[15] yang penuh dengan ubi rebus. Kumakan dengan nikmat. Aku tidak peduli kotoran mataku yang masih menempel. Tidak peduli juga pada bau mulut dan bekas liur di pipi. Setelah menghabiskan tiga buah, kuambil tiga lagi, kubungkus memakai bajuku dan kubawa berlari. Aku mau pergi ke sekolah menemui kak Anjani dan bermain-main di sana. Di rumah sunyi sekali.

"Segara, mau kemana kamu?" Nenek bertanya begitu melihat aku keluar dari dapur dan berlari ke pematang besar yang berfungsi sebagai jalan utama. Aku berhenti sejenak. Memandangi nenek dan Alang. Adikku sedang asyik bercengkrama dengan ayam-ayam.

"Tiang[16] mau pergi ke sekolahan. Kak Ani pasti sudah lapar di sana. Tiang mau mengantarkan sarapan," jawabku sambil menunjukkan bajuku yang berisi ubi rebus. Serta merta aku berlari. Pelor, anjing kesayangan Kakek, membuntuti dari belakang.

Sepanjang perjalanan kutimang-nimang ubi yang kubawa. Kuelus-elus perut yang masih terasa lapar. Tapi kuurungkan keinginanku makan ubi yang kubawa. Kuingat kak Anjani. "Kakak pasti tidak sempat sarapan tadi pagi," pikirku. Pelor mengibas-ngibaskan ekornya, menjulurkan lidahnya sambil memandang iba seperti minta dikasihani. Kuberikan setengah ubi rebus itu, "Nih, kamu makan biar kenyang," kataku sambil kulahap setengah yang lain. "Yang dua ini untuk kak Anjani. Nggak boleh dihabiskan. Kakak belum sarapan tadi pagi." Kataku melanjutkan perjalanan. Kuusap rumput yang masih basah. Mencari tetes embun untuk membersihkan wajahku.

Kak Anjani sedang duduk menjual jagung rebus ketika aku sampai di sekolah. Aku mengintip dari balik pagar pohon bluntas. Aku bersedih melihat kak Anjani yang tidak bisa bermain seperti teman-temannya.

"Kak. Kak Ani," panggilku pelan. Kak Anjani menolah-noleh. Aku kemudian masuk melalui celah pagar yang tak ditumbuhi bluntas. "Kakak sudah sarapan? Ini saya bawakan ubi rebus." Kuberikan ubi yang dibungkus dengan bajuku.

"Ya ampun, Dik. Terima kasih iya. Ini untuk kamu satu." Kak Anjani mengusap rambutku.

"Kakak saja. Saya sudah sarapan tadi di jalan sama Pelor. Itu dia menunggu di luar. Kakak tadi mempelajari apa di kelas?"

"Menggambar."

"Kakak menggambar apa?"

"Menggambar bebek. Kakak ingat bebek yang di sawah-sawah ketika pulang pergi sekolah. Makanya kakak gambar bebek. Kalau Segara nanti mau gambar apa?"

"Saya mau gambar Pelor, Kak. Kakak ajarin saya menggambar iya."

"Iya, Dik. Nanti kakak ajarin."

Satu persatu siswa datang membeli jualan kami. Kini di tangan kak Anjani ada selembar seribu rupiah dan dua lembar merah pecahan seratus. Ketika teman-temannya asyik main kelereng, loncat karet, atau main slodor,[17] kak Anjani hanya menonton di pinggir lapangan menjual jagung rebus. Tanpa menjual jagung, kakak tak akan punya uang belanja setiap hari. Apalagi jika mau membeli buku. Kata Ibu, uang itu juga harus ditabung karena kami akan dibuatkan rumah baru.

Lonceng berdentang dua kali tanda waktu istirahat sudah habis. Di nampan kini masih tergeletak dua buah jagung rebus.

"Dik, kamu bawa uang dan nampan ini iya. Kakak mau masuk sekolah. Adik tunggu di sini." Kak Anjani memasukkan uang seribu dua ratus hasil jualan jagung ke saku bajuku. Baju yang dipakai membungkus ubi tadi kini sudah aku kenakan. Kak Anjani masuk kelas. Aku menunggu di luar. Kutatap kakakku melalui jendela kawat. Aku tersenyum lega begitu kak Anjani memandang ke arahku.

Ketika pulang kami berlari-lari dengan riang. Menyusuri pematang-pematang sawang yang membentang. Belalang berloncatan. Burung menari di mana-mana. Sekawanan burung nuri melayang-layang di angkasa. Rumput tak lagi basah karena sinar matahari sudah memancar panas. Angin bertiup membuat daun melambai-lambai seperti tangan seorang gadis yang ditinggal pergi orang tercintanya. Suara katak menjerit. Seekor ular hijau melintas membuat kami kaget seketika.

"Teman-teman yang rumahnya di pinggir jalan enak sekali iya, Kak. Di sana tidak ada ular," kataku.

"Lebih enak kita. Di sawah tidak ada suara mobil yang lalu-lalang. Kamu tahu, Dik. Waktu aku nginap di rumah Bibi, aku nggak bisa tidur."

"Iya juga." Kataku mengangguk-anggukkan kepala. Sambil jalan kami makan dua buah jagung rebus sisa jualan tadi. Aku makan setengah karena Pelor menjulurkan lidahnya. Ketika kuberikan jagung itu, serta-merta dia melenggak-lenggok kegirangan. Kami tidak pernah terlambat pulang karena kak Anjani harus mencuci perabotan masak, setelah itu menanak nasi jika Nenek belum menidurkan Alang. Biasanya, selain menjaga Alang, Nenek juga masak buat kami. Kami tidak pernah menonton tv karena yang punya tv di kampung hanya kepala sekolah. Ibu tidak pernah mengijinkan kami nonton tv. "Belajar saja yang baik," kata Ibu selalu. Besoknya, kami akan mendengar cerita filem yang ditonton teman-teman. Kata mereka, menonton itu enak sekali.

*****

NB: Ingin sekali melanjutkan tulisan ini. Doakan suatu hari kelak akan ada judul novel, "Mariyuana."


[1] Halte bis (Bahasa Arab)

[2] Pesta.

[3] Tuan, ongkos Anda mana? Ya basya adalah kata sapa. Berasal dari bahasa Turki yaitu pasha. Selain itu terdapat juga kata sapa yang lain seperti, ya kaften, ya bren (Prince: bahasa Inggris), ya ammu.

[4] Mata uang Mesir. Satu pound sama dengan seratus pister. Dalam bahasa Arab disebut Gunaih.

[5] Kamu turun di mana, orang Malaysia?

[6] Saya bukan orang Malaysia. Saya orang Indonesia. Hati-hati dengan lidah Anda!

[7] Maaf. Demi Allah, saya sama sekali tidak tahu perbedaan antara orang Malaysia dengan Indonesia, karena tampangnya sama saja.

[8] Angkutan kota.

[9] Warung kecil berbentuk lemari. Biasanya terdapat di halte-halte bis.

[10] Segala puji bagi Allah. Sekarang kamu sudah baikan.

[11] Baiklah.

[12] Bahasa gaul untuk menyebut barang laknat, narkoba.

[13] Jenis shabu paling bagus. Shabu nomor satu.

[14] Ibu (Bahasa Sasak; Lombok)

[15] Semacam gerabah tapi berukuran kecil, digunakan untuk masak.

[16] Saya.

[17] Gobak sodor.

Maka Sungai Pun Mengalir Darah

Siapa yang mengabarkan padamu bahwa aku diciptakan dari tanah? Tidak! Aku tidak diciptakan dari tanah. Tuhan tidak membuat sebuah patung kemudian meniupkan ruh padanya, lalu kata kun-Nya menjadi wujudku. Aku juga tidak berasal dari tulang rusuk yang bengkok. Aku bukan Adam. Aku bukan Hawa. Maka aku diciptakan dari darah.

Tidak! Aku tidak diciptakan dari tanah. Aku diciptakan dari darah. Ayah mengatakan padaku melalui prasasti di batu nisannya yang hijau berlumut, bahwa untuk melunakkan hati ibu, beliau harus rela berdarah-darah. Tetapi ketika aku mendapati diriku bermandi darah di pangkuan ibu, ayah sudah selesai dalam riwayat merah. Ayah sudah tamat dalam kisah darah. Aku ingin sekali tahu tentang sejarah kematian ayah, tapi setiap kali aku bertanya pada ibu, beliau selalu mengatakan; "Ayahmu adalah seorang pemberani. Dia memulai dan menyelesaikan hidupnya dengan bermandi darah. Jangan! Jangan mengulangi riwayat merah. Darah dalam sejarah kita telah selesai."

*****

Di penghujung malam yang kelam. Di sebuah sudut subuh yang reot. Di selembar sobekan waktu yang compang-camping. Beberapa jam menjelang shalat hari raya kurban.

Sebuah teriakan membelah sunyi.

"Maling......."

Maka aroma kematian datang membayang, setelah semalaman terbang di awang-awang. Mengapa iblis tidak diikat malam itu supaya manusia tenang mempersembahkan kurbannya? Mengapa iblis tidak dibelenggu supaya hidup yang lelucon ini, sesekali tidak mengandung tipu? Tidak ada jawaban. Tidak ada penjelasan kecuali kilatan cahaya belati mengibaskan diri. Menyaingi sabetan-sabetan doa yang menuju langit ketujuh.

"Ya Allah. Kuatkan diriku. Selamatkan hidup anakku. Selamatkan hidupku. Selamatkan hidup kami," sesekali perempuan itu memandang iba pada sang suami. Lalu kalimat-kalimatnya menghunjam di hati lelaki itu. Berkali-kali sang perempuan, calon ibu, mengulangi kalimatnya: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini. Dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti. Dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan."

"Sayang, jangan katakan itu. Tuhan bersama kita. Sayang, bersabarlah." Tidak ada yang berlarian saat itu kecuali haru biru menderu-deras. Tidak ada yang berkecipak di genangan gerimis kecuali hati sepasang suami istri yang sedang berperang melawan ketakutan. Duhai... engkau sungguh adil Tuhan. Meletakkan surga di telapak kaki perempuan. Duhai... engkau sungguh adil Tuhan. Kau anugerahkan air mata bagi perempuan untuk membasuh kesabarannya. Duhai... perempuanlah yang pertama kali bertarung melawan kematian untuk kehidupan anaknya. Tetapi sejarah hampir selalu berkata: "Sang anak adalah peluru yang tak kembali ke laras senapan. Sang anak adalah anak panah yang tak pulang ke busurnya." Maka apakah balasan untuk perempuan yang meregang nyawa di tengah malam?

Ipeng menatap istrinya. Ingin sekali ia dapat membawa istrinya ke rumah sakit. Melahirkan sang anak dengan leluasa walaupun itu tidak berarti perjuangan istrinya aman dari intipan maut. Tapi ia hanya bisa pasrah menatap prosesi hidup mati istrinya, bidadari penyelamatnya.

“Ipeng, cepat panggil Nek Ijah. Istrimu butuh bantuan darinya.” Bu Suminten menatap Ipeng. Memintanya memanggil Nek Ijah; dukun beranak di kampung sebelah. Sementara pandangan Ipeng lamat ke wajah istrinya. Ia seperti melihat bayang-bayang maut mencengkeram istrinya. Ia seperti melihat maut mencekik leher istrinya. Ipeng mengecup kening Juita dan air mata keduanya pun menganak sungai.

“Sabar ya, Sayang. Mas mau panggil Nek Ijah,” Ipeng mengusap selaut air mata yang membanjir di pipi bidadarinya.

Juita menggamit lengan Ipeng. Menyalami suaminya. Mencium pundak tangan sang pengeran. Barangkali Juita merasakan akar-akar kamboja akan menyubur di ubun-ubunnya. Gerakan-gerakan si kecil membuatnya menciptakan prasangka maha bahaya. “Apakah aku akan syahid ketika anak pertamaku, untuk pertama kali kaget lalu menangis melihat dunia yang semakin penat ini. Ya Allah...” Juita jatuh pingsan.

*****
Lolongan anjing, sorot lampu senter, juga nyala obor, menghiasai malam kurban itu. Barangkali Jibril tidak turun kemudian mengibas-ngibaskan sayapnya maka syahdu damai takbir belingsatan. Suara takbir meluruh. Hilang. Lenyap pada gelap yang tak senyap.

Sumpah serapah tumpah ruah. Lidah-lidah menjilati panas neraka. Seekor sapi untuk kurban hilang dari kandangnya. Maling! Yah... hanya maling yang telah menggagalkan cita-cita warga dusun Montong untuk mengikuti jejak Ibrahim. Menyembelih putra semata wayangnya, Ismail. Demi... demi menjalani perintah Sang Maha. Demi cinta hamba untuk Tuhannya.

Demi cinta pada Sang Pecinta, mereka, warga Montong mengumpulkan uang. Seribu. Dua ribu. Tiga ribu. Buah dari butiran-butiran keringat sebagai buruh tani. Dan seekor sapi telah siap. Tapi... tapi tiba-tiba. Tiba-tiba saja sapinya hilang. Lenyap entah ke mana.

*****

Ipeng terus berlari menembus kelam dan gerimis. Berpayung daun pisang tanpa senter. Demi cinta pada sang bidadari. Cinta! Kekuatan cinta membuat dia bertarung melawan getir dingin dan gelap ketakutan. Kekuatan cinta membuat Ipeng berani menantang apa saja. Bahkan maut sekalipun.

Sementara bias amarah warga Montong menyala-nyala. Berlari. Mengejar maling yang kurang ajar.

Suara kaki Ipeng dengan napas terengah-engah terdengar warga. Mereka seperti menemukan jawaban. Ipeng menatap mereka penuh tanda tanya. Heran. Dan tak mengerti apa-apa.

“Malingnya di sini...”

“Maling....”

Sebilah belati melesat kesetanan. Wajah Ipeng mengucur darah. Ipeng jatuh sebelum sempat berkata tentang dirinya. Dirinya yang sedang mencari bantuan untuk nyawa sang istri. Ipeng telah pergi ke alam lain, sebelum bercerita tentang istrinya yang gelisah menunggu di rumah.

"Dia itu maling. Dia telah membohongi kita dengan pura-pura bertobat. Kita harus menyelesaikan malapetaka di bumi ini. Kita harus singkirkan dia."

"Ya. Saya lihat sendiri dia kemarin mondar-mandir di samping kandang. Dia itu sungguh kurang ajar."

"Sial sekali anak ini. Dia kan tidak ikut mengumpulkan iuran. Kita mau sembelih kurban, taunya dia curi sapi kita. Sungguh keterlaluan."

Arakan warga membawa tubuh Ipeng diiringi musik tawa canda iblis. Tanpa komando warga menghujani wajah Ipeng yang jatuh tak berdaya. Tidak puas melihat darah yang muncrat karena rajaman batu dan lainnya, beberapa orang bangkit dengan pedang mengkilat. Badan Ipeng yang tak berdaya mereka cincang layaknya sapi di tempat jagal. Badan itu...Ah! Seperti hewan kurban yang siap dimasak. Satu persatu lepas karena ditebas.

Di sudut dunia yang pekat, dua manusia bermandi darah. Seorang anak. Seorang lagi ayahnya. Seorang menyisakan senyum dan satunya lagi menitip hujan deras air mata. Yah... Daman memulai hidupnya ketika ayahnya, Ipeng menyelesaikan hidupnya. Sama-sama dalam aroma darah.

*****

Pagi hari yang cerah. Matahari memerah. Sungai sisa tragedi semalam mengalir darah. Seorang ibu, Suminten, berlinang air mata mengumpulkan tangan, kaki, kepala, dan anggota badan Ipeng lainnya. “Aku ikhlas, ya Allah. Aku ikhlas,” ucapnya dan air mata deras menghujan.

Juita masih belum sadarkan diri. Sementara di sudut yang lain, seekor sapi keluar dari rumpun pohon pisang.

“Kamu sih pakai petasannya terlalu gede. Sapinya jadi takut. Sampai lari tidak karuan,” sekelompok anak-anak saling menyalahkan. Dan ayah-ayah mereka diam terpaku di sebuah penyesalan tiada ujung.

Ah... tiada takbir di pagi itu, karena proses kurban telah selesai sebelum subuh terbangun dari tidurnya.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah. Akan tetapi, ketakwaan kalianlah yang dapat mencapai-Nya."

Kairo, Februari 2006 - 29 Maret 2007




Firaun di Negeri Musa

Setelah beberapa lama, akhirnya panggilan itu datang juga. Aku dinyatakan lulus untuk melanjutkan studi di universitas Al-Azhar. Kecuali aku, keluarga dan teman-temanku tentu saja bahagia. Sangat bahagia barangkali. Tapi, aku biasa-biasa saja. Lebih tepat, aku tak menginginkannya. Karena ternyata beasiswa itu sangat menyakitkan. Menjadi miskin adalah bencana yang selalu siap memotong cita dan impian.

"Kamu harus sampai Jakarta paling lambat hari kamis. Lengkap dengan paspor dan surat lainnya. Oiya, untuk jaga-jaga, siapkan uang lima juta. Di Kairo kamu masih menunggu beasiswa turun. Jadi, untuk sementara kamu pakai uang pribadi," jelas petugas yang menghubungiku dari Departemen Agama.

"Tapi, Pak. Saya tidak mungkin buat paspor sehari langsung jadi. Apalagi menyiapkan uang lima juta," suaraku tercekat. Batinku memelas.

"Kalau kamu mau, semua bisa didapatkan. Kalau tidak, saya tidak mau tahu, jika kamu gagal berangkat."

Sial! Enak saja mulutnya ngomong.

Sebenarnya aku lebih memilih tidak berangkat. Kupikir baiknya aku tidak usah ke Mesir. Bukankah ilmu agama di pesantren saja tidak habis kulahap? Tapi, Amaq dan Inaq sudah tahu dan buru-buru berdoa: "Ya Allah, semoga ini barokah bagi kami. Nak, selamat. Kamulah harapan kami. Kamulah jantung-hati kami. Nak, berangkatlah."

Akhirnya, aku berangkat. Paspor bisa selesai sehari. Tentunya, dengan biaya yang sangat tak masuk akal. Administrasi di negeri kita dihuni oleh setan-iblis. Dan urusan akan cepat selesai jika berani bayar lebih. Persoalan akan mulus jika ada fulus. Aku merasa, hidupku pun mulai digerogoti kutukan.

Dan uang lima juta itu...

"Saya dapat beasiswa dari universitas Al-Azhar Mesir, Pak. Tapi, saya disuruh siapkan uang lima juta untuk jaga-jaga," jelasku pada Bapak Bupati Lombok Merah. Aku lupa namanya. Ah...tidak. Aku tidak lupa. Aku melupakannya. Aku janji tidak akan mengingatnya!

"Bagus itu," Bapak yang tak akan kuingat namanya itu menjawab singkat. Dia terus saja sibuk menanda-tangani berkas yang menumpuk di depannya. Tanpa menoleh padaku. Tanpa sedikit saja melirik ke arahku. Seolah-olah aku tidak ada di hadapannya. Seolah-olah aku adalah batu yang tak punya akal dan pikiran. Ingin sekali kuludahi mukanya, tapi aku sadar diri. Aku orang lemah dan papa. Itu artinya, bahkan untuk berbuat baik saja masih harus berhati-hati.

"Sudahlah, kamu tidak usah mengharapkan bantuan dari pemerintah. Amaq ada solusi untuk kamu," hibur ayah sepulangku dari kantor bupati. Dan sawah peninggalan nenek moyang; satu-satunya harta yang kami punyai; pusaka yang kalau dijual berarti penghinaan bagi para pendahulu; karena itu sama saja artinya menjual tulang rusuk mereka. Sawah tempat segala harapan digantungkan. Harta paling keramat itu...dijuallah untuk biayaku ke Mesir. Ya Allah, pergiku ke Mesir, benar-benar kurasakan seperti menyeberang di titian shirathal mustaqim. Ya Allah, tuntunlah aku agar selamat.

"Pire taun side lek Mesir, Tatik?" Inaq menatapku sayu. Buru-buru kuhindari bertatapan dengannya. Aku tak kuat. Aku tak sanggup. Selaksa asa di bening matanya. Sejuta budi hutangku padanya. Ibu, bahkan dunia dan isinya tak akan setara untuk membalas cintamu. Tak terasa, tetes air mata, menggenang di pipiku. Kini, aku akan pergi jauh sekali. Meninggalkan ibu. Meninggalkan ayah. Meninggalkan semuanya.

"Insyaallah empat tahun, Inaq."

"Side jari ape lamun wah tulak olek Mesir?"

"Jadi manusia, Inaq."

"Ya Allah, Inaq nanya baik-baik, kok jawabanmu seperti itu, Nak?" Ibu berlinang air mata. Ibu menangis. Aku jadi merasa sangat bersalah.

"Ya, mungkin jadi menteri, Inaq," jawabku sekenanya sekedar menghibur diri. Membunuh bingung dan cemas yang bersarang di dada.

"Pacu-pacu lek gumin dengan. Inget inaq-amaq de." Baik-baik di negeri orang. Ingat ibu-bapakmu. Kakek menasihati.

*****

Pesawat sudah berada di langit Kairo. Kuedarkan pandangku ke bawah sana. Rumah-rumah kardus, sahara membentang, gedung-gedung menumpuk saling tindih. Ahai...ini bukan kota. Teriak hatiku. Ini tempat pembuangan sampah.

Aku turun dari pesawat. Siang menggarang. Langit bersinar terang. Matahari serasa berada tepat di atas ubun-ubunku. Huss...angin sahara menampar wajahku. Kutatap bumi yang pias ini, sahara setandus sepi, padang gersang sepanas api. Apakah sedang kugali sendiri kuburanku di sini? Bisik hatiku disambut senyum kecut negeri Musa ini.

Aku mengernyitkan dahi. Heran dan kaget. Kutatap wajah-wajah yang menjemputku. Mengenaskan sekali. Orang-orang yang tak terawat, pikirku nakal. Bagaimana mungkin, mahasiswa Al-Azhar yang setiap saat bergelut dengan ilmu agama; setiap waktu bercumbu dengan Al-Quran; sepanjang hari bercengkrama dengan hadits, tapi berpenampilan seperti preman. Rambut panjang urak-urakan. Celana belel. Tapi ah... bukankah penampilan hanya di luar saja. Siapa tahu hati mereka seputih salju, sesejuk embun pagi. Buru-buru kuusir prasangka buruk yang sejak tadi bergelayut.

"Selamat datang di Mesir." Wajah itu tersenyum ramah. Benar, penampilan tidak selamanya menggambarkan hati seseorang.

Aku membalas tersenyum. Menganggukkan kepala tanda hormat. Dan aku bertanya.

"Sudah berapa lama di Mesir, Ustadz?"

"Jangan panggil ustadz. Biasa saja ok. Saya sudah tujuh tahun."

"Masyaallah. Hebat sekali. Sudah S2 dong," seruputku.

Orang itu tersenyum kecut. Diam dan bisu. Tidak ada jawaban. Aku bingung juga salah tingkah.

"Eh, kamu jangan bertanya seperti itu lagi. Itu pertanyaan sakral. Tidak boleh ditanyakan. Jangan sekali-kali bertanya tentang kuliah," Hanafi, seorang kawan lama, menghampiriku. Deg...deg...deg. Detak jantungku serasa dipompa keras sekali. Pasti ada yang salah di sini, pikirku. Aku semakin bingung. Semakin tak mengerti. Aku tak habis pikir, aku tidak boleh bertanya tentang kuliah. Padahal mereka mahasiswa. Bukankah kalau menjadi tenaga kerja, kita lazim bertanya tentang uang dan pekerjaan? Lalu jika mahasiswa, bukankah wajar, bahkan wajib ditanya tentang pelajaran dan kuliah. Tapi di Mesir ini ternyata salah. Aturan seperti itu tidak berlaku. Kita diharamkan bertanya tentang kuliah dan pelajaran.

*****

Hari berlalu. Waktu terus berjalan. Tak terasa, kini genap empat tahun aku di Mesir. Benar, kita di haramkan bertanya tentang kuliah dan pelajaran. Tapi, terus diminta, dituntut, dituntun, untuk bertanya, mengobrol, berdiskusi, tentang film-film terbaru, klub olahraga terhebat, artis tercantik, betis gadis terindah, bintang Hoolywood terseksi, juga jadwal dan agenda harian yang kini menjelma layaknya website hiburan murahan.

"Bagaimana, Jomblo 13 sudah nonton belum?"

"Eh...tau gak. Ayu Azhari katanya mau berkunjung ke Kairo lho."

"Hebat! Film Korea memang luar biasa. Yang syutingnya di Belanda itu, judulnya apa?"

"Si plontos gendut itu pindah ke Milan. Beckham hengkang ke Amerika. Kasian Real Madrid. Keyok dia sekarang. Tidak punya nyali."

"Busyet deh. Tukul itu enak sekali dicium artis-artis cantik. Tamara, Luna Maya, Nadine, wah gila. Padahal acaranya gak mutu banget."

Sementara hampir semua organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir telah berubah menjadi klub-klub olahraga, dan mereka berlomba menjadi yang terhebat, yang ternama, yang terkaya. Aku sendiri terasing dari buku pelajaran, terbuang dari kuliah yang satu ke kuliah yang lain. Aku telah lupa saat sulit ketika awal-awal perjuanganku ke Mesir ini. Aku telah membuang ingatan tentang hal itu. Aku kini bukan siapa-siapa. Aku kini bukan apa-apa. Aku tergesa menyebut diri pemikir muda, padahal salatku saja kacau-balau tak hingga. Aku berbangga, sok penyair, padahal karyaku hanya nyinyir belaka. Mahasiswa bukan. Tenaga kerja pun tidak.

"Nak, jadi apa kau sekarang, sudah empat tahun kok tidak pulang-pulang?" Kalimat itu menggantung di bulu mataku.

"Ah...aku belum menjadi manusia, Inaq. Aku masih berwujud kuda Nil. Barangkali juga kadal Mesir. Mungkin saja hajar jahannam. Inaq, maafkan aku. Jangan-jangan, aku Firaun di negeri Musa ini. Astagfirullah."

Kairo, BIP Jumat 30032007 09:44


Suatu Pagi dan Pagar yang Makan Tanamannya

Perempuan bersenyum jingga


Aku tidak tahu di mana kudapatkan istilah ini. Perempuan bersenyum jingga. Bukankah senyum tidak berwarna? Dan sahabat-sahabatku menuduhku telah gila. Gila! Aku benar-benar gila. Aku gila karena senyum perempuan yang kulihat berwarna jingga. Setidaknya dalam khayalku.


Senyum perempuan itu benar-benar khas. Mempunyai daya magis yang entah aku tak tahu (ups...bukan tak tahu tapi pura-pura tak tahu), akan membuatku tenggelam. Aku berkelana, tenggelam, lalu tertawan. Demikianlah, selalu saja ada alasan untuk jatuh cinta pada beberapa perempuan pada waktu yang sama. Bahkan, perempuan bersenyum jingga ini kukenal, ketika aku sedang duduk berdua dengan kekasihku. Di warung bakso Malang, di depan kampusku.


Aku jadi rajin berkunjung ke warung bakso itu. Tidak lagi berdua dengan kekasihku. Kami (aku dan kekasihku) hanya bertemu pada sore hari Sabtu untuk menikmati malam Minggu. Selebihnya masing-masing punya kesibukan sendiri. Seperti aku yang penggiat seni lukis, hari-hari bagiku adalah cat air, kanvas, lukisan dan segala tetek-bengeknya. Suatu ketika aku akan menjadi Picasso. Bahkan melampauinya. Begitu selalu kutegaskan pada kekasihku, bila dia meminta waktu lain untuk bertemu. Apakah begitu penting sebuah alasan? Ataukah memang hidup tak perlu alasan. Menjalani saja apa adanya. Toh, hidup ada yang mengaturnya.


Kini aku tak lagi malu duduk berlama-lama di warung bakso itu. Sepertinya penjaga warung telah mafhum keadaanku. Mahasiswa dengan modal pas-pasan. Bahkan setiap akhir bulan mesti mencari pinjaman pada lain orang untuk bertahan hidup. Karenanya, dia tidak marah karena kursinya kupakai mesti aku tak membeli baksonya.


Perempuan bersenyum jingga. Bagaimanakah kau kan kugapai? Ini adalah sebuah pertanyaan yang rumit. Aku punya Rinjani, kekasihku. Tapi aku juga sedang tenggelam atau bahkan terbawa arus. Jatuh cinta lebih berbahaya daripada sekedar terbawa arus sungai. Begitu kata temanku. Ah...aku tidak perduli. Biar saja, sederas apapun keputusanku sudah bulat. Rinjani, maafkan aku. Jatuh cinta pada lain wanita. Padahal aku janji setia. Sungguh malapetaka, kelak kalau Rinjani tahu, dia akan mengutuki diriku, cintaku, juga kelelakianku. Dasar lelaki!


Penantianku tidak pernah sia-sia. Aku selalu melihat perempuan bersenyum jingga itu datang menjelang senja. Duduk di pojokan warung, di samping bunga mawar yang merah merekah, kemudian memesan dua porsi bakso. Aku jadi sangat heran dan semakin ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan perempuan itu. Duduk menjelang senja, memesan dua mangkok bakso. Makan dengan pelan sambil komat-kamit seperti bercakap pada diri sendiri. Barangkali dia telah gila! Tidak mungkin. Hingga aku menemukan jawabannya, ketika dia datang suatu ketika dengan temanku, Galuh.


Lelaki itu kucing garong!


Sore itu, seperti biasanya, menjelang senja, matahari sudah condong, hendak rebah di pangkuan malam. Aku duduk di warung bakso tempatku menunggu si perempuan jelita; pemilik senyum berwarna jingga. Aku lihat Galuh; teman sekampungku yang kini juga sedang berselingkuh dengan mesumnya Jakarta. Mungkinkah perempuan itu kekasihnya? Darah di ubun-ubunku serasa berdesir. Cemburu! Apakah aku berhak untuk cemburu pada perempuan yang belum menjadi milikku. Dadaku terasa sesak! Aku tidak kuat menahannya. Rinjani, rasa itu kini mendesir, rasa cemburu menyisir ulu hatiku. Seperti inikah yang kau rasakan jika kau tahu bahwa aku sedang jatuh cinta pada lain wanita. Ah...


Lamat kudengar suara perempuan bersenyum jingga itu (sampai saat ini aku belum tahu namanya!).


"Salah nggak kalau aku tidak pernah menghubunginya. Aku terlalu sibuk. Atau memang janjinya untuk setia hanya basa-basi."


Galuh yang duduk di depannya hanya tersenyum meningkahi pertanyaan perempuan itu.


"Lelaki memang begitu. Seperti kucing garong. Kalau lihat ikan yang lebih segar, dia tidak akan menghiraukan perasaan orang lain yang dikhianati." Perempuan itu masih saja nyerocos. Ada perasaan yang terus mendorongku untuk sekedar berkenalan dengan perempuan itu. Kupikir ini saat yang baik.


"Hai...Galuh. Enak sekali menemani bidadari makan bakso." Kulirik perempuan itu. Dia tersenyum. Wanita mana yang tidak melayang perasaannya dipuji sebagai bidadari. Satu kosong dalam benakku. Aku sudah bisa membaca rumusnya; wanita ini suka dipuji dengan kata-kata romantis. Selanjutnya aku akan rajin mengirimkan puisi, pikirku.


"Hei. Kenalkan ini temanku, Anjani." Dingin. Galuh memperkenalkan bidadari itu padaku. Kurasa ada yang salah. Ah...Anjani. Ah...Rinjani. Seperti ada yang menohok di jantungku. Rinjani. Anjani. Adakah mereka bersaudara. Kalau bersaudara, aku pasti sudah tahu. Apa yang tidak kutahu dari Rinjani, bahkan kakek buyutnya sudah dia kenalkan padaku. Atau jangan-jangan nama itu hanya bikinan Galuh agar aku ingat bahwa aku punya Rinjani.


"Balfas." Kuulurkan tanganku.


Dia menyalamiku. Darahku berdesir. Ahai...tangan selembut sutra. Kucoba membuang segala rasa bersalahku pada Rinjani. Aku tak perduli. Bukankah lelaki itu kucing garong. Kalau ada ikan yang lebih segar, mengapa harus membuang kesempatan.


"Nama yang indah. Mungkin ayahmu tipe lelaki yang romantis. Punya rasa puitis yang tinggi. Anjani...namamu mewangi seperti melati."


"Ah...kamu ini ada-ada saja. Bapakku memang guru sastra kok."


"O...pantes saja!"


"Lain kali kita sambung ok. Sekarang kita harus pergi. Kalau mau naklukin Anjani, kamu harus bisa bikin puisi seratus biji sehari." Datar. Aku melihat raut tidak suka di wajah Galuh. Cemburukah? Lelaki itu kucing garong! Aku atau Galuh-kah yang kucing garong? Atau kami berdua adalah kucing garong yang hendak berebut ikan? Aku tidak tahu nasib apa yang akan berlaku! Aku merasa tertantang.


Aku dan Galuh


Sebenarnya menyebut Galuh sebagai teman saja tidak cukup. Bagiku dia adalah saudara. Seperti kakak-beradik. Hanya saja aku tak tahu, aku atau dia yang layak sebagai kakak. Ah...itu tidak penting. Kami dari kecil selalu bersama. Sekolah sejak SD sampai SMU bahkan kuliah pun di tempat yang sama. Bedanya, dia ambil hukum sedang aku sastra. Kata orang, raut muka kami mirip. Kadang, teman yang baru kenal seringkali salah orang. Tak bisa membedakan antara aku dan Galuh.


Kami datang ke Jakarta dengan dendam yang sama. Mengeruk kekayaan ilmu dan uang untuk membangun kampung halaman. Dendam yang baik bukan? Lulus dengan nilai sangat baik di SMU 1 Mataram, membuat jalan kami lempang. Masuk UI dengan beasiswa dari yayasan Brigafisca. Sebuah yayasan pendidikan yang paling bergengsi di daerah kami, Lombok.


"Pacu-pacu entane lek bumin dengan. Patuh-patuh. Dendek besiak." Amaq Dijah, ayahnya Galuh menasehati. Baik-baik di daerah orang. Patuh-patuh. Jangan bertengkar. Begitu kata terakhir yang kami dengar sebelum take off dari bandara Selaparang, Rembige.


"Mau tengkar? Hehehe." Aku dan Galuh tertawa. Galuh meninju lenganku. Amaq Dijah tersenyum. Dalam pikiranku, aku tidak akan mungkin bertengkar dengan Galuh. Bukankah dia bagiku adalah saudara. Seperti dia juga menganggapku begitu.


Sampai akhirnya....! Kejadian yang sangat aku sesalkan terjadi. Aku benar-benar bodoh. Lebih tepatnya keras kepala.


***


Sebuah sore. Angin bertiup gelisah. Langit tak basah. Di warung bakso depan kampus. Aku duduk sendiri. Menunggu Anjani dan Galuh. Sejak pertemuan dan perkenalanku, kami selalu menghabiskan sore bertiga. Hanya duduk. Menunggu matahari tenggelam. Rebah di pangkuan malam.


Sore yang sepi. Tak ada tawa-canda Anjani. Hanya aku dan Galuh. Aku tak tahu ke mana Anjani. Aku memesan dua gelas es jeruk. Aku dan Galuh tak banyak bicara. Dingin. Lebih dingin dari es jeruk yang kuminum.


"Kamu suka sama Anjani?" Galuh menatapku. Lekat. Sorot matanya seakan menghunjam di ulu hati. Meminta kepastian. Aku kuatir. Jangan-jangan pesan Amaq Dijah ada benarnya. Jangan bertengkar. Jangan bertengkar. Ah...sebuah larangan. Tapi di telingaku. Kalimat itu justru menjelma perintah. Bertengkarlah jika keadaan memaksa. Bertarunglah jika ada yang meminta. Bersainglah jika ada yang menantang. Jangan jadi banci. Kau adalah laki-laki. Setiap laki-laki yang lahir dari rahim Lombok adalah pepadu. Petarung yang siap menantang apa saja. Termasuk juga mati.


"Lebih dari sekedar suka. Ada yang salah?" Suaraku memberat. Geram. Seperti ada yang tertahan. Kutatap matanya. Sorot mata kami beradu. Bumi seperti dijilat lidah neraka.


"Tak ada yang salah. Hanya saja...." Kalimat Galuh menggantung. Aku menunggu. Mungkin ujung kalimatnya berupa sabetan keris. Dan perang saudara akan pecah. Gara-gara cinta. Sebab wanita. Alangkah hinanya. Bukankah aku atau Galuh bisa saja mengalah. Tapi aku laki-laki. Galuh laki-laki. Lahir dari rahim yang sama. Pepadu. Petarung. Setiap laki-laki, dalam waktu yang sama adalah juga singa. Buas.


"Ada apa? Katakan saja. Masa' sama saudara sendiri saja begitu. Pakai rahasiaan segala." Kucoba tersenyum. Senyum yang sangat kupaksaan.


Galuh tak berkata apa-apa. Diam. Sesekali membuang nafas panjang.


"Ada apa sih sebenarnya? Kamu lupa. Aku dan kamu laki-laki. Lebih dari itu, kita sama-sama orang Sasak. Laki-laki adalah pepadu. Kalau kamu juga suka, tidak ada salahnya. Atau jangan-jangan kamu mau mengatakan aku yang bersalah."


Tidak ada tanggapan. Bisu. Aku benar-benar kesal dibuatnya. Jangan bertengkar! Jangan bertengkar! Ah...kekuatiran itu akhirnya datang juga. Setidaknya berupa perang dingin.


Galuh beranjak. Pergi meninggalkan bias api neraka.


Hati yang mendua


Aku tidak tahu perasaanku kini. Galang meninggalkanku. Dia menikah dengan perempuan pilihan ibunya. Cinta. Ah...selalu saja tak terduga. Aku benar-benar goyah. Rapuh. Hingga Galuh dan Balfas hadir dalam hidupku. Dua laki-laki yang cukup menarik. Berasal dari daerah yang sama, Lombok. Dua laki-laki kembar. Menurutku begitu. Prestasi mereka sama-sama menonjol. Galuh selalu bercerita tentang itu.


Tentu saja di antara keanehan Balfas dan Galuh, mereka punya sisi rahasia yang unik. Galuh dengan mimpi-mimpinya tentang masa depan dunia hukum. Segala prestasi yang diraihnya sejak SD, SMP, SMU, bahkan di kuliah.


Pertemuanku dengan Galuh tidak sengaja. Ternyata dia seorang biblioholik. Penggila buku. Baginya dunia adalah buku. Dan waktu-waktunya selalu dihabiskan di perpustakaan. Kecuali setelah perkenalannya denganku. Galuh selalu setia menemaniku. Tentu saja dia hanya duduk membaca buku. Tak berbicara apa-apa ketika aku menikmati matahari tenggelam, makan bakso dengan sambal pedas di warung depan kampusku, atau lainnya. Kelemahan Galuh ( atau mungkin kelebihannya yang lain! ) adalah dia sangat pendiam. Dan Balfas datang mengisi kekosongan itu.


Balfas. Menyebut namanya, maka yang terbayang di kepalaku pertama kali adalah puisi dan Pantai Senggigi. Pantai paling indah di Lombok. Dengan bangga, setiap pertemuan diisinya dengan cerita. Pulau Lombok dengan keindahannya. More beautiful than Bali. Lombok is the real paradise in world, pujinya pada kampung halamannya. Tentu saja ini sangat kusuka. Aku jadi sering membayangkan bulan madu di pulau Lombok. Alangkah indahnya. Ups...tapi dengan siapa? Galuh atau Balfas? Aku bingung!


Barangkali aku jahat. Aku terjebak. Seharusnya aku bisa menarik diri. Mundur perlahan dari misteri dua laki-laki itu. Terlanjur! Aku tahu Galuh dan Balfas menyukaiku. Galuh pernah berkata begitu padaku. Walaupun hanya sekali. Tidak seperti Balfas. Dia selalu mengulang-ngulang perkataannya. Balfas memanggilku dengan panggilan yang membuatku selalu tersenyum. Dia laki-laki yang sangat romantis. Pertama kali bertemu saja, dia katakan namaku mewangi seperti melati. Karena aku tersenyum mendengar pujian itu, dia memberikanku panggilan: Bidadari Bersenyum Jingga. Dia juga bilang, aku adalah puisinya yang tak akan pernah usai. Bahkan sebuah puisi dia persembahkan khusus untukku. Aku sangat menyukai puisi itu. Atau jangan-jangan suka pada pencipta puisi itu.


Selepas Magrib


Selepas magrib kala itu

kudatang padamu

membawa segelas doa

untukmu adinda

Adalah ibu yang rajin mengirim salam

menitip nakalku padamu

tuk bermanja pada senyum

yang kau pilin setiap bertemu


Galuh atau Balfas? Hatiku bingung. Hati yang mendua. Apakah hati wanita selalu begitu? Plin-plan. Tak menentu. Bukankah mudah saja untuk mengatakan iya pada yang satu, dan tidak untuk yang lain. Iya untuk Balfas, tidak untuk Galuh. Atau sebaliknya. Tidak untuk sang penyair; Balfas, dan iya untuk calon hakim; Galuh. Jangan-jangan aku suka mereka bertarung karenaku. Jangan-jangan aku senang mereka bersaing memperebutkanku. Tidak. Aku tidak sejahat itu. Perangai cintaku yang jahat adalah aku mencintai dua laki-laki pada saat yang sama.


Suatu pagi dan pagar yang makan tanamannya


Pagi ini hatiku tidak karuan. Balfas mengajakku bertemu. Aku bisa menebak. Ini pasti tentang Anjani. Aku tahu. Dalam hal ini Balfas pasti lebih unggul. Tapi aku tidak mau dibilang banci. Bukankah aku lahir dari rahim yang sama? Lombok! Sasak! Pepadu tulen. Petarung sejati. Aku tak mungkin diakui sebagai laki-laki, kalau menghadapi masalah ini saja tak berani. Ah...bukankah Balfas punya kekasih. Rinjani. Mengapa aku tidak ingat dari dulu. Supaya jalanku meraih Anjani mulus. Sekarang saatnya.


Sejarah Putri Mandalika terulang kembali. Dua petarung sejati akan berebut putri. Anjani. Aku dan Balfas akan bertarung. Tapi aku punya senjata yang lebih ampuh. Rinjani.


{Putri Mandalika; putri raja di Lombok. Rela kehilangan nyawa karena tak ingin salah satu dari dua laki-laki yang ia cintai mati. Sebagaimana lazimnya seorang wanita cantik, banyak sekali yang suka dan ingin memperistri dirinya. Dan sang raja tak tahu bagaimana menentukan calon menantu. Akhirnya, diputuskanlah acara tarung-taji. Dua laki-laki akan duel maut. Yang menang, dialah yang berhak mendapatkan Putri Mandalika. Putri tahu hal ini. Sedih. Sangat sedih. Mengutuk kecantikannya. Kecantikanku berbuah malapetaka, katanya pada diri sendiri. Putri kemudian meminta, pertarungan diadakan ditempat terjal di pantai selatan pulau Lombok. Rakyat Lombok berduyun-duyun ke sana. Ingin menyaksikan siapa yang menang. Namun...


"Aku benci keadaanku. Gara-gara aku, dua laki-laki rela menghabisi nyawa saudaranya. Aku mencintai kalian berdua." Putri Mandalika terisak. Menangis. Kemudian menceburkan dirinya ke laut. Lenyap. Dua laki-laki itu pun menyesal. Raja dan rakyat Lombok pun demikian. Ah...mengapa sekali-kali tidak menggunakan akal dalam masalah cinta. Tidak melulu perasaan diperturutkan. Sungguh malang! }


Aku datang dengan Rinjani. Anjani kemudian muncul sendirian. Sementara Balfas tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Barangkali dia tahu aku mengajak kekasihnya, Rinjani. Diam. Tak ada yang bicara. Dingin. Pagi masih basah dengan embun.


Balfas datang. Dia kebingungan karena Rinjani; kekasihnya, ternyata ada juga. Raut mukanya memendam hasrat. Seperti akan merobohkanku. Keris yang kubawa masih berada di ranselku. Aku masih menunggu Balfas bereaksi. Balfas mendekat. Anjani dan Rinjani, tak tahu mau berbuat apa. Di tempat ini, kami hanya berempat.


"Ape melekm kamu, hah?" Balfas memelototiku. Menanyakan apa mauku dengan bahasa Sasak. Supaya Rinjani dan Anjani tidak faham.


"Sai bejulu? Kamu pinak gare-gare." Aku membalas tak kalah garang. Siapa duluan? Kamu yang bikin gara-gara. Bukankah aku yang duluan bertemu dengan Anjani. Kemudian dia datang ingin merampasnya.


"Kojoh'e nane jak!" Mati kamu sekarang! Balfas mengacungkan taji-nya. Aku berkelit. Sabetan kerisku mengenai lambungnya. Balfas jatuh tak berdaya. Aku bingung. Rinjani dan Anjani menjerit. Seharusnya aku bersabar. Seharusnya...Seharusnya...!


***


Kalian jangan bertengkar. Kalimat terakhir yang kudengar dari ayah. Ah...bukankah persahabatan dalam waktu yang sama adalah wajah lain dari permusuhan. Aku yang seharusnya melindungi Balfas, justru kutikam dengan segala kepengecutanku.


Kairo 30 Juli 2006 11:20


Anjing-anjing yang Menggonggong di Telinga Alung

Di suatu pagi buta, Tuan Menjinjing Bumi melihat tiga ekor anjing meloncat keluar dari kamar Alung melalui jendela. Pagi masih sepi dan bau tanah. Embun membasah dan matahari belum memerah.

"Tolong...Tolong..." Tuan Menjinjing Bumi berteriak. Suaranya membelah ceruk damai sebuah pagi. Warga kampung Montong Tangis berhamburan keluar. Kaget. Ada apa gerangan? Pagi-pagi begini, jeritan menusuk telinga. Mengganggu anak-anak yang masih lelap dalam tidur saja.

"Alung. Alung cucuku. Anak yang malang," ucap Tuan Menjinjing Bumi terisak-isak sambil mengusap selaut air mata di wajahnya.

"Kejar anjing-anjing itu," lanjut Tuan memerintah. Dan warga kampung yang semula bengong menonton Tuan Menjinjing Bumi seperti kesetanan berlari. Tiga ekor anjing yang mereka kejar juga berlari secepat kilat. Pagi yang riuh. Para petani tak jadi pergi ke sawah. Dan karena hari Minggu, maka anak-anak sekolah dan guru-guru, juga pegawai negeri, menikmati hari libur dengan tangis dan air mata. Aduh...mengapa pula kematian harus ditangisi?

Sementara kaum laki-laki riuh-rendah mengejar tiga ekor anjing, ibu-ibu dan anak-anak perempuan berhamburan ke kamar Alung. Jerit tangis dan isak duka lara menyayat hati. Alung! Ah andai lidah dan telinga dipelihara dengan baik oleh manusia, tentu nasib buruk tak akan selalu bernyanyi untuknya.

Kamar Alung beraroma amis darah. Mengalahkan bau kotoran dan kencing yang berceceran di sekitar kamar itu. Sekujur badan Alung bersimbah darah. Di lantai keramik yang mengkilat, di dinding kamar yang putih bersih, merah darah segar membasah. Oh anjing-anjing itu! Mengapa pula ia tidak disayangi supaya tidak buas? Supaya hidupnya tidak menjadi racun bagi manusia. Supaya tingkahnya tidak mengundang dendam kesumat di hati warga. Tapi penyesalan, sungguh, tidak pernah menghasilkan apa-apa. Kecuali hanya menambah beban derita.

*****

"Auuu...Auuu...Auuu..." suara Alung melengking. Meniru serigala mengaum di tengah malam. Itu artinya Alung sedang sakau. Berada dalam bayang-bayang yang seram. Mata Alung nyalang. Seperti sorot mata singa gurun nan jalang. Air liur Alung menetes dan tangannya menengadah menyambut. Alung lantas meminum air liurnya sambil tertawa cekikikan. Dan dalam keadaan biasa, Alung pun akan menggonggong layaknya anjing buas. "Guk...guk...guk. guk...guk."

Alung mengalami gangguan sejak Randu, ayahnya, pulang dari Saudi. Semula Alung biasa-biasa saja. Di kampusnya ia adalah aktivis. Tapi seminggu setelah kepulangan Randu sikapnya mulai berubah. Bicaranya tidak karuan dan sebagian besar kata-katanya adalah kutukan terhadap anjing.

"Anjing sialan! Anjing kurang ajar. Kerjanya hanya menggonggong. Guk...guk. Hahaha."

"Ada apa dengan anjing?" tanya Segara yang tidak sadar akan perubahan yang terjadi dalam diri Alung.

Maka Alung akan bercerita dengan antusias.

"Aku mendengar anjing menggonggong setiap saat, setiap waktu. Telingaku tidak bisa mendengar apa-apa. Anjing-anjing itu menggonggongi ayahku. Aku tidak tahu kenapa ayah digonggong. Tapi kata kakek, bau ayah seperti bangkai," terang Alung serius.

Keadaan Alung semakin parah. Di kampusnya, Alung tidak malu-malu buang air besar di tengah lapangan ketika seekor anjing nyelonong masuk. Aku ingin anjing itu makan kotoranku supaya kenyang dan diam. Aku ingin anjing-anjing itu tidak terus-terus mengonggongi Ayah. Begitu kata Alung ketika keamanan kampus membawanya ke kantor. Akhirnya semua orang tahu, Alung tak lagi normal. Ada yang tidak beres dalam diri Alung. Pihak universitas kemudian memanggil Tuan Menjinjing Bumi. Menerangkan keadaan Alung.

"Demi kelancaran kegiatan kuliah, kami mohon bantuan Bapak. Alung tidak bisa kami tangani. Dan baiknya, Alung istirahat untuk sementara."

"Saya mengerti," jawab Tuan, kakek Alung, sambil terisak.

Maka Tuan Menjinjing Bumi membawa Alung pulang kampung. Tapi tidak serta merta keadaan Alung kembali normal. Yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan Alung kini mengubah perilakunya persis seperti seekor anjing. Bila lapar mendengus-dengus. Ketika minum tidak mau memakai gelas. Tapi diberikan di sebuah ember besar. Alung pun akan memasukkan kepalanya kemudian minum glek...glek...glek. Makan juga tidak lagi pakai tangan atau sendok. Alung menundukkan kepala kemudian mulutnya yang kumuh dan bau menyeruput hidangan di piring dengan lahap. Alung juga telah lupa cara buang air. Maka dia buang saja seenaknya, di mana saja dia mau.

*****

Ketika Randu pulang dari Saudi, Alung sedang liburan. Alung menemani Sasmita, ibunda tersayang, di rumah. Sejak kepergian Randu, Sasmita memang selalu gelisah. Apalagi sejak dua bulan Randu tak jelas ada di mana. Dia ditangkap polisi Saudi kemudian dibui. Setelah itu, sepi. Tak ada kabar berita yang sampai pada Sasmita tentang sang suami. Wanita itu pun menjadi setengah gila. Karena itu, ketika liburan, Alung memilih pulang daripada ikut tamasya ke pulau madu, Sumbawa. Duhai...Pemilik Segala, di wajah Alung, air mata Sasmita, menjelma badai pasang yang menenggelamkan seketika.

Dua hari Randu di rumah, keadaan jadi bergairah. Di rumahnya yang beberapa waktu sempat bisu itu, kini sudah terdengar gelak tawa yang renyah. Dua pagi juga, rambut Sasmita yang menjuntai sampai ke betisnya, kelihatan selalu basah. Bahkan ketika tamu sedang tak ada, Randu dan Sasmita, seringkali menyelinap masuk kamar. Dan Alung hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya. Seperti pengantin baru saja, begitu komentarnya.

Tetapi di hari ketiga semuanya berubah. Rambut Sasmita tak basah. Mukanya merah. Sedang wajah Randu, serupa panglima perang yang pulang dalam keadaan kalah.

“Siapa wanita yang datang semalam?” tanya Sasmita tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya.

“Dia itu teman kerja di Saudi.”

“Teman kerja?”

“Iya. Teman kerja. Kamu kok seperti orang curiga saja.”

“Siapa tahu?” suara Sasmita menggantung. “Mita cuma bertanya. Mita cuma ingin penjelasan dari Mas.”

“Semua kan sudah jelas. Penjelasan apa lagi yang kamu maksud?” nada bicara Randu sedikit terangkat.

“Mas nikah dengan wanita itu? Mas telah ceraikan Mita dari jauh sana?”

Senyap. Percakapan tidak berlanjut. Tetapi sepasang suami-istri yang dua hari kemarin menjelma pengantin baru itu menjadi canggung. Mereka lebih banyak diam. Hidup pun menjadi sedingin kutub utara.

Dan yang terjadi, kemudian terjadilah.

*****

Malam lelap. Suara lindap. Rembulan lenyap.

Di kamarnya, yang pintunya berhadap-hadapan dengan pintu kamar kedua orang tuanya, Alung asyik mengupas mangga. Dimakannya dengan lahap mangga yang ia petik tadi sore.

“Mita hanya bertanya, wanita itu siapa?” sebuah tanya terdengar. Membuat Alung mengernyitkan dahi, menajamkan pendengaran.

“Mas kok diam saja? Jawab, Mas. Jawab!” Sasmita menangis.

“Saya sudah bilang dia cuma teman kerja. Mana mungkin saya menikahinya.”

“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.” Tangis Sasmita semakin keras.

Randu hanya diam. Dan kata-kata Sasmita kembali menghujan.

“Mas menikah dengan wanita itu sangat mungkin. Mas pergi bersamanya. Dan itu Mas sembunyikan pada Mita. Mas pergi dibiayai dia. Paspor Mas gandeng dengan dia. Mas bilang ditangkap, dipenjara. Tapi setelah dipulangkan ke Jakarta, Mas tinggal bersama dia. Mas tidak pernah menelepon Mita.”

“Cukup Mita! Kamu sudah mulai kurang ajar.”

“Mita tidak pernah kurang ajar, Mas,” Sasmita sesenggukan. “Mita menuruti semua keinginan Mas. Mita sudah sangat sabar, Mas. Mita maafkan, ketika Mas selingkuh dengan anak tetangga di depan mata. Mita maafkan ketika Mas sering telat pulang karena mengencani si jalang penjaga toko itu. Mita rela tak punya apa-apa asal Mas puas. Merokok tak habis-habis. Belanja ini-itu. Makan enak-enak bersama teman. Mita sangat sabar, Mas. Tapi mendengar cerita tentang Mas dengan pelacur yang semalam, Mita jadi ingin muntah.”

“Ngomong apa-apaan kamu, Mita!”

“Mita sudah tahu semuanya. Semua orang bilang begitu.”

“Tunggu! Kamu dengar dari siapa kalau pasporku gandeng? Itu semua fitnah, Mita.”

“Mita dengar dari pak kades. Mita dengar dari pak camat. Mita dengar dari semua orang!”

Mita bangkit dari duduknya hendak keluar kamar.

“Mau kemana kamu?”

“Mau pulang ke rumah ayah-ibuku!”

Randu meloncat dari kasur mencoba meraih tangan Mita. Mita mengelak. Alung yang dari tadi mendengar perang dunia ketiga bangun dari tempat duduknya. Alung lupa menaruh pisau yang ia gunakan mengupas mangga tadi. Mita yang dikejar Randu membuka pintu dengan tergesa dan hendak berlari kencang. Dalam waktu bersamaan Alung keluar dari kamarnya. Mita pun tak bisa menahan beban badannya dan pisau itu mengenai dadanya.

“Aaaaa....” Sasmita menjerit dan darah mengucur deras.

*****

Sasmita masih tergolek di rumah sakit ketika masa liburan telah habis. Alung pergi dalam perasaan linglung. Randu menjadi sangat pendiam. Tatapannya kosong. Sementara cas-cis-cus menyebar seperti kapuk yang diterbangkan angin.

“Jadi benar dia ceraikan Mita?”

“Mungkin saja.”

“Randu merusak rumah tangga Bunga? Atau sebaliknya?”
“Dulu Randu juga hampir nikah dengan tetangganya. Si Mita waktu itu tahu. Tapi Mita sangat mencintai Randu. Jadi dia dimaafkan.”

“Randu ke Saudi buat jalan-jalan bareng Bunga aja kali.”

“Alung mau bunuh ayahnya. Tapi yang kena ibunya.”

“Mita sekarang gila. Dia di rumah sakit jiwa.”

“Randu itu baik. Nggak mungkin berbuat seperti itu.”

“Dasar si Bunga pelacur murahan. Merusak rumah tangga orang saja.”

“Kalau tak ada api, nggak mungkin ada asap.”

Cas-cis-cus yang lain kemudian datang silih berganti. Menjadi nyanyi yang mengisi sunyi.

*****

Entah bagaimana ceritanya, belum seminggu di rumah sakit jiwa Irok Asek, Alung sudah dipulangkan. Kata dokter, Alung tidak apa-apa. Malah Alung sangat sehat. Tapi kenyataannya, Alung wafat mengenaskan.

Sore itu Alung kembali ke Montong Tangis. Tatap kasihan dari mata tetangga menyambutnya. Alung masuk kamar. Ketika adzan magrib berkumandang, Alung membuka jendela kamarnya. Dia ke dapur mengambil ayam bakar dan ikan goreng. Randu tak di rumah. Sudah beberapa hari, Randu tinggal di masjid. Tuan Menjinjing Bumi pun segera bergegas ke masjid untuk salat. Setelah salat isya, Tuan Menjinjing Bumi tidur-tiduran di teras masjid. Tapi ternyata Tuan ketiduran sampai pagi.

Di kamar, Alung melayani tiga ekor anjing dengan senangnya. Ia ambilkan semua makanan yang ada di dapur. Alung pun ikut makan. Layaknya empat orang kawan yang sangat akrab, selesai makan Alung dan tiga anjing itu pun buang kotoran sam-sama. Ketiga anjing itu rebutan kotoran Alung, Alung pun menjadi sangat puas.

“Makan yang kenyang supaya tidak menggonggong,” ucap Alung sambil mengelus anjing itu.

Karena lelah dan kenyang Alung beserta tiga anjing itu pun tertidur. Tapi setelah subuh Alung terbangun kaget karena ketiga anjing itu menggonggong nyaring. Alung segera lari ke dapur. Tapi karena makanan telah habis kecuali sayur dan tomat, Alung pun mengambil pisau.

Alung ke kamarnya. Anjing-anjing itu mengendus manja.

“Sabar,” kata Alung sambil memotong telinga kirinya. Alung meringis. Alung menangis. Alung tertawa.

"Hahaha...mampus kau telinga setan. Aku tak akan mendengar anjing mengonggong lagi," teriak Alung sementara darah mengucur membasahi sekujur tubuhnya. “Makan yang kenyang anjing, supaya kau tak menggonggong lagi.”

Kini telinga kanan, dipotongnya cepat-cepat kemudian ia berikan pada anjing yang satunya. Karena seekor lagi belum dapat bagian, Alung menjulurkan lidah. Ia potong setengah lidahnya, dan anjing itu pun menyambut kemudian meloncat satu persatu melalui jendela.

Darah merembes. Darah mengalir deras. Suara Alung mengerang seperti sapi di sembelih. Randu masih berdzikir di masjid, sementara Mita menyanyi-nyanyi di rumah sakit jiwa.

Kairo SaQar Quraisy Rabu 01:29 26092007

Kiyai Mafia

Sore yang indah. Matahari belum hendak merebah. Suara burung-burung yang terbang di kaki langit terdengar seperti lantunan musik alam yang merdu. Matahari merah saga beradu dengan air laut yang biru. Menciptakan sebuah pesona yang sangat dahsyat, seperti sebuah pertunjukan maha besar dari tangan pesulap yang memiliki daya magis yang religi.

Hanafi sedang duduk di teras rumah pak Zabadi ketika itu. Ia pulang dari Kairo seperti seorang misionari kristen yang membawa misi khusus mencari domba-domba tersesat. Pak Zabadi menerima Hanafi dengan sangat hormat karena di matanya seorang mahasiswa universitas al-Azhar adalah malaikat suci yang secara khusus dikendalikan oleh tangan Tuhan Yang Maha Mulia.

"Begini, Pak," Hanafi membuka percakapan. "Seperti nama saya, Pak. Hanafi itu artinya kran. Yah kran air seperti di taman itu." Hanafi menunjuk kran di taman. Pak Zabadi manggut-manggut. Sama sekali tidak merasa digurui karena ia sungguh-sungguh kagum pada Hanafi, kiyai muda yang baik hati. Di zaman mendekati kiamat yang sudah kacau-balau ini, orang seperti Hanafi adalah barang langka yang sulit ditemukan.

"Tugas saya hanya mengalirkan, Pak. Karena itulah, saya datang ke sini. Beberapa dermawan kaya-raya di Mesir bermaksud menyalurkan sedikit rizki Allah kepada putri-putri Bapak, murid-murid di sekolah yang Bapak pimpin." Begitu mendengar omongan Hanafi, mata pak Zabadi berbinar-binar seakan ia bertemu malam lailatul qadar yang setara dengan nilai seribu bulan. Ia tak henti-henti mengucapkan rasa syukur kepada Allah. Di negeri Indonesia yang telah menjelma panggung senam poco-poco, berita seperti itu adalah hal yang sangat istimewa. Lebih berharga daripada berita pernikahan perawan tua yang telah lama kesepian.

Kata-kata Hanafi, sang kiyai muda yang baik hati itu, telah menghipnotis kesadaran pak Zabadi. Ia terbius. Setengah akal sehatnya seakan hilang dibawa angin gurun yang berbisa. Ya Allah, andai saja ada ribuan orang seperti Hanafi yang mau berbagi dengan sesama, tentu kami tak perlu minta supaya kiamat disegerakan. Pak Zabadi menggumam karena lupa bahwa kata andai saja adalah kosa kata paling sial di dunia maupun akhirat.

"Saya bisa saja mengumpulkan seluruh keluarga dan teman-teman saya untuk dibawa ke Kairo. Tapi saya harus adil. Tidak boleh ada nepotisme dalam catatan hidup saya. Saya hanya mencari orang yang membutuhkan. Di Kairo, kuliah gratis. Malah kita diberi uang setiap bulan. Beasiswa datang hampir dari setiap saku orang Mesir. Mahasiswa di sana menerima uang setiap bulan seperti anak kecil yang mengumpulkan daun-daun yang rontok di musim gugur. Buku murah-meriah, lebih murah daripada uang parkir di Indonesia. Dengan seribu rupiah, kita sudah bisa mendapatkan buku setebal 300 halaman."

"Terus biaya ke Kairo bagaimana, Kiyai?"

"Jangan panggil kiyai, Pak. Saya ini orang biasa." Hanafi bersikap sangat tawadhu'. Sesuatu yang membuat pak Zabadi semakin kesemsem. Bukankah zaman sekarang banyak yang mengaku-ngaku sebagai kiyai supaya dianggap suci?

"Para dermawan itu sebenarnya akan mengongkosi, tapi saya tidak enak. Masa dikasih hati, kita minta jantung. Saya bilang pada mereka bahwa ongkos ditanggung sendiri." Pak Zabadi manggut-manggut mendengar penjelasan Hanafi.

"Terus apa yang bisa kami lakukan untuk membalas budi mereka?" Pak Zabadi bertanya dengan wajah gelisah. Ia yakin haqqul yaqin bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang diberikan secara gratis.

"Mereka adalah orang-orang yang sangat ikhlas. Bapak tidak usah memikirkan itu. Mereka tidak mencari ketenaran, balasan atau ucapan terima kasih, apalagi pamrih-pamrih politik seperti yang biasa terjadi di negeri kita. Bapak cukup mendoakan saja."

"Masyaallah, ini seperti di negeri dongeng saja. Seumur hidup, rasanya baru pertama kali saya mendengarnya." Hati Hanafi berbunga-bunga mendengar komentar pak Zabadi. Ia pun lantas berpamitan. "Masalah biaya kita bicarakan lain kali," kata Hanafi sambil berlalu.

Pagi harinya, sebelum bel masuk kelas berbunyi, pak Zabadi berbicara pada murid-murid kelas akhir. Murid-murid itu berwajah memelas dengan hati yang selalu dirundung cemas. Mereka adalah generasi yang dibesarkan dari sisa-sisa anggaran negara yang dikorupsi oleh para pejabat. Pak Zabadi menceritakan bahwa kemarin sore ia didatangi malaikat pemberi kabar gembira, seorang mahasiswa universitas al-Azhar di Kairo. Sekumpulan murid perempuan itu kemudian sibuk berspekulasi dengan imajinasi masing-masing. Mereka mengkhayal nakal. Membayangkan lelaki yang mendatangi kepala sekolah mereka itu, kini sedang bercinta dengan diri mereka.

Mereka berdecak-kagum mendengar cerita pak Zabadi. Nama Hanafi kemudian mekar di hati mereka seperti bunga-bunga di musim semi.

*****

"Mau kuliah ke Kairo?" suara Mang Ashab serak. "Apa kamu tidak melihat ibumu yang semakin tua dan mulai sakit-sakitan. Kamu juga tidak sebentar di sana. Pasti butuh biaya yang sangat banyak." Ia menatap gadis semata wayangnya.

"Ayah tidak usah memikirkan biaya. Halawah akan dibiayai oleh dermawan Mesir. Halawah hanya perlu menyiapkan uang sepuluh juta untuk ongkos." Halawah menunduk. Tak kuasa menatap bening cinta di mata ayahnya.

Mang Ashab sebenarnya ragu. Ia takut kesepian bila ditinggal pergi oleh putrinya. Tapi Tokmiyah, istri Mang Ashab berkata, "Sudahlah, Kang. Si Halawah diijinkan saja ke Kairo. Kita kan hanya perlu menyiapkan ongkos. Perhiasanku bisa kau jual. Kasihan kalau Halawah tidak sekolah. Apa jadinya kalau dia hanya di rumah. Paling-paling hanya menemui pemuda yang ngapel setiap malam." Tokmiyah meyakinkan suaminya. Kata-katanya yang lembut adalah titik kelemahan Mang Ashab yang paling fatal. Mang Ashab tak pernah mampu menolak permintaan istrinya.

Halawah kemudian berangkat bersama enam orang temannya. Wajah mereka basah karena menangis. "Yang sabar, Halawah. Kami selalu mendukung kamu, Sayang. Raih semua mimpimu dan lekas pulang. Ibu menunggumu." Miya memeluk erat putrinya. Ia merasa setengah nyawanya kini akan hilang. Ia tak sadarkan diri dan tumbang ke pelukan Mang Ashab. Halawah menghapus air mata yang berjatuhan di pipinya yang ranum memerah.

"Kita akan terbang ke Jordania karena semua pesawat yang ke Kairo sudah penuh." Hanafi menjelaskan karena tujuan yang tertera di tiket mereka adalah Jordania, bukan Kairo. Ketujuh gadis itu hanya mengangguk karena tak ada kata lain di hati mereka kecuali takjub pada kebaikan Hanafi.

Seminggu di Jordania dan ditempatkan di hotel mewah tak membuat syak-wasangka di benak gadis-gadis belia itu. "Besok pagi kita semua akan berangkat ke Kairo. Kalian akan disambut oleh para dermawan kemudian tinggal di rumah mereka. Kalian akan diantar-jemput ke kuliah oleh mereka. Saya harap kalian membantu mereka walaupun tak diminta. Tidak usah yang berat-berat. Sekedar mencuci piring atau mengepel bukan hal yang sulit kan?" ujar Hanafi sambil tak lupa tersenyum.

*****

Mang Ashab menangis keras sambil memeluk nisan hijau berlumut. Miya atau Tokmiyah, istrinya yang tercinta, telah hijrah ke akhirat dua tahun lalu, tepat setelah empat tahun kepergian Halawah ke Kairo.

"Aku ragu saat itu, tapi permintaanmu tak pernah bisa kutolak." Air mata Mang Ashab mengalir deras. Besoknya ia pergi menemui pak Zabadi.

"Saya mohon pak Zabadi membantu saya. Saya sudah tak punya siapa-siapa. Istri saya sudah tiada. Halawah sudah enam tahun ke Kairo. Saya takut, saya khawatir. Saya tidak siap kehilangan lagi." Mang Ashab mengiba pada pak Zabadi.

Pak Zabadi berangkat ke Kairo dan mendapati dirinya menjadi orang paling malang sedunia. Seandainya aku tak percaya bualan bajingan itu, ceritanya tentu tak akan begini. Pak Zabadi menyesali diri begitu tahu bahwa Halawah dan teman-temannya diperdagangkan.

"Menurut catatan KBRI, keenam teman Halawah sudah pulang. Hanya Halawah sendiri yang hilang tanpa jejak. Hanya..." Pak Zabadi seperti ditindih langit begitu mendengar penjelasan pak Sutuh. Ia jatuh pingsan.

"Kok ada mahasiswa al-Azhar seperti itu?" Pak Sutuh berujar. Ia lupa bahwa di jaman Nabi Muhammad, ada Abu Jahal dan Abu Lahab. Pak Sutuh tidak ingat bahwa manusia berdiri di persimpangan kemungkinan. Kemungkinan menjadi malaikat atau kemungkinan menjadi iblis. Hanafi telah memilih menjadi yang kedua tak perduli ia mahasiswa al-Azhar sekalipun.

Kairo, Ahad 18:32, 24022008.

Friday, August 22, 2008

Tak Lari Piramida Kukejar

Matahari mendaulat dirinya menjadi raja siang. Ia panggang dengan angkuhnya wajah Kairo yang kumuh berdebu. Langit merah menyala. Gugus api mulai menjilati negeri seribu menara. Musim panas telah tiba dan aku menggeliat serupa ikan tawes di atas bara. Tubuhku yang kering kerontang mencoba bertahan di atas panggung pancaroba. Darah di ubun-ubunku serasa ditaburi batu yang dibawa burung ababil dari neraka. "Ya Allah, terima kasih Kau anugerahkan surga Indonesia bagiku. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang aku syukuri? Astagfirullah!" gumamku sambil mengusap peluh di wajah dan teringat betapa sejuk nan indahnya Indonesia.


Satu jam sudah terlewati. Bis delapanpuluh coret tak juga menghampiri. Aku masih setia berdiri. Barangkali…Barangkali…Seribu barangkali. Sejuta kemungkinan tentang bis yang akan datang sebentar lagi, kutanamkan dalam benakku untuk menghibur diri. Tapi sia-sia belaka. Angan itu tak jua menjadi nyata. Sedang kakiku rasanya semakin pegal linu.


*****

Tiga musim panas telah memanggangku. Tiga musim dingin telah memenjarakanku. Sekarang adalah musim panas keempat bagiku. Dan transportasi adalah satu dari sekian banyak hal yang membuatku kecewa di Kairo ini. Selain tentu saja sewa rumah yang semakin mahal. Tuan rumah yang super cerewet. Antri di setiap urusan. Administrasi kuliah yang amburadul. Orang Mesir yang resek. Dan lainnya. Dan lainnya. Maka sungguh kurang ajar Ayah yang telah membuangku ke kota Firaun ini!


"Lando, kemana saja kamu?" Bily meninju lenganku dari belakang. Aku tidak sadar Bily sudah di sampingku.


"Sial! Kamu yang ke mana saja?" balasku sambil menyikut perut Bily dan dia mengaduh kesakitan. "Kamu baik-baik saja bukan?" lanjutku.


"Alhamdulillah. Bertemu kamu, aku jadi bersemangat hidup. Padahal dari rumah aku sudah loyo," jelas Bily dengan mimik sangat serius. Setelah itu. "Hahaha," kami berdua tertawa renyah. Melupakan sejenak penat hidup lalu kembali gelisah.


"Mau ke mana sekarang?" tanya Bily.


"Mau ke kampus?"


"Hahaha. Tumben!"


Aku tersenyum kecut mendengar kata-kata Bily. Tumben! Memang benar. Setelah ujian selesai, baru kali ini aku hendak ke kampus. Aku terjebak di lingkaran setan yang menanggap kampus telah berubah fungsi menjadi bank tempat mendulang uang. Dikunjungi sekali sebulan ketika minhah turun. Aku telah terperosok dalam jurang kutukan yang melaknat kampus sebagai lembaga sosial yang menyediakan paket rihlah gratis. Didatangi sekali setahun ketika akan memperpanjang visa. Hanya minta tashdiq kuliah. Agenda kampus semacam kuliah bersama dosen, orasi ataupun diskusi ilmiah, dan segala pernik kegiatan kemahasiswaan hilang entah ke mana.


"Mau lihat natijah," kataku singkat. Pikiranku kemudian menerawang ke masa silam. Kini dua kartu kuning telah kukantongi. Dua kali pengumuman dengan nilai yang sama. Manqul membawa delapan maddah. Istilah lain untuk rosib! Rosib sekali lagi maka riwayatku akan tamat. Dan yaumul hisab itu kini di depan mata! Ya Allah, luluskan aku. Doaku membatin.


*****

Bis delapan puluh coret datang. Penumpang meluber. Sesak! Bahkan banyak yang bergelantungan di pintu. Sebagian besar adalah wajah-wajah Indonesia. Aku berusaha masuk. Sayang, aku tertahan. Kemudian turun.


"Hahaha," Bily kembali tertawa. "Naik taksi saja yuk," ajaknya.


"Taksi! Kami mau ke Al-Azhar."


"Ok. Silahkan," sopir taksi berkepala botak dengan perut buncit itu menyilahkan. "Kalian orang Indonesia?" lanjutnya.


"Iya. Kami orang Indonesia."


"Apa kerjaan orang Indonesia di sini?" tanyanya.


"Maksud Anda?" balasku dengan nada geram. Bily cuek saja membaca novel 'Kitab Omong Kosong' karya Seno Gumira Ajidarma. Bagi Bily, melayani basa-basi orang Mesir sama saja dengan mendengarkan kentut. Tidak ada gunanya!


"Aku heran dengan kalian orang Indonesia. Katanya butuh bantuan. Negara miskin. Tapi kenapa kalian memiliki hp yang bagus-bagus. Penampilan kalian borju. Kalian mengaku jadi mahasiswa Al-Azhar tapi baru-baru ini aku baca di koran An-Naba' ada teman kalian yang menjadi..."


"Tunggu! Anda jangan sembarangan kalau ngomong. Kata-kata Anda sama saja dengan suara keledai." Kemarahanku memuncak. "Sudah, nggak usah dilayani. Itu semua omong kosong!" ujar Bily tanpa beralih dari bacaan 'Omong Kosong'-nya.


"Tidak bisa begitu, Bil. Jelas-jelas dia memfitnah. Apa itu akan kita biarkan? Apa lagi ini menyangkut kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia," jawabku tegas. "Hei orang Mesir. Mana bukti ocehanmu? Tidak ada kan!"


"Aku hanya ingin kamu tahu. Nih..." sopir botak itu menyodorkan koran An-Naba. Dengan teliti kubaca kata demi kata. Dan...Astagfirullah! Aku memekik kaget. Dosa apalagi yang hendak ditimpakan pada wajah negeriku yang kusut dan tak berdaya? Kali ini perhatian Bily langsung buyar. Disambarnya koran An-Naba yang sedang kubaca.


"Gila. Kacau! Hancur Indonesia kalau ini benar terjadi!"


"Bagaimana orang Indonesia?" suara si botak seperti mengejek.


"Itu belum tentu benar!" belaku tegas.


"Hehehe. Aku hanya mengingatkan. Kalian jauh-jauh datang ke Mesir jangan jadi munafik. Di sini main-main, masa' pulang jadi dai. Itu kan lucu. Aneh!" kata-kata si botak tepat menghunjam di ulu hatiku. Aku dan Bily diam saja. Sesekali hanya nafas panjang kami yang terdengar. Berhembus berat seakan sesak menahan beban. Dan tak terasa taksi sudah sampai di gerbang kampus Al-Azhar.


"Bawa saja korannya," teriak si botak begitu kami keluar dari mobilnya.


Aku melangkah gontai. Obrolan setan dengan si botak tadi masih terngiang di telingaku.


"Bily, kita ke KBRI saja abis ini. Menanyakan masalah yang barusan. Biar jelas. Kalau itu benar-benar ada minta aja dipulangkan orangnya. Tapi semoga saja itu hanya kabar burung. Kalau demikian, tuntut saja koran sialan itu!" kataku bersemangat.


Aku kemudian menuju papan pengumuman. Kulihat teman-teman berkerumun di sana. Wajah-wajah sumringah karena najah. Lainnya kulihat wajah-wajah lesu dan memelas karena nasib baik belum berpihak. Kucoba mencari nomor ujianku. Dan...dunia serasa berputar. Kakiku seakan tak berpijak di tanah. Kini satu kartu kuning lagi kuterima. Berarti tiga kartu kuning telah kukantongi. Satu kata di otakku. Pulang! Tiada lagi kata yang pas untuk gelar mafsul Al-Azharku.


"Lando, jadi ke KBRI?" Bily menghampiri.


"Iya," jawabku tak bergairah.


"Kamu kenapa?"


"Riwayatku tamat. Saya mafsul. Saya mau pulang, Bily."


"Pulang ke mana? Indonesia?"


"Ke mana lagi? Aku juga di sini nggak bisa ngapa-ngapain. Kamu bagaimana?"


"Alhamdulillah, seperti tahun lalu. Jayyid jiddan. Kalau aku boleh usul kamu coba lagi. Jangan pulang dulu. Aku yakin kamu bisa."


Di kantor KBRI kami diterima dengan ramah oleh bapak Andi. Bily menjelaskan dengan seksama apa yang dia baca di koran An-Naba. Aku hanya mendengarkan. Aku seperti kehilangan tenaga. Oh...Rosib. Oh...Nasib!


"Terima kasih atas informasinya. KBRI akan menindaklanjuti secepatnya. Sampai sekarang belum ada laporan dari amn daulah. Biasanya kalau ada masalah, amn daulah pasti melaporkan ke pada kita."


"Iya. Soalnya ini masalah yang sensitif dan menyangkut nama baik bangsa kita. Kami khawatir kalau tidak ada tindak lanjut akan berdampak buruk."


Kami keluar setelah semua selesai. Bily mengajakku jalan-jalan ke pinggiran sungai Nil. Aku diam saja memandang air yang mengalir tenang. Kulihat burung-burung terbang rendah. Pikiranku kembali ke masa silam. Tiga tahun kini tanpa hasil apa-apa.


Sungguh salah kuanggap kuliah tanpa absen adalah surga untuk lupa waktu lalu terlena. Sungguh berdosa menjadi pecundang karena jauh dari pantauan orang tua. Sungguh celaka! Bahkan tiga tahun telah sia-sia karena di Kairo ini, kerjaku hanya poya-poya. Hura-hura. Ber-chating ria. Berselancar di dunia maya. Main game. Setelah bosan dan jenuh lalu terlelap di dunia mimpi bersama bidadari. Ahai…inikah aku kader bangsa yang ditunggu Nusantara? Penyesalan, bagaimanapun juga sungguh menyakitkan!


"Bily, besok bantu saya cari rumah di Thantha. Aku mau melanjutkan kuliah di sana," pintaku mengiba pada sahabatku, Bily.


"Kamu tidak jadi pulang?" tanya Bily ragu.


"Kalau aku sungguh serius, tentu kata orang bahwa kuliah di Al-Azhar itu sulit hanya mitos belaka. Aku yakin itu. Lagian mau pulang juga aku belum punya bekal apa-apa. Bahkan dzikir setelah salat saja aku belum lancar. Kecuali kalau aku hendak menjadi sampah masyarakat. Aku ingin berusaha mencari sebentuk oleh-oleh untuk Indonesia," terangku dengan serius. Aku merasa bebanku telah berkurang. Bily memandangku dengan mata berkaca.


Langit sebentar lagi gelap. Malam pun merambat senyap. Berita duka selamanya membuat waktu berjalan sangat lambat! Bumi pun pucat.


Saqar Quraisy Rabu 7:35 08082007

Ada Lagi yang Dirampok!

"Hidup telah ternoda jika Anda tidak merasakan rasa aman."

Dia perempuan. Lebih muda dari aku. Menikah tahun lalu. Tengah hamil tua. Keluar dari rumah pagi-pagi. Berangkat dengan niat suci. Jam sudah menunjukkan pukul enam. Kesimpulannya itu berarti sudah pagi. Dia hendak pergi mengaji. Ketika menunggu mobil hp-nya dirampok. Ia terpelanting ke tembok bangunan. Kepalanya lebam dan benjol. Di benakku terbayang wajahnya. Rasa cemasnya. Trauma yang menghantuinya. Juga kekhawatiran terhadap janinnya. Ya Allah, lindungi kami.

Thursday, August 21, 2008

Mulai Menulis

Di awal 2008 aku mendapat kejutan. Puisiku kembali dimuat di Suara Pembaruan. Bulan berikutnya cerpen lama yang iseng-iseng kukirim ke Banjarmasin Post juga dimuat. Aku mendapat angin segar dan semangatku seperti menyala. Sayang, penyakitku kambuh. Aku hilang gairah. Aku seperti pejalan yang terlunta; tak tahu mesti berbuat apa. Naskah buku yang sedang kuterjemahkan hilang. Hatiku semakin hancur ketika satu persatu kabar angin tentang keluargaku masuk ke telinga.

Aku bukan laki-laki seperti dulu lagi. Kataku dalam hati. Aku begitu lemah dan tertatih. Aku ingin pulang. Aku ingin sudahi saja kelana-ku. Aku ingin lepas dan istirah. Apatah lagi ada gairah untuk menulis. Menghadapi hidup saja aku sudah malas.

Waktu berjalan dan nasib baik berbisik padaku. "Kamu di sini saja. Percuma pulang ke Indonesia. Kecuali kalau kamu mau jadi pecundang." Ah...masih ada yang mau menasehati. Tapi aku tak bergeming. Kucari teman-temanku di UGM. Kuhubungi adikku yang juga kuliah di sana. Untuk program S1 ijazah kamu sudah kadaluarsa. Oh Tuhan! Aku sungguh belum merasa merdeka menjadi bagian dari bangsa Indonesia jika diperlakukan seperti ini. Siapa pula yang bikin undang-undang bahwa ijazah hanya berlaku tiga tahun dan selepas itu basi. Sial!

Aku menyerah. Dan aku ketiban berkah. Aku menikah. Aku punya komputer. Aku bisa menulis setiap saat sampai tanganku beku dan kaku. Aku bisa mencapai apa yang selama ini aku cita-citakan. Aku ingin jadi penulis!

Siang hari mengganas. Jalanan mengeluarkan asap neraka. Aku hendak pergi ke asrama Buus ketika bertemu kawan lama. Ia teman seangkatanku. Ia lulus tahun ini dan akan pulang. Di dalam hati aku berujar lirih, "Kapan aku lulus kuliah?"

Kami pun mengobrol lama. Kusisihkan novel "Cannery Row" John Steinbeck yang kucuri dari rumah seorang kawan. "Selamat kamu lulus tahun ini. Bagaimana selanjutnya? Mau s2 di sini?" tanyaku sambil mengusap peluh yang menggantung di bulu mata.

"Tidak. Aku ingin pulang. Mencari kerja." Jawabnya lugas dengan nada optimis. Raut wajahnya cerah.

"Mau ke mana sekarang?"

"Mau ke Jamiyyah Syariyyah. Mau mengajukan permohonan buat tiket pulang." Ia menjawab sambil sesekali memandang ke jauh sana, memicingkan mata untuk melihat bis yang tak kunjung datang. "Bagaimana istrimu sekarang? Apa kamu sudah dapat kerja," tanyanya lagi.

"Istriku di rumah baik-baik saja. Itulah, aku sedang mencari pekerjaan. Kamu ada informasi?" Ia lantas menceritakan beberapa peluang kerja. Ia menyebut nama-nama yang bisa kuhubungi. Tapi diujung kalimatnya ia membuatku seperti bangun dari mimpi indah dalam tidur panjang.

"Kamu kan bisa menulis. Kembangkan saja potensi yang kamu miliki. Aku yakin kalau kamu berusaha kamu pasti bisa. Tinggal cari link, kamu menulis, dan menulis."

Sejam berlalu. Panas matahari semakin menggila. Bis tak kunjung datang. Aku pun urung pergi. Aku pulang. Melanjutkan bacaan hasil seni tanganku yang gatal.

Besoknya aku pergi ke Buus. Syukur tiada terkira aku langsung dapat bis. Aku kembali bertemu kawan-kawan lama. Di Buus pun aku bertemu sahabat karib. Kami mengobrol ini itu. Ia membicarakan niatnya untuk hajji, menceritakan beberapa rencana masa depan, juga meminta pendapatku mana yang terbaik; pulang dan berjuang di masyarakat atau terus kuliah melanjutkan s2. Hm... ia menikmati hidup dengan seni yang nyaris sempurna. Lulus kuliah, pergi hajji, pulang bertemu keluarga. Indah sekali!

"Apa kegiatanmu?" tanyanya memecah sunyi.
"Tidak ada. Hanya membaca buku."
"Kamu masih menulis bukan? Kamu bisa menulis. Kamu asah kemampuanmu. Penulis-penulis besar juga dulunya berawal dari nol."

Ya Allah, terima kasih Kau kirimkan untukku teman yang baik hati. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Duduk di depan komputer. Berselancar di dunia imajiku. Menulis mimpi-mimpi yang berserakan. Ada yang bertanya kenapa kamu lebih suka menulis fiksi? "Karena fiksi itu tak mempunyai batas. Aku punya jutaan cita-cita dan tak mungkin kugapai semuanya. Di dalam fiksi aku bisa mencapai semua cita-cita dan mimpiku lewat tokoh yang aku ciptakan."

Mulailah menulis. Anda tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk memulai sesuatu. Tapi dengan memulai, tidak mustahil Anda akan menjadi hebat.

Tuesday, August 19, 2008

Bulan Madu di Kairo

"Untuk apa kamu ke Mesir?" tanya seseorang empat tahun lalu, ketika aku pertama kali datang ke negeri debu ini. Aku diam sejenak.

"Aku mencari semuanya. Mencari ilmu, rizki, juga barangkali istri," jawabku santai. Tentu jawaban yang kedua dan ketiga adalah hal yang konyol. Bagaimana aku akan mencari rizki (uang) padahal di sini pengangguran juga banyak. Apalagi sampai mencari pasangan hidup. Oh Tuhan, mengurus diri sendiri yang tak karuan saja aku tak mampu, bagaimana mengurus istri.

Waktu berjalan. Sekarang aku tersenyum sendiri dengan jawabanku itu. Yah, dua yang terakhir sudah aku dapatkan. Aku bisa mendapatkan uang karena bekerja di rumah makan, juga belajar menulis dan menerjemah. Dan sekarang aku sedang berbulan madu. Aku menikah 3 Juli lalu di Kairo. Jawaban yang pertama justru masih belum kudapatkan. "Kata adalah doa!"

Ya Allah, terima kasih atas anugerah yang terindah ini.

Pulang

Aku pulang
setelah lama menghilang

Wah, rasanya bila sudah berjalan, aku sampai lupa jalan pulang. Rumahku tak terurus. Banyak yang bertandang dan kemudian kecewa. Masih seperti dulu, katanya sambil berlalu. Ahai...maaf, Tuan.

Lama sekali aku tak memperbarui blog ini. Aku tidak tahu mengapa aku malas sekali menulis. Jariku sepertinya sudah beku tak kuasa menari. Otakku rasanya sudah tumpul. Tak ada cerpen yang aku hasilkan. Rancangan novel yang sudah seratus halaman pun terbengkalai tak terurus. Aku butuh berjalan agar otakku tak tidur. Aku butuh buku agar jariku tak mati. Bantu aku teman.