Friday, October 26, 2007

GERIMIS RINDU


Apabila suatu ketika hadir di hati seorang manusia sedetak rasa yang memanggil-manggil akan kehadiran, apakah namanya rasa itu? Rasa yang menjelmakan senyum simpul karena bayang-bayang. Yang kadang juga tak jarang dilambangkan dengan tetes bening air mata. Bukan karena duka dan kesedihan, melainkan cinta dan kasih yang memohon munajat. Bilakah 'kan berjumpa?

Yah...sebuah rasa itu adalah kerinduan.

Kemanakah kerinduan itu lalu mengalir? Segenap jiwa mengumpulkannya dalam keinginan. Dan kerinduan merambah ke segala. Yang tua maupun muda merindu. Bayi mungil merindukan belaian manja tangan halus ibunya. Sang ibu merindukan dekapan mesra suaminya. Suami pun merindukan pelukan kasih sayang dari bunda anak-anaknya.

Kerinduan-kerinduan yang berkejaran dalam kehidupan. Dalam setiap napas yang berhembus. Kemudian menciptakan sejarah, filsafat, agama dan apa saja. Hanya karena semua merindu. Segenap manusia merindukan kadamaian, walaupun mereka masih bingung menentukan kebahagiaan apa yang dimaksud. Juga karena kebahagiaan mengandung keambiguan makna dan setiap diri menafsirkannya dengan merdeka. Apakah kebahagiaan yang dirindukan? Padahal hampir dalam setiap doa lidah-lidah bergumam: "Berikanlah kebahagiaan dunia akhirat".

Semua merindu. Lalu apakah Tuhan juga merindu? Padahal Dia adalah Tuhan. Apakah Dia merasa sepi kemudian merindu? Apakah Dia merasa kurang sesuatu? Atau memang kerinduan-Nya tak beralasan sama sekali.

"Aku merindukan kafilah sebagai perwakilanKu di bumi." Pesan kerinduan yang didengar malaikat-malaikat yang selalu beribadah.

"Apakah hendak Kau ciptakan sesuatu yang akan berfoya-foya dengan kemegahan dunia? Yang hobi saling makan sesamanya. Yang bangga meminum darah segar saudaranya yang ia sembelih sendiri. Padahal kami tak pernah berpaling dari kepasrahan diri untuk sebuah peribadatan kepadaMu."

Suara sumbang malaikat. Perlambangan suasana kecemburuan sosial belaka, barangkali. Suara untuk memprovokasi Tuhan meredam kerinduanNya. Tapi bila kerinduan telah menjerit tiada lagi alasan untuk mengelak.

"Aku lebih mengerti apa yang kau tak mengetahui tentangnya." Diplomatis dan membunuh. Mau menjawab apalagi malaikat-malaikat itu untuk meredam kerinduan Tuhan. Atau mereka hendak mengikuti saudara iblis terkutuk. Yang terbuang dari syurga lalu merindukan kesesatan manusia sebagai teman bercengkrama, berjingkrak-jingkrak atau nonton bioskop twentyone untuk melihat film-film box office terbaru di neraka kelak.

Kerinduan itu pun menjelmakan Adam dan dialah kemudian yang menjawab sikap arogan malaikat.

Sebuah episode dalam gerimis rindu yang misteri.

"Maha Suci Engkau Yang Maha Mengetahui, mengajarkan apa yang kami tak fahami." Malaikat pun berucap lirih.

Pemuliaan Tuhan terhadap apa yang Dia rindukan pun telah menciptakan sejarah hitam pekat bagi sebagian yang lain. Sang perindu memang harus berkorban banyak hanya untuk sesuatu yang ia rindukan.

"Berikanlah penghormatan kepada Adam." Tuhan memerintah.

Maka setelah kalimat itulah kenikmatan manusia di syurga terancam. Kesombongan yang menyelimuti iblis merajalela dalam makar yang ia mintakan kepada Tuhan.

"Ijinkan kami untuk mencari teman dari manusia."

"Carilah semampumu"

Sebuah usaha yang dijalani sejak sumpah itu. Sumpah iblis terkutuk kadang lebih bisa dipercaya dibanding manusia jaman ini. Sementara angkara iblis membara, Adam merindukan melati sebagai pendamping menikmati kelezatan syurga.

"Percayalah, ini perintah Tuhan yang dititipkan kepadaku. Makanlah buah dari pohon khuldi itu"

"Maafkan kami Tuhan." Penuh penyesalan Adam dan Hawa memohon grasi.

Sebuah tipuan telah menjerumuskan manusia sehingga tak menyadari statusnya yang istimewa. Tuhan Maha Adil. Walaupun pada mulanya manusia sangat Dia rindukan tapi dalam hukum semuanya sama. Adam dan Hawa pun terdampar di dunia. Maka perhelatan pertandingan kehidupan dimulai dari sini. Manusia terombang-ambing dalam dua kerinduan. Kerinduan akan kebaikan dan kejahatan.

Grasi yang diajukan Adam dan Hawa karena pelanggarannya terhadap perintah Tuhan ditolak mentah-mentah. Keduanya harus puas dengan diasingkan dari syurga ke ring kehidupan yang dinamakan dunia. Pengasingan keduanya ke dunia sungguh sangat menyedihkan. Keduanya harus sabar menahan kerinduan-kerinduan yang menggelitik karena Tuhan menempatkan mereka secara terpisah. Resah gelisah menghantui.

"Oh Adam, linangan air mata tak cukup mewakili kehadiran dirimu."

"Duhai Hawa, kemana lagi akan kutuntun langkahku 'tuk mengais senyummu."

Tuhan kemudian menjodohkan mereka dalam pertemuan yang diskenariokan sendiri. Kerinduan Adam dan Hawa mempertautkan sempalan-sempalan syurga ke dunia.

"Biar Aku hadiahkan syurga-syurga mungil bagi kalian di dunia ini."

Syurga-syurga mungil itu kemudian diwariskan kepada kelompok besar anak cucu keduanya di belahan asia tenggara. Syurga-syurga mungil itu adalah bumi agung Indonesia.

"Nampaknya dari hamba-hambaKu yang pertama kali akan Aku perhitungkan kesyukurannya adalah orang-orang Indonesia. Indonesia adalah percikan syurga."

Manusia-manusia di belahan bumi yang lain mendengar desas-desus kalau Tuhan telah menurunkan percikan syurga ke dunia.

"Persiapkan pasukan kita. Kita akan bertolak ke asia. saya dengar Tuhan telah menaruh cipratan syurga di sana." Suara lantang raja kompeni Belanda.

"Percayalah kami adalah utusan Tuhan yang juga diwarisi syurga ini." Para pendatang merengek-rengek, merayu ahli syurga yang sah menurut tatanan hukum.

Sikap ramah dan kasian ahli syurga kepada tamunya sungguh sangat tinggi.

"Tak apa-lah kita nikmati bersama."

Tiga setengah abad lamanya tamu-tamu itu ternyata keenakan. Mereka enggan pulang ke rumah. Di sela waktu-waktu perjamuan yang lumayan lama itu, masyarakat ahli syurga diajarkan berbagai keterampilan. Termasuk bagaimana cara merampok yang cerdas. Yang tidak dirasakan perampokan oleh korbannya.

"Ini tamu kalau tidak kita usir lumayan juga. Kita telah miskin dibuatnya."

"Jangan gitu dong. Kita kan terkenal peramah."

"Tidak bisa. Kapan-kapan kita ramah lagi. Tapi sekarang ini dengan berat hati kita harus bertindak. Lagian syurga ini kan hadiah Tuhan untuk kita."

Baru saja tamunyaberhasil diuruh pulang, datang lagi yang lain.

"Maaf kami tidak menerima tamu lagi sekarang." Nipon ditolak. Tapi akhirnya, Nipon juga mampir sebentar. Sekedar ngobrol, minum kopi dan menghisap cerutu. Jamuan paling khas ahli syurga.

"Wah, sekarang kita tidak mungkin kedatangan tamu lagi. Di pintu sudah kita tulis: 'Tidak menerima tamu.' Mari kita nikmati syurga kita." Disambut riuh bahagia ahli syurga.

"Tolong syurga ini dibagi-bagi." Daulat kepala suku di republik syurga.

Ahli syurga kemudian hidup agak tenang. Walaupun kepala suku minta upeti dari seluruh dusun-dusun tak terlalu dipersoalkan.

"Kalau begini terus kita lama-lama akan mati. Ini kan bagian kita." Suara penduduk firdaus yang terkenal dengan sebutan Aceh.

"Ah, tidak bisa. Semua harus memberikan upeti." Keserakahan meliputi jiwa kepala suku.

"Jendral. Siapkan pasukan. Beri mereka pelajaran!"

"Siap, Bos. Semua akan dibereskan"

Kuliah pun dimulai. Pelajaran yang diberikan utusan kepala suku tidak bisa diterima oleh sebagian otak warga firdaus.

Aceh bergejolak. Suara-suara jangkrik, kokok ayam dan ringkikan kuda berganti suara senapan, bedil, dan raungan tank. Warga syurga ini menjadi prihatin. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kalau pun ada lidah yang lantang menentang maka esoknya lidah itu pun akan menjadi santapan semut. Ibu-ibu juga dipaksa menentang rasa berdosa kalau harus berbohong kepada anak mereka yang iseng bertanya.

"Bu, itu suara apa di luar rumah." Sang anak menanyakan batuk-batuk senapan perang saudara.

"Tidur saja nak. Itu nyanyian malaikat"

"Malaikat bernyanyi ya, Bu"

"Malaikat juga bernyanyi seperti Amin di sekolah." Hibur Bunda sembari menahan tetes air mata.

Keletihan jiwa telah melelahkan warga firdaus. Apakah yang dapat mereka lakukan? Hanya menjerit kepada Pemilik syurga itu. Sembab air mata yang bergumam di antara sujud dan sujud.

"Ya Allah. Hanya kepada-Mu aku berkeluh kesah. Apakah Kau tak tahu kalau aku merindukan kedamaian? Tuangkan kedamaian itu pada syurga ini. Damaikan, ya Allah."

Tuhan mendengar keluh-kesah hambaNya.

"Aku merindukan warga firdaus untuk menikmati kedamaian di sisi-Ku. Bagaimana kalau Aku utus tsunami untuk menjemput mereka ke syurga yang abadi."

"Jangan Tuhan. Apa nanti kata tetangga-tetangga mereka. Tuhan pasti akan disalahkan."

"Kalau dijemput pakai mercy, pesawat, atau yang lain nanti semua warga dunia mau ikut. Mereka kan senengnya yang gratisan."

"Tapi apa tidak ada cara yang lebih sopan, Tuhan. Aku khawatir ada yang salah sangka, mengatakan Engkau kejam."

"Mereka sudah rindu akan kedamaian. Aku tak mau basa-basi memberikannya. Biar juga yang lain tidak tahu kalau mereka ternyata Aku jemput ke syurga kedamaian yang kekal."

Dua kerinduan berkelindan membentuk panorama yang indah dan mempesona. Kerinduan Tuhan kepada hamba-Nya yang patuh juga kerinduan hamba akan kedamain dari Tuhan.

"Indonesia berduka. Tsunami menggasak Tanah Rencong." Headline sebuah surat kabar di bumi pertiwi. Hiruk pikuk, ratap tangis, dan jeritan nestapa manusia yang tak mengerti bahwa itu adalah jemputan Tuhan ke syurga. Para sastrawan, budayawan, rohaniawan, dan wan-wan yang lain sampai sariawan berdebat mengenai kasih Tuhan yang hanya satu diturunkan untuk di dunia. Bahkan tak sedikit yang menghujat.

"Tuhan memang kejam."

"Kenapa tidak Israel saja yang Kau kirimi tsunami, Tuhan."

"Aceh sudah sangat lelah, Tuhan. Setega itukah Kau Yang Maha Penyayang."

"Tuhan, apalagi yang Kau tumpahkan di Tanah Rencong itu? Apakah Kau tak melihat mereka telah lama menjerit dalam runtun kesedihan yang sangat? Apakah tak cukup operasi militer itu hingga Kau juga turun tangan mengirimkan duka yang pekat."

"Semestinya memang Tuhan harus menggantikan posisi kasih yang Tuhan turunkan ke dunia. Yang sembilan puluh sembilan itu di dunia ini dan yang satu di akherat agar tak terlalu banyak air mata yang tumpah ruah."

"Tuhan, air mata ini bukanlah basa-basi."

Segenap celoteh-celoteh berkumandang.menggema diantara sisa puing bangunan dan ceceran bangkai ahli syurga yang akan pulang ke syurga masing-masing.

Jemputan tsunami itu telah membuat kepala suku di induk syurga kalangkabut. Baru sekian detik menduduki singgasana sudah direpotkan oleh siluit kerinduan Tuhan kepada hambaNya

"Mari kita bangun kembali syurga kita yang terserabut."

"Tolong jangan salahkan Tuhan lagi, kita harus introspeksi.”

"Ya Allah. Ampuni hamba."

"Wah, gile banget. Tuhan memang keren, gue nggak ngebayangin deh sedahsyat itu."

Preman-preman pasar ikut ambil bicara.

Gerimis rindu Tuhan dalam episode yang misteri

"Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Hiduplah dalam kedamaian yang kekal di syurgaKU."

"Selamat tinggal duniaku yang penat." senandung jiwa-jiwa itu menuju kedamaian syurga firdaus di sisiNYA

Kairo 30 Januari 2005

Thursday, October 25, 2007

Selembar Tisu dan Sore yang Bisu


Pertemuan pertama

Sore di sebuah taman. Hening. Angin bulan Januari berhembus perlahan. Tenang. Matahari bersembunyi di balik awan. Kairo dalam dekapan musim dingin. Hawa menggigil menusuk tulang.

Aku diam termenung. Ini kali pertama aku putuskan untuk menemui bidadariku. Perempuan dengan hati sebening salju. Perempuan yang kini menjadi istriku, ibu anak-anakku. Aku berdiri menunggunya. Bangku panjang di taman itu kotor berdebu.

Bidadariku datang dengan setangkai senyum. Dia menatapku. Sepertinya bingung. Atau entahlah. Aku tak berani memandangnya terlalu lama. Sekilas kulihat dia tersipu.

"Maaf, kamu menunggu lama." Dia membuka kebekuan. Perasaanku tak menentu.

"Nggak kok. Nggak apa-apa." Aku menjawab sekenanya.

"Kok berdiri saja? Kan ada bangku." Ucapnya lemah-lembut. Jari lentiknya menunjuk bangku di sampingku.

"Bangkunya kotor."

"O..." Dia membuka bungkusan. Plastik berisi makanan ringan. Dua botol air mineral ukuran sedang. Dan semangkuk agar-agar.

"Aduh...tisunya cuman satu. Gimana dong?" Dia berkata sambil menatapku iba. Aku hanya diam. Memandangnya mengeluarkan selembar tisu. Membersihkan bangku. Kemudian menyilahkanku duduk.

"Bangkunya sudah bersih. Ayo, duduk."

"Terima kasih." Ucapku. Setelah itu kukatakan padanya tentang tujuanku menemuinya. Kukatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Kuungkapkan juga rencana dan mimpi-mimpiku. Cita-cita dan harapanku. Dan dia adalah pilihanku. Sebagai sayapku yang satu untuk terbang meraih impianku.

Matahari sebentar lagi rebah ke pangkuan malam. Dedaunan melambai. Barangkali haru. Perasaanku lega. Tapi di balik itu, dihantui takut. Harap. Juga cemas. Aku kemudian mohon diri.

"Terima kasih, karena menyayangiku. Tapi, beri aku waktu." Katanya.

"Aku akan menunggu." Ucapku. Kutatap matanya. Teduh. Dia menunduk.

"Ini, agar-agarnya dibawa. Kasian kan, entar di sini nggak ada yang makan." Dia menyodorkan semangkuk agar-agar itu. Aku jadi salah tingkah.

"Sudah, bawa." Ucapnya lagi. Aku tersenyum menerimanya. "Terima kasih." Aku berlalu. Berselendang doa, kukayuh langkahku. Semoga...Semoga dia adalah sayapku yang satu. Aku berbisik.

Nasi goreng cinta

Tiga siung bawang putih. Sebiji bawang merah ukuran sedang. Dua biji cabe merah. Dipotong tipis-tipis. Minyak goreng dua sendok makan. Masukkan bawang putih terlebih dahulu. Kemudian bawang merah. Lalu cabe. Dua ratus gram daging ayam yang sudah direbus. Campurkan ketumbar, sedikit lada, penyedap rasa, dan garam secukupnya. Berikan sedikit kunyit untuk menghasilkan warna kuning. Tuangkan nasi. Hasilkan nasi goreng yang nikmat.

"Gila men, kita makan enak sekarang." Aldo masuk dapur sambil mencomot ketimun yang kupotong rapi.

"He...sory aja yah. Ini buat bidadariku. Kalau mau, tuh bikin sendiri. Bahan-bahannya sudah ada."

"Ya ampun...segitunya yang jatuh cinta. Btw, Ini nasi goreng apa namanya?" Suara Aldo yang cempreng dikeraskan. Teman-teman yang sedang asyik nonton film berhamburan ke dapur.

"Wow, makan enak."

"Makan-makan."

"Tumben-tumben nih makan nasi goreng senikmat ini." Alfin menyantapnya tanpa beban.

"Nasi goreng apa yah?" Aris menatap nasi goreng penuh selera.

"Nasi goreng cinta..." Aldo, Aris, Alfin dan Riyan koor bersama. Aku hanya tersenyum melihat ulah mereka.

"Udah, entar malam saya bikinin kalian. Yang ini jangan disentuh. Ini khusus untuk bidadariku." Kututup mangkuk yang sudah kuisi nasi goreng.

Ups...hampir lupa. Sebagai penyedap mata. Letakkan ketimun dan tomat yang sudah dipotong rapi. Taburkan sedikit daun seledri.

"Sip...biar nggak malu balikin mangkuk agar-agarnya."

Ini hari Kamis. Bidadariku biasanya puasa sunah. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuknya. Walau hanya semangkuk nasi goreng, yang entahlah aku juga tak tahu rasanya. Enak? Atau?

Selembar tisu dan sore yang bisu

Siang menggarang. Matahari bersinar terang. Panas serasa memanggang. Tapi panas di kampungku, di Lombok, tidak seberapa dibanding Kairo. Aku merasakan puasa di Kairo luar biasa beratnya.

Ini adalah kali pertama Ramadhan di Lombok, setelah lima belas tahun aku merantau. Lima ramadhan kulalui di Kairo. Dua ramadhan kusia-siakan. Tiganya lagi kuisi dengan doa. Bidadariku menuntunku untuk selalu dekat dengan-Nya. Tiga tahun itu adalah masa menungguku. Dan jawabannya adalah ijab kabul pernikahan kami, dilaksanakan di depan ka'bah.

Lima Ramadhan lagi kunikmati di negeri yang sangat dingin. Selesai S1 di fakultas sastra arab al-Azhar, kulanjutkan kuliahku di Moskow. Sinematografi dan perfilman adalah salah satu dari sekian banyak mimpiku. Aku adalah orang Indonesia kedua yang lulus dengan predikat cumlaude, setelah Suman Djaya. Penulis skenario film berjudul AKU yang sangat terkenal itu.

Lima Ramadhan berikutnya, kuhabiskan di kampung istriku. Seperti Nabi Syu'aib yang meminta Musa tinggal bersamanya selama sepuluh tahun. Mertuaku ternyata mensyaratkan setengah dari apa yang dilakukan Musa. Setelah selesai studi aku tinggal di kampung istriku lima tahun.

Sepuluh tahun usia pernikahan kami. Sepuluh Ramadhan bersama bidadariku. Sepuluh tahun hidup meraih cita-cita dan impian bersama. Sepuluh tahun meniti karir hingga kami bisa membangun perpustakaan umum, pusat belajar, sanggar drama, juga aku yang sudah menjadi orang ternama dalam dunia film dan sastra. Sepuluh tahun dalam bingkai suci dengan dua putra dan seorang putri. Sepuluh tahun aku berusaha untuk membuat bidadariku selalu tersenyum. Hingga akhrinya...di siang yang terik ini. Di Ramadhan pertama di kampung halamanku. Mimpi buruk itu terjadi.

Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menjadi sangat marah. Aku tidak bisa mengontrol emosi. Mungkin karena terlalu capek. Selesai sahur tadi pagi, aku menyelesaikan skenario film yang akan kugarap di Jepang. Film berjudul, "Tatta Hitotsuno Takaromono (satu-satunya milikku yang sangat berharga)" durasi satu jam. Selesai subuh mengisi pengajian. Menerima tamu. Membantu bidadariku mengurus Albert, Segara, dan Gaitsa. Jam delapan meluncur ke Universitas Mataram. Memberikan kuliah sastra bagi adik-adik mahasiswa. Kajian tokoh membahas Naguib Mahfuzh. Terakhir harus bertemu dengan Nakamura, sutradara asal Jepang rekan kerjaku nanti. Dan inilah biang masalahnya. Pertemuanku batal karena aku ditilang karena tidak bawa surat-surat mobil juga SIM. Benar-benar sial.

Mobilku memasuki halaman rumah. Bidadariku sedang menyiram bunga di taman. Kuturun dari mobil dengan muka masam. Tidak ada senyum. Tidak ada sapa untuk bidadariku. Pintu mobil kubanting keras. Brak...!!!

Kuhampiri bidadariku. "Siapa yang beres-beres mobil?" Suaraku lantang. "Semua urusan berantakan! Nakamura tidak bisa saya temui. Berapa uang melayang? Bisa-bisa dia tidak mempercayai saya lagi. Ngapain juga kamu beres-beres mobil. Itu kerjaanya Pak Udin. Kalau kamu mengurus pekerjaanmu, tidak akan begini. Mobil ditilang. Besok saya harus ke polres. Bla...bla...bla..." Aku masih saja ngomel sendiri. Kulihat wajah bidadariku sembab. Dia menangis.

"Maafin, Cinta. Cinta lupa." Hanya kalimat itu yang keluar sambil sesenggukan.

"Sudah begini, bisanya cuman nangis." Kemarahanku makin menjadi. Bidadariku menghambur ke kamar.

Aku cuek. Aku pergi ke rumah ibu. Anak-anak tidak ada di rumah. Berarti sedang main bersama nenek dan kakek mereka.

Kulihat anak-anak bersama kakek mereka. Aku ke dapur. Melihat ibu masak.

"Masak apa, Bu?"

"Masak gulai. Kesukaanmu. Kok sendiri? Cinta mana? Panggil ke sini, kita buka puasa bersama."

"Ah...biar saja dia di rumah."

"Lo...kok? Kalian tengkar? Kamu marah sama Cinta. Ya Allah, apa salah istrimu kok sampai begini? Mentang-mentang kamu sudah jadi orang, sikap kamu berubah padanya? Katanya dia bidadari penyelamatmu. Dia yang selalu membantumu. Dia yang selalu membuat kamu kuat. Tabah. Dulu waktu di Kairo, setiap kali nelpon kamu cerita kebaikan dia. Ini balasan untuknya? Dasar laki-laki tak tahu diuntung. Sana minta maaf. Jangan makan di sini."

Kata-kata ibu benar-benar menghunjam di ulu hatiku. Menohok. Kupulang ke rumah dengan berjuta penyesalan. Kulihat dapur kosong. Bidadariku benar-benar tersakiti. Aku tidak tahu mesti bagaimana mengobati perasaannya yang terluka.

Kunyalakan kompor. Mengambil penggorengan. Nasi sudah ada di magic jar. Oh...aku ingat. Nasi goreng cinta. Kubuka lemari es, agar-agar kesukaan istriku. Sebentar lagi adzan magrib. Kumandi kemudian berpakain rapi. Memasang jas hadiah ultah dari bidadariku. Kurogoh sakunya. Dan...selembar tisu sisa terawih tadi malam.

Kuketuk pintu. Tidak ada jawaban. Kubuka perlahan. Bidadariku sedang bersimpuh di sajadahnya. Kududuk di hadapannya. Kuambil tisu dari saku jasku.

"Sayang, maafin Papa yah. Papa khilaf. Papa salah." Kuusap pipi lembut bidadariku.

"Cinta yang salah. Bukan Papa." Bidadariku rebah di pangkuanku. Dia mencium tanganku.

"Kok tisunya cuman satu?"

"Kan Papa mau mengenang saat pertama kali menemuimu, Sayang." Kukecup kening bidadariku.

"Nasi goreng sama agar-agarnya juga?"

Aku hanya tersenyum. Adzan magrib berkumandang. Kusuapi bidadariku. Pintu terbuka. Anak-anak berhamburan ke pelukan kami.

"Mama, mama. Kata nenek, selesai lebalan, kita pelgi ke lumah nenek di Jawa pakai pesawat iya?" Gaitsa merajuk.

"Kok Mama nangis sih? Mama sedih iya?" Lanjutnya.

"Mama kangen sama kakek dan nenek di Bandung." Jawabku. Cinta; bidadariku mencubit lenganku■

Dialog Subuh

Langit memanggul bulan sabit. Malam bisu. Tanpa kata. Tanpa doa. Jendela kamarku kaku. Tidak lagi bercakap dengan angin. Tentang hujan. Tentang embun. Tak ada suara sepatu. Juga ketukan pintu. Ziarah telah istirah. Barangkali gerah. Mungkin saja gelisah.

Because the sky is blue. It makes me cry.*

***

"Ada apa sih? Tumben nelpon? Suaramu kok berubah sekarang? Apa karena kita tidak pernah ngobrol lagi? Jangan lama-lama! Entar uangmu habis."

"Aku mau ngomong sesuatu."

"Katakan saja. Tapi biaya nelponmu kan banyak. Kasian uang belanjamu." Dia masih khawatir. Aku tersenyum mendengarnya.

"Tenang saja. Biayanya murah kok."

Aku menghela napas panjang. Jeda.

"Jam berapa di Kairo?"

"Jam empat."

"Kamu baru bangun tahajjud?"

"Belum. Aku belum tahajjud. Kamu sendiri?"

"Di Jogja sudah pagi. Baru saja selesai duha. Aku sedang berjemur sekarang. Duduk di taman. Ada secangkir kopi. Beberapa biji pisang goreng. Koran pagi, masih seperti dua tahun lalu. Kamu pasti muntah membacanya. Hahaha."

"Hahaha," Aku dan dia tertawa lepas. Seperti membuang sesak. Sejenak. Selepas itu kembali sadar. Lalu gelisah.

"Ayo, dong. Katamu mau ngomongin sesuatu. Apa sih? Aku penasaran nih!"

"Oh...! E... Aku lulus."

"Lulus apa?"

"Lulus ujian. Sekarang tingkat dua."

"Tingkat dua? Bukannya tingkat tiga?"

"Itulah yang ingin aku katakan."

Aku ingin menangis. Menangislah! Aku ingin menangis seperti embun. Mengisi bibir-bibir bunga yang pecah. Kuncup yang mengundang kupu-kupu. Apakah mungkin? Entahlah! Barangkali aku masih senang bermimpi. Tentang perahu kertas yang menjelma perahu Nuh. Masih sering berimaji. Tentang tongkat Musa menjelma ular.

"Kamu masih di sana? Halo... Kok gak ada suara."

"Hm... Iya. Aku masih di sini."

Begitulah percakapanku dengannya. Adikku satu-satunya. Setelah dua tahun aku menghilang. Tanpa kabar. Tanpa berita. Bahkan tanpa aba-aba. Pernah suatu kali, kubertemu dengan seseorang dan dia bertanya,

"Siapakah yang paling kau rindui saat ini?"

Aku menjawab, tidak ada. Keluargamu? Lanjutnya. Aku tidak tahu, timpalku. Aku lebih memilih diam. Mengubur ingatan tentang kampung halaman. Juga membuang rasa sepi tentang cinta ayah-ibu.

"Kak... Kakak ada masalah?"

"Begitulah. Tahun lalu aku tidak ikut ujian. Aku lebih memilih duduk di pinggiran Nil. Setelah capek, kumampir di apotik dan membeli ratusan tablet obat penenang."

"Oh... Kok bisa seperti itu? Tidur tidak akan bisa menyelesaikan masalah."

"Aku benar-benar kalut."

"Sebabnya?"

"Aku capek. Bosan. Marah."

"Marah sama siapa? Keluarga?"

"Mungkin."

"Kenapa? Kamu merasa tidak diperhatikan?"

"Begitulah. Karena itu kurasa aku sudah tidak berfungsi lagi di dunia ini. Hidupku kubiarkan hancur-hancuran. Kerjaku hanya main game, chating, nonton film. Sesekali ikut kajian yang tidak kufahami agar kelihatan keren."

"Terus kuliah kakak gimana?"

"Kuliah di Azhar seperti masuk TK. Kita dijejali rumus-rumus yang sudah basi. Menghafal ini-itu. Tidak ada absen. Dosen ngomong pakai bahasa 'amiyah. Semaunya sendiri. Sinting memang. Kampusnya jorok. Dan lainnya. Dan lainnya."

"Terus apa yang kakak banggakan? Persiapan pulang bagaimana? Bukankah kakak yang menjadi harapan masyarakat?"

"Mungkin bangga karena kuliah di luar negeri. Karena otakku isinya hanya artis dan bintang film, kurasa aku tidak usah pulang. Aku akan jadi layang-layang di Kairo. Aku tidak layak diharapkan oleh siapa pun. Termasuk oleh diriku sendiri."

"Kak... Kakak jangan begitu."

"Iya. Itu bagian dari masa lalu. Sekarang aku sadar bahwa ada yang mesti kuraih di sini. Walaupun hanya secuil. Maafkan aku, Dik."

"Sudahlah. Rasa bersalah hanya membuat makin bersedih. Lupakan itu semua. Sekarang, adik akan melihat kebangkitan kakak. Adik yakin, kakak bisa melakukannya."

"Terima kasih, Dik."

"Kak, sudah lama nih. Bayarnya gimana?"

"Tenang saja. Kakak nelpon pakai internet. Bayarnya hanya empatpuluh pound. Bisa ngomong tujuh jam lebih."

"Terus apa saja yang mau diomongin?"

"Aku mau bercerita tentang bidadari yang telah menyelamatkanku."

"Dewi Venus? Ahai, sedang jatuh cinta, iya?"

"Bukan jatuh, tapi tenggelam. Aku bertemu dengannya di sebuah siang. Ketika aku tersesat. Putus asa. Aku tak tahu harus berjalan ke mana. Terik matahari seakan melumat badanku yang kurus kerempeng. Tapi senyumnya membuat langit terasa mendung dan sejuk.

"Dengannya kutemukan jalanku yang telah lama hilang. Kuucapkan selamat pagi untuknya. Mengajaknya melihat mentari dan kupu-kupu yang menari. Dia pula yang mengantarku kembali ke pangkuan ibu. Mengatakan padaku bahwa cinta ayah-ibu tak berujung, tak bertepi.”

"Dia mengajarkan aku untuk menghadapi gelisah dengan cahaya-cahaya doa. Menuntunku untuk membasuh marah dan dendam dengan gemericik air wudhu. Dia telah menjelma lautan maha luas. Menerima dengan cinta penuh seluruh."

"Kakak sudah membicarakan hal ini pada ibu?"

"Sudah. Ibu setuju saja. Aku hanya disuruh menunggu masalah bapak selesai. Emang bapak ada masalah apa?"

"Aku tidak tega menceritakannya. Setelah kakak ke Kairo, banyak masalah menimpa keluarga kita. Aku bahkan merasa hidup tidak adil. Ah... Aku tak bisa cerita, Kak."

"Tidak bisa cerita? Ayolah, aku ingin tahu. Please."

"Subuhnya masih lama nggak?"

"Sepuluh menit lagi."

"Kalau begitu, kakak sholat tahajjud aja dulu. Sekalian sholat subuh. Entar kakak nelpon lagi kalau sudah selesai. Adik akan cerita. Adik janji."

***

Kuselesaikan solat subuhku. Dua rakaat! Ya, aku masih ingat bilangan rakaatnya. Dua tahun sudah kubaringkan subuhku dalam mimpi-mimpi. Aku pernah merasa sangat bosan bertemu dengan Tuhan. Aku pergi. Jauh sekali. Ke dalam pekat. Barangkali Tuhan selalu setia manungguku. Aku sangat yakin. Bukankah Dia Maha Penerima? Bukankah pintu pengampunanNya belum tertutup untukku?

Kembali kutelpon adikku. Setelah doa pagi kutitipkan pada burung dara yang bertengger di jendela.

“Halo....”

“Yup... Subuhnya udah kan?” Adikku bertanya. Seperti ada yang menohok di tenggorokanku. Subuhnya udah kan?

“Sudah,” kuusap air mataku. Haru.

“Kakak sudah siap mendengar cerita di rumah?”

“Hmm, siap.”

“Waktu kita masih bersama, kita bilang hidup itu seperti air. Yah... Seperti air memang. Tapi air laut. Adik minta maaf. Kakak jadi merasa tidak diperhatikan. Hidup kita dua tahun belakangan carut-marut. Bisnis bapak hancur berantakan. Uangnya ditipu seratus juta. Barang-barang yang dikirim ke Canada tidak dibayar. Sawah kita sudah dijual semua. Untung ada tabungan sedikit, ditambah uang penjualan mobil. Sekarang hutang bapak tinggal limapuluh juta. “

“Sekarang ibu tinggal sendiri. Bapak pergi keluar negeri. Aku kuliah di Yogya dari beasiswa. Itupun hanya kuliahnya saja. Untuk makan aku jualan koran. Sekarang belajar menulis. Doakan tahun depan aku mau ikut seleksi ke Amerika. Nilaiku cukup untuk mendapatkan beasiswa itu.”

“Keluarga nggak mau kakak ikut pusing gara-gara masalah ini. Tapi semua ada hikmahnya. Mungkin karena kita sudah terlalu manja. Mungkin juga karena kita jauh dari-Nya.”

Oh... Aku tidak tahu lagi perasaanku. Kututup saja windows live massenger di komputerku. Aku tidak kuat mendengar cerita adikku. Sementara aku di Kairo tak melakukan apa-apa. Barangkali karena dosaku, semua ini terjadi.

Jika kau datang pada-Ku dengan berjalan, Aku datang padamu dengan berlari.**

Tuhan, Kau masih di sana kan? Tunggu, aku masih sangat merindu-Mu.

Because the sky is blue. It is make me cry.*

*(The Beatles)

**(Hadis Qudsi)

Tuesday, October 23, 2007

Sepi

SUARA PEMBARUAN DAILY

Puisi Leo Kelana

Sepi

Lagu apa pula menyanyi

di tengah malam

pintu bercakap pada dirinya;

yang lelah

yang pasrah

seperti ada malaikat turun perlahan

mengantar subuh yang hangat

tapi diri memagut

pada sepi tak tertahan

terasa matahari pun

enggan menjumpai pagi

Kairo 30 April '06

Sudahlah

-Untuk Aya-

Aku bertanya padamu

angin apakah mengantar pesan

dan kau mulai peduli diriku;

pejalan tak selesai berangan

Sudahlah!

di Kairo ini hatiku semakin pekat

membaca berita dari negeri laknat

lalu sekarat

lalu kiamat

dan di atas segala itu;

perasaanku padamu telah tamat

Kairo April '06

Pejam, pejamlah

-Untuk Putri Amanda-

Pejam

Pejamlah

lalu hati

lalu jiwa

dalam hidupmu yang aroma bunga

di Nil ini kucoba menepi

bersandar pada piramid

tegak diri

berdiri sendiri

dan kau di sana bernyanyi-nyanyi

mencumbu pagi

menimang bayi

ah...hidupmu pun sempurna

menjadi perempuan

sementara aku berkelana

tenggelam lalu tertawan

Kairo April '06

Belasungkawa

-Untuk Pram; Selamat jalan kawan-

Semalam aku tak bisa tidur

susah sekali memejam mata

badanku panas

serasa nyawa akan meranggas

lalu salam kematian

mengetuk pintu pagi-pagi

seseorang mengirim belasungkawa

Pram dipenjara bukan lagi di Pulau Buru

Dan nyanyi

kemudian sunyi

seseorang pergi

menuju mati

30 April 2006

Selepas Magrib

Selepas magrib kala itu

kudatang padamu

membawa segelas doa

untukmu adinda

Adalah ibu yang rajin mengirim salam

menitip nakalku padamu

tuk bermanja pada senyum

yang kau pilin setiap bertemu

Kairo April 2006


Last modified: 24/5/06

Satu

SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Leo Kelana

satu

rinduku menderu-deras

menari mencari bayangmu

pada selaut-laut kenang

membanjir mengombak

mengejar-ngejar jejak

kakiku kakimu

tertinggal pejam pada

pasir pantai

diterbang-terbang angin

menghilang melayang

melelap melenyap

tak lelah ku berlari

tuk meraih setangkai bunga

terjatuh pasrah lunglai

merapuh

dari ikat rambutmu

memajang suka cita

memadu mengendap

diriku dirimu bersatu

menyatu

maka sepakat aku kamu

menjadi kita saja kita berdua

lalu apa lagi pembeda karena dua jiwa melangit membumi

satu titik tak pisah tak musuh layak timur barat tak jauh bak utara selatan

tabur mawar merah

merekah senyummu ranum

membasah melafal berbaris-baris doa

bergumam kaugubah puja-puji bagi kita berdua

selayak pantai tak sepi-sepi angin bermain meniup-niup

diriku dirimu diri kita

mengusir lagu ragu dari bisik setan

dengan kata cintaku cintamu cinta kita disulam dijahit

diikat biar tak sebebas-bebas melepas menebas gegas pedas rampas

tidak aku

tidak kamu

tapi kita;

satu saja

Kairo 25 Januari 2006

Ilalang

Ingin kubangun istana

di tengah padang ilalang

lalu kugubah puisi

tentang anak-anak kita

yang khusyu' mengaji,

bunga-bunga rumput,

dan senyummu

yang buatku tertawan

mari pulang ke istana hati

membaca syair Rumi

dan Syauqi

mengeja ayat suci

di bawah keemasan

sinar mentari

Kairo 08032007

u

Doa Meminta

kelelawar

menyambar

malam

kelam

istigfar

gemetar

menggelepar

menghalilintar

apalagi hendak kuminta

saat semua memejam mata?

ampunkan segala dosa

ketika Kau bersama

aku menjadi kita yang berdua

doa meminta

sangat sederhana


Last modified: 31/5/07

Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan
Post: 04/30/2007 Disimak: 509 kali
Cerpen: Leo Kelana
Sumber: Batam Pos, Edisi 04/29/2007

(untuk perempuan bertudung senja dengan senyum berwarna jingga)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata.**

"Perempuan itu seperti melati," kata ibuku suatu ketika. Aku diam saja. Kupandangi melati yang bermandi cahaya mentari pagi. Di depan rumahku, ia tumbuh begitu sempurna. Ah?benarkah perempuan itu seperti melati. Bisikku dalam hati.

*****

Dan ketika saatnya, aku baru mengerti. Perempuan itu seperti melati. Lembut. Bening. Aku seperti selalu diminta untuk diam bahkan terdiam ketika bening itu kutatap. Ingin kureguk. Ingin kurengkuh. Tapi beburungan mengabarkan padaku, biarkan ia tumbuh di taman itu. Jangan kau dekati. Jangan kau sentuh. Jangan kau tergesa tuk meraihnya. Biarkan ia luruh ketika tiba saatnya. Kau hanya perlu menyiraminya.

Aku terpekur diam. Dengan apakah aku menyirami melati itu? Melati yang tidak tumbuh di taman depan rumahku. Melati yang tidak bermandi cahaya mentari pagi. Melati semerbak mewangi yang tak terlihat kasat mata. Melati yang tumbuh di dalam hatiku. Melati yang tak pernah membiarkan hatiku sunyi dari mendoakannya.

"Aku melihat lautan teduh di matamu," kataku ketika pertama kali bertemu dengannya. Di sebuah bis malam dalam perjalananku menyusuri sunyi. Angin hanya bisa berbisik ketika kulihat perempuan itu tersenyum. Senyum yang sangat kusuka. Senyum berwarna jingga.

"Sepertinya kabut telah menyelimuti batinku. Aku sama sekali tak mengerti kata-katamu. Bahkan telingaku seakan tak mendengar apa-apa." Jawabnya berpuisi. Sepertinya aku sedang berhadapan dengan Dewi Venus.

"Aku tak akan pernah bosan mengulangi kata-kata itu. Aku akan berteriak sejuta kali sampai tiba saatnya telingamu terbuka, juga kabut yang menyelimuti batinmu tersingkap. Aku tak akan pernah bosan!"

Perempuan itu begitu sempurna. Pertemuan kali itu pakaian putih bening membalut badannya. Sebening itukah hatimu wahai perempuan salju? Hatiku diam-diam bertanya pada rembulan. Rembulan memandangku iba.

"Mengapa kau menatapku seperti itu? Aku melihat beban seberat bumi menggelantung di raut wajahmu. Maukah kau mengabarkan padaku tentang keresahan jiwamu?"

"Aku takut kau berlaku tergesa pada bidadari itu. Aku hanya ingin mengingatkan padamu, bersabarlah menghadapinya." Rembulan menjawab, menyampaikan suara dawai biola kehidupan.

"Siramilah melati itu dalam setiap detak jantungmu," lanjutnya.

*****

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa.**

Bumi tiba-tiba terdiam. Bisu. Kaku terpaku menatap gelap. Rembulan lenyap di telan pekat. Mengapa ifrit datang bersijingkat dalam jiwaku lalu membisikkan sabda malapetaka? Aku tak mengerti. Mengapa jibril tak membawakan secawan minuman surgawi agar aku tak terbakar rayuan syaitan? Barangkali takdir memang menggariskan untuk tak boleh menatap melati sementara waktu.

"Aku telah berbuat tolol. Aku tak sadar, tiba-tiba saja aku ingin merengkuh melati itu. Aku ingin mencium semerbak wanginya. Aku ingin memetiknya." Desahku pada rerumputan. Rerumputan di taman-taman itu ternyata sesenggukan. Rinai air mata beranak sungai mengalir deras pada wajahnya yang tirus.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Melati itu kini meranggas. Melati itu terkulai karena tanganmu yang ceroboh. Mengapa kau berbuat seperti itu. Mengapa kau tak mendengarkan sayup-sayup kebijaksanaan yang ditiupkan kupu-kupu setiap pagi? Dan sekarang kau lihat air mata membanjiri kerajaan langit dan bumi.

Melati itu telah kau buat menangis. Dan dunia pun kini berduka." Suara rerumputan di antara isak tangisnya.

"Lelaki seringkali bermimpi mendapatkan cinta perempuan semudah ia manangkap merpati. Lelaki bisa jatuh sekali pandang, tapi perempuan butuh dua kali musim gugur untuk mencari tahu apa sejatinya kehendak nurani."

Aku terbuang pada keterpurukan. Aku telah membuat melati itu terluka. Aku tak tahu kemana harus membawa jiwa yang nelangsa. Nafasku terengah-engah membawa lari perasaanku yang linglung.

*****

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis.**

"Ibu, aku datang padamu sebagai seorang lelaki. Tolong katakan padaku apakah yang kau maksudkan, perempuan itu seperti melati?"

"Anakku, apakah yang terjadi denganmu? Mengapa di matamu terjadi badai dan hujan lebat? Katakan padaku apa yang telah terjadi sehingga kau berlari membawa pertanyaan aneh".

"Aku mengingat kata-katamu yang dulu. Perempuan itu seperti melati. Aku mengerti perempuan itu memang seperti melati. Indah. Wangi. Lembut. Lalu beburungan dan sekawanan sahabatku yang lain mengatakan padaku untuk menyiraminya. Tapi aku ceroboh. Tergesa-gesa ingin memetiknya."

"Oh...mengapa kau anakku? Tanganmu masih kaku dan keras. Tanganmu harus kau buat lentur bergerak. Menghiasinya dengan tarian kebijaksanaan. Setelah itulah kau bisa memetik melati itu."

"Adakah selain itu perihal melati, Bunda?"

"Aku ingin tahu bagaimana kau menyirami melati itu. Melati yang tumbuh di taman hati akan layu kalau kau sirami dengan kasar."

"Ajarkan aku bagaimana menyirami melati itu, Bunda."

"Mengapa kau tak belajar dari alam bagaimana menyirami melati."

"Aku ingin belajar dari seorang perempuan. Dan perempuan yang paling berhak menerangkan padaku adalah engkau, Bunda."

"Perempuan itu harus kau sirami dengan lemah-lembut. Lihatlah arakan-arakan awan putih yang membawa air hujan. Ia berjalan perlahan. Ia tak pernah tergesa. Seperti itulah kau menghadapi perempuan."

"Tapi sekali lagi anakku. Tuhan sebenarnya ingin kau lebih memahami bahwa hidup itu sangat rumit untuk dijalani. Kau sedang ditempa untuk tidak menjadi orang yang kerdil. Kau tak perlu risau dengan setangkai melati yang terlanjur kau kecewakan. Mintalah kepada Tuhan semua yang kau inginkan. Dia Maha Pemurah. Tapi sebenarnya cinta Tuhan-lah yang sejati."

*****

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun jauh di sana.**

Tuhan meraih tanganku yang lemah terkulai karena setangkai melati. Dia kemudian menuntunku menuju mihrab-Nya yang agung. Seorang penjaga surga membawakan secawan minuman dari al-Kautsar. Dingin. Tenang mengalir di lorong tenggorokan hidupku. Apakah yang Kau anugerahkan padaku, wahai Sang Maha Pecinta?

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya.**

Putih menyelimuti seluruh badanku. Aku berselonjor di teras mesjid. Tengah malam yang menggigil dingin, segerombolan malaikat datang menjemputku.

"Seni rupa doamu telah sampai di Arsy yang agung. Semoga Tuhan menganugerahkan bidadari surga yang akan menuntunmu menuju cinta hakiki. Hanya cinta Tuhan-lah yang hakiki".

Semburat fajar tersenyum di ufuk timur. Malam seribu bulan telah berlalu. Malaikat-malaikat yang turun ke bumi untuk menjemput doa, kini telah kembali ke langit. Aku masih terus menyirami melatiku di sela-sela adzan subuh yang mengalun syahdu. Kusirami melatiku dengan lemah-lembut. Dengan untaian doaku.

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak kan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.***

Kairo, 15 Ramadhan 05:11

** Lirik-lirik sajak Dalam Doaku; Sapardi Djoko Damono.

Kertas

Tidak ada yang istimewa dari kertas itu. Kertas lusuh. Potongan kwitansi tagihan telepon international. Kertas yang terjepit di antara lembaran buku 'aku tahu aku akan mati di laut'. Buku kumpulan cerpen guru saya, Cecep Syamsul Hari. Guru yang sampai saat ini, belum bisa saya temui. Guru yang tidak tahu bahwa ada orang seperti saya yang menjadi muridnya. Orang yang tidak menetek dari susu ibunya, juga tak bersandar di dada ayahnya. Seorang jelata yang dilahirkan alam dari kesunyian. Karena saya sendiri adalah sepi.

"Apakah ibumu meninggalkanmu terlantar?"

"Bukan demikian. Sayalah yang lari darinya. Terlalu banyak saya menyusahkannya. Saya jadi merasa tidak tega enak-enakan menetek. Padahal ibu juga harus hutang untuk mengkonsumsi makanan bergizi. Kata dokter, demi kesehatan saya."

"Lalu mengapa juga dengan ayahmu?"

"Inilah yang ingin saya katakan. Kebanyakan manusia di dunia ketiga dididik oleh sinetron cengeng. Ibu-ibu lalu bermimpi menjadi cinderela istri pangeran. Ayah dipaksa supaya kaya mendadak. Padahal ratapan orang-orang terbelakang tidak juga tembus langit ketujuh. Setelah itu anak-anak menjadi orang yang paling lelah menghadapi ratapan. Dan saya tidak mau seperti itu. Saya berlari ke jalanan dan pulang ke lingkaran kesepian."

Seperti kesepian kertas yang terjepit di buku itu. Kesepian yang kemudian menjelmakan kata-kata yang tertulis di dalamnya. Lalu kertas itu akan menjadi sangat istimewa seandainya yang membacanya adalah seorang Plato atau Kahlil Gibran. Karena saya sangat yakin dunia akan tercengang dengan kata-katanya yang lebih mengandung sabda-sabda filsafat fatalis. Sedangkan Plato atau Kahlil Gibran adalah tipe manusia masa depan yang sangat optimis menghadapi alur kehidupan.

Ah…betapa sepinya hati yang tidak mengandung jiwa optimis. Seperti hati si dara jelita yang menulis di kertas lusuh potongan kwitansi itu. Saya tahu bahwa yang menulis itu seorang gadis karena guritan lentik kata-katanya seperti ini: "Nanti aku ditinggalinlah."

Saya jadi mengambil sebuah kesimpulan konyol dari kalimat ini. Seorang lelaki tidak akan pernah ketakutan untuk ditinggalkan. Justru yang saya tahu kebanyakan lelaki memang suka meninggalkan. Entah meninggalkan kampung halamannya untuk mencari masa depan. Meninggalkan pacarnya yang hamil di luar nikah untuk lari dari tanggung jawab. Atau mungkin juga meninggalkan anak istrinya karena mencari daun muda. Atau seperti tulisan di atas. Ungkapan jiwa yang belum yakin bahwa kebersamaan akan terus mendekap dia dengan sang lelaki terkasih. Ratapan seorang perempuan yang takut ditinggalkan sendiri.

(Setelah kalimat itu, tertera nomer telepon dengan tiga angka di awalnya yang tersusun dari bilangan genap, kemudian ganjil, setelahnya lagi ganjil). Semulanya saya berpikir untuk menelpon saja ke nomer tersebut. Tapi ada keraguan yang mengurungkan niat saya. Pikiran-pikiran yang menurut saya cukup menjadi sebuah pertimbangan.

Bagaimana kalau yang punya nomor telepon itu adalah seorang perempuan? (Saya tidak biasa untuk mengatakan wanita atau cewek. Karena kata perempuan bagi saya mempunyai arti klasik yang sangat tenang dan damai dibandingkan kata wanita atau cewek). Setelah itu lalu saya jatuh cinta karena mendengar suaranya yang indah. Dan inilah yang sangat saya takutkan. Juga karena pertimbangan bahwa untuk menelponnya saya harus membeli kartu telepon. Rumah saya tidak dilengkapi perangkat modern semacam telepon. Bumi adalah rumah tanpa apa-apa selain duka dan nestapa. Dan saya tinggal di sana.

"Bagaimana kertas yang kemarin? Bagaimana nomer teleponnya? Kok kamu tidak lacak saja, siapa orang yang menulisnya?"

"Saya bingung. Dunia sudah sangat penat dengan kata-kata keji. Saya tidak ingin berpartisipasi membangun peradaban dosa. Saya takut. Saya tidak mau menyinggung perasaan orang lain."

"Kamu akan menyinggung perasaan orang lain? Masa cuman bertanya menyinggung perasaan?"

"Saya susah mengatakannya. Tolong jangan paksa saya. Saya sangat tertekan. Selain biaya hidup yang semakin memaksa untuk semakin bertawakkal, saya juga ingat adik saya di rumah."

"Adikmu? Ada apalagi? Setelah ibu, ayah, sekarang kamu puyeng karena adikmu. Sudahlah! Kamu kelihatan tua dengan beban yang semakin banyak. Biarkan Tuhan yang mengaturnya?"

"Kamu tidak akan memahami persoalan saya. Kamu menyuruh saya melupakan beban yang saya pikul. Setelah itu kamu meminta saya menyerahkan persoalan kepadaNya. Tidakkah kamu lihat saya telah jauh sekali meninggalkanNya? Pantaskah saya meminta untuk diberikan waktu untuk sekedar negosiasi membicarakan masalah saya? Saya malu padaNya."

"Jangan berprasangka buruk. Tuhan akan selalu menerima hambaNya walaupun datang dengan selangit dosa. Tenangkan pikiranmu dengan do'a. Berdzikirlah untuk menyucikan jiwamu dari hiruk-pikuk dunia fana ini."

Oh…saya tidak bisa lagi tenang. Ternyata selama ini saya telah menaruh Tuhan dalam daftar sepuluh bahan pokok. Sebagai pelengkap setelah bahan pokok yang sembilan. Alangkah kejinya diri saya. Saya tidak tahu harus berlari ke mana. Apakah saya harus berlari ke jalanan dan pulang ke lingkaran kesepian? Hanya kebisuan yang memberi jawaban.

Sudah seminggu lebih saya mendiamkan kertas lusuh itu di diari saya. Saya, entahlah mungkin dari jiwa (sok) kebersenian saya yang unik, mengurungkan segala niatan untuk memusnahkan kertas itu. Sama sekali tidak terbersit di dalam hati saya, memisahkan diri dari kertas lusuh itu. Saya kadang berpikir, barangkali seperti kertas inikah jiwa saya. Lusuh. Lemah. Tak berdaya. Juga tak berarti. Kecuali bagi orang-orang yang menganggap kelusuhan adalah misteri. Maka dia tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan untuk meninggalkannya. Tetapi berusaha menyingkap, rahasia apakah di baliknya?

"Kamu ini aneh. Masa kertas lusuh yang nggak ada gunanya masih saja disimpan. Apa sih manfaatnya? Nggak ada kan! Sudahlah jangan terlalu banyak mengisi otakmu dengan hal-hal konyol seperti ini." Seorang teman yang kebetulan tahu seluk-beluk kertas itu mengumpat.

"Justru itulah saya. Banyak hal-hal kecil di dunia ini dibiarkan terbengkalai oleh mata orang lain. Termasuk kertas ini di matamu. Tapi bagi saya, ini semacam pelajaran ilmu jiwa yang tidak bisa saya dapatkan di ruang kuliah. Jadi, saya akan menganalisa tulisan-tulisan di kertas ini sampai saya bisa menemukan jawabannya. Suatu hal yang konyol bagimu. Bukan bagi saya".

Saya membuka kembali kertas itu. Saya sudah tidak tahan untuk tidak membacanya lagi. Saya mencoba menyusunnya kembali menjadi lembaran yang utuh. Di luar kesadaran saya, beberapa hari yang lalu kertas itu saya sobek menjadi empat bagian.

Sekarang genap dua bulan kertas itu bersama saya. Di sela-sela munajat saya, kertas itulah yang paling setia menemani saya.

Saya pandangi kertas itu. Saya heran. Saya terharu. Dan sekuntum senyuman tersungging ketika saya membaca semua coretan di kertas itu.

(Di pojok kanan bagian atas, coretan-coretan membentuk siku-siku. Setelah itu, tertulis sebuah nomor telepon, 271XXX. Lalu di pojok kiri bagian atas tertulis, "nanti aku ditinggalinlah". Dan di bawah kalimat itu, dua kalimat lain menyusul.
"Siapa saja di rumah, Bang?"
"Abang lagi ngapain?"
Setelahnya coretan-coretan tak beraturan memisahkan dua kalimat itu dengan kalimat penutup, "Apa yang Abang sukai dari aku?").

Benar-benar menakjubkan. Dan saat ini, saya tidak merasa aneh atau sungkan untuk sekedar tahu, ada apakah di balik semua tulisan itu?

Saya berjalan ke tempat pelayanan jasa telekomunikasi. Saya berikan nomor telepon yang tertera di kertas itu kepada operator. Lalu ia menekan tombol-tombol telepon kemudian memberikan saya gagang telepon.

"Halo, ee…maaf mengganggu". Saya agak gugup saat itu.

"Iya…halo. Nggak apa-apa kok," suara seorang perempuan. Sangat indah. Jantung saya serasa berhenti berdetak.

"Saya cuman mau tanya, ada kertas tertinggal di dalam buku…(kemudian saya ceritakan semuanya. Buku tempat saya temukan kertas itu. Tulisan-tulisan yang tertera, dan tanpa terasa saya sudah lima belas menit berbicara). Maksud dari tulisan itu apa ya?"

"O…jadi kamu mau tahu maksudnya". Perempuan itu kemudian mulai bercerita. Ketika di Indonesia ia bertunangan dengan seorang lelaki sholeh. Sedangkan dirinya merasa belum mencapai standar wanita sholehah. Lelaki itu kemudian membimbingnya dengan sangat sabar untuk memahami agama. Sayang, mereka berpisah. Tunangannya itu berangkat ke Mesir untuk kuliah di al-Azhar. Setahun kemudian perempuan itu menyusul. Tak pernah terbayangakan, ternyata tunangannya telah menikah dengan wanita lain. Suara tangisnya sesenggukan. Parau.

"Sudahlah. Kamu harus sabar dan tabah," saya berusaha menghiburnya.

"Maukah kamu membantu aku menyempurnakan setengah agama itu?" katanya.
Tenggorokan saya tercekat. Saya tak bisa berkata. Saya terdiam. Apakah Tuhan sedang menganugerahkan saya calon istri sholehah? Calon istri yang akan membimbing saya menuju cintaNya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya sedang sadar ketika mendengar kalimat itu? Apakah saya sungguh-sungguh sedang mencari perempuan yang akan menjadi bidadari penyelamat saya? Jangan-jangan saya justru sedang mencari imajinasi untuk membuat sebuah cerpen untuk saya kirimkan ke media massa.

Ah…kertas lusuh itu!
Kairo 25-Sept-2005

Perempuan-perempuan

Malam menjaring belalang. Sunyi. Senyap. Aku sendiri terpenjara. Tersekat oleh musim dingin. Hanya bayanganku di sebalik sinar waktu yang tak pernah mengijinkan diriku untuk merasa sendiri. "Aku selalu mengiringi langkahmu," katanya berbisik. Dan aku hanya bisa tersenyum. Mungkin senyum itu sering diartikan sebagai tanda bahagia. Ah...aku tak memikirkan hal itu. Tetapi dalam hati, diam-diam aku berpuisi. "Senyumku tak lain kecuali sebuah penghiburan diri!"

Baru tadi pagi, aku menangis. Bukan mataku. Tapi jiwaku. Jiwakulah yang menangis. Apalah artinya kalau indah bola mata meneteskan air bening, kalau jiwamu tak juga menangis? Palsu!

Aku menangis. Dan seperti biasa, hanya angin yang tahu aku menangis.

"Kamu menangis?" angin menyelinap melalui daun jendela di kamarku. Sorot matanya menudingkan pisau belati. Heran. Mungkin juga ia tak percaya.

"Aku telah kalah. Aku tak mendapatkan apa-apa kecuali penyesalan. Malam seribu bulan pun kubiarkan tergeletak. Badai menyergapnya kembali ke langit."

"Kau boleh menyesal. Tetapi kau harus sadar, Tuhan sama sekali tak mati setelah bulan puasa itu pergi. Malaikat pun tak pernah cuti untuk mengawasi langkahmu. Atau kau telah menggantungkan takutmu pada Tuhan hanya sebulan itu saja. Sangat kerdil! Itu sama saja kau lebih takut pada bulan puasa dari pada Tuhanmu."

Aku mendengar nyanyian seruling dari abad purba. Angin berlalu. Dan aku pun kembali menangis. Kau tentu tak akan pernah tahu hal ini wahai perempuan, teriakku pada burung dara yang bergurau dengan kekasihnya di depanku. Aku jadi cemburu.

*****

Aku sedang bertamu di rumah sahabatku. Bertamu? Aku menumpang! Barangkali hidupku tak lebih dari sebuah tumpangan. Maka aku menyuruh seorang perempuan yang menanyakan nomor telepon rumahku, untuk mencatat namaku saja. Aku tak pernah diam di satu tempat.

"Kamu nomaden?"

"Barangkali," jawabku.

"Kok barangkali. Kalau berpindah-pindah itu kan jelas nomaden," katanya ngotot seolah-olah aku tak tahu arti nomaden.

Aku tersenyum.

"Kamu ini aneh," lanjutnya.

"Mungkin," kataku singkat.

"Masih bilang mungkin? Dasar!"

"Dasar apa? Dasar sungai, laut, samudra. Atau kau menanyakan apa yang ada di dasar hatiku."

"Sulit memang ngobrol dengan penyair. Kata-katanya terlalu jauh untuk dijangkau. Kata-kata yang asing," cerocosnya ketus.

"Kau saja yang terlalu egois. Kau tak pernah mau memahami keadaanku. Tapi itu, aku tak perduli. Karena hidupku terlalu gersang untuk membawa bunga seindah kau, maka kau tak perlu melakukannya."

*****

Suara musik mengalun. Malam tak lagi sunyi. Tetapi mengapa hatiku masih juga sepi? Telepon di kamar itu berdering. Tanganku yang kasar mengangkat gagangnya dengan malas.

"Maaf, boleh berbicara dengan..." suara seorang perempuan. Dia masih mengingat-ngingat sebuah nama ketika aku berkata, "Ternyata anda masih membeda-bedakan dengan siapa anda harus berbicara. Apakah manusia di mata anda telah menjelma angka-angka, sehingga ketika berbicara anda masih menghitung sepuluh ribu. Dua puluh ribu. Atau mungkin juga milyar."

Hening.

"Sory," katanya sendu. Aku jadi merasa sangat berdosa pada perempuan itu.

"Hehehe," aku tertawa. "Kau tak perlu meminta maaf. Bukankah hati terlalu suci untuk menyimpan benih-benih benci," lanjutku.

"Kamu suka puisi ya?" suaranya dengan nada ceria. Aku tak tahu dari mana dia mendapatkan anugerah sehingga nada suaranya, tak menggambarkan suasana yang canggung lagi.

"Iya," jawabku singkat.

"Kamu kenal Kahlil Gibran?"

"Ia adalah jiwaku. Jiwa yang terasing. Kairo dan Al-Azhar tak pernah mampu membuat diriku berpaling dari Indonesia."

"Kalau Chairil Anwar?"

"Ia adalah hidupku. Hidup yang liar. Diri yang terlempar. Menjadi kelelawar. Malam dan kelam tak boleh membuatku gemetar. Walaupun sebenarnya aku ditebas-tebas istigfar."

"Sapardi Djoko Damono?"

"Ia adalah lidahku. Lisan yang mengalirkan kata-kata romantis. Yang dengannya aku dituduh tukang gombal. Tukang pikat perempuan. Karena manusia telah sepakat bahwa lelaki suka bergombal dan perempuan menikmati kegombalan itu. Mata kemudian memandangku dengan sinis. Sebuah nasib yang malang bukan?"

Perempuan itu masih mengobrol denganku. Barangkali dia telah lupa, kalau dia sebenarnya tak mencari aku waktu menelepon tadi. Aku mau menanyakan hal itu. Tapi tak jadi, karena pertanyaannya tak pernah selesai.

"Kamu dari mana?"

"Aku berasal dari surga."

"Serius nih," memelas.

"Aku dua rius," sambil tersenyum menatap rembulan yang mengintip.

"Maksudku, setelah dari surga kamu di mana?"

"O...aku di rahim ibuku."

"Kamu ini gimana sih?"

"Emang benar kan. Setelah dari surga, kita semua dititipkan Tuhan di rahim ibu masing-masing. Terus apanya yang salah?"

"Iya...sudah. Aku mengalah. Bukan berarti kalah lho. Kalau sekarang kamu tinggal di mana?"

"Pelukan yang dingin."

"Indah sekali. Aku pengen ikut ke sana. Kamu mau nggak aku ikut denganmu? Tempatnya pasti bagus banget."

"Pelukan yang dingin itu tidak pernah berbentuk tempat yang bagus. Ia semacam surga yang berjalan di otakku. Kau akan kesulitan mencari, apalagi menempatinya. Tapi aku akan membawamu menempati tempat itu jika kau memintanya."

"Terus kapan kita pergi?"

Aku tak melanjutkan percakapan mengenai alamat tempat tinggalku karena tiba-tiba jaringan teleponnya teruputus.

*****

Pagi yang cerah. Secerah pipi perempuan yang memerah. Aku duduk di balkon. Secangkir kopi Lampung dan sebungkus Dji Sam Soe, oleh-oleh teman yang baru datang dari Indonesia menemaniku menikmati koran pagi. "1000 orang mahasiswa Indonesia membanjiri kota Kairo," headline Al-Ahram menggelitik mataku untuk membacanya.

Aku hanya sepintas membaca berita itu. Di antara kalimat yang sempat kubaca, sebelum akhirnya kutinggalkan karena ada telepon untukku adalah: "Ternyata tujuan mahasiswa Indonesia ke Mesir tak hanya menuntut ilmu agama. Banyak dari mereka justru terpikat karena cerita dari mahasiswa lama. "Aku ke sini mau menuntut ilmu sambil mencari pekerjaan. Katanya, di sini pekerjaan mudah," ungkap Adi. Aku tersenyum. "Jadi tukang jual ful sama isy mudah men," teriakku sambil menghisap Dji Sam Soe yang telah lama kurindukan.

Yang lebih menarik lagi justru setelah kalimat itu. "Denger-denger nikah di Mesir mudah juga murah-meriah. Makanya sekalian deh aku berangkat. Nuntut ilmu dan cari istri. Siapa tau jodohku emang ada di sini," seloroh Joni sambil cengengesan. Lain Joni lain pula Udin. "Kalau gue, nggak ada hubungannya ama cewek-cewek Indonesia di Mesir yang katanya mudah dinikahin. Gue pengen liat cewek-cewek Mesir yang cuaaantik, seksi, bahenol. Kali aja ada durian jatuh. Kan lumayan," kata Udin ketika ditemui Al-Ahram di Wisma Nusantara. Aku tertawa.

Aku tahu sebenarnya jawaban mereka seharusnya bukan itu. Jawaban mereka justru mengundang linangan airmata. Tetapi mereka tak pernah mengatakannya. Barangkali jawaban itu hanyalah gurauan. Sebagai selingan karena penat kepala menghadapi sejuta malapetaka di negeri yang menjelma ladang dusta. Bangsat! Negeriku telah menjadi milik pribadi segelintir orang-orang keparat terlaknat. Maka aku menciptakan puisi untuk mereka. Koruptor! Mereka yang tak hanya maling harta negeriku, tapi juga mencopet harga diri rakyat Indonesia. Aku ingin potong lidah-lidah yang berbohong itu. Tapi aku tak pernah bisa. Hanya sebuah puisi:

UNGKAPAN BELASUNGKAWA ATAS KEMATIAN SANG KORUPTOR
-alhamdulillahisy-syukur-
(mampus aja lo, nyahok tuh di neraka)

*****

Panggilan telepon untukku dari seorang peremuan.

"Kamu sedang ngapain," tanya perempuan itu.

"Aku sedang menikmati senyummu."

"Emang senyumku bisa kamu nikmati?"

"Bisa."

"Kan kamu nggak melihatku."

"Ada potomu di kamarku. Walaupun di hatiku senyummu kusimpan rapi, rasanya nggak lengkap kalau nggak melihat....Yah, semacam potomu itu."

"Dapat dari mana potoku?"

"Dari takdir. Mungkin Tuhan sedang menjodohkan kita. Rasanya aku selalu mengingatmu. Apa aku jatuh cinta?"

Dia tertawa.

"Abis ini, kamu mau ke mana?"

"Nggak ke mana-mana. Paling di sini aja."

"Ngapain?"

"Bikin cerpen."

"Gimana keluarga? Dah nelpon belum?"

"Udah. Tadi malam ibu nelpon. Beliau nitip salam untukmu."

"Makasi. Kalau bapak?"

"Bapak udah kaya. Makanya lupa ama aku."

"Jangan gitu ama orang tua. Nggak baik. Mungkin belum sempat aja."

Ah...betapa hatiku sejuk mendengar kata-katanya.

"Gimana cerpennya? Boleh tahu nggak judulnya?"

"Jangankan judul cerpen. Bahkan nyawaku pun boleh kau minta."

"Basi ah!" Datar.

"Suer. Apa pun yang kau minta, akan aku berikan." Tegas.

"Iya...udah. Judulnya apa?"

"Perempuan."

"Cuman itu?"

"Yup."

"Kok kamu sering menulis cerpen tentang perempuan sih?" sedikit manja.

"Karena surga berada di bawah kaki perempuan."

"Cuman itu?"

"Kok itu kau bilang cuman?. Alasan yang istimewa bukan?"

"Nggak ada yang lain?"

Aku mengerti. Dia sebenarnya minta jawaban ini.

"Karena aku mencintai seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah kamu." Tapi aku tak mengatakannya. Biarlah dia sendiri mengartikan sikapku selama ini padanya. Bukankah cinta disampaikan tak hanya lewat kata-kata?

*****

Matahari masih menyisakan sepotong senja untukku. Aku duduk di pinggiran sungai Nil. Menatap air yang mengalir. Tiba-tiba aku berangan-angan menjadi air. Hidup mengalir tenang. Apa adanya. Tak kusadari, seorang perempuan berdiri di sampingku.

"Hai..." dia menyapaku.

Aku tak menjawab. Aku hanya tersenyum menatapnya. Dingin.

"Kok kamu di sini? Nggak ke KBRI? Kan di sana lagi open house."

"Aku capek. Penat. Aku ingin sendiri."

"Kenapa?"

"Aku selalu kesepian di tempat ramai. Dan aku takut pada keramaian."

"Waw..." takjub. "Bukankah itu puisinya Kahlil Gibran?" lanjutnya.

"Mungkin. Tapi itu adalah hidupku."

"Ngapain aja di sini?"

"Melihat air." Menunjuk ke arah sungai.

"Hanya itu?"

"Sekarang nggak lagi. Sekarang aku sedang ditemani seorang perempuan." Dia pun tersenyum.

"Maaf aku mau pulang," kata perempuan itu sambil berlalu meninggalkan diriku. Aku hanya menatapnya penuh penyesalan. "Ups...aku telah mencintai gadis yang potonya di kamarku," kataku sambil tersenyum menatap matahari yang menari pergi. Malam pun datang.

Kairo, 19:26 7 Nov 2005

Telepon

Pagi hari yang tenang. Kubuka jendela kamarku yang berhadapan dengan kamarnya --seorang gadis anak tetanggaku--. Aku sudah lama memendam cintaku. Dan inilah saat yang tepat untuk mengatakan gundah gulana yang mengguncang hatiku. Aku menekan tombol telponku.
Telepon di kamarnya berdering. Dia berjalan dengan malas menuju meja teleponnya. Telepon yang tergeletak dengan manja, dia angkat dengan bergairah. Ritmis keindahan yang menggoda.
"Hallo…"
"Iya, hallo.", kataku.
"Ini siapa?", tanyanya.
"Ini aku."
"Perlu bicara dengan siapa?"
"Aku perlu bicara denganmu."
"Tapi aku tidak tahu siapa kamu."
"Apakah kamu berkepentingan untuk tahu siapa aku?"
Kurasa ini caraku yang paling tepat untuk menjebaknya. Supaya dia tak lagi mengintrogasiku dengan pertanyaan-pertanyaan nakal.
"Ok. Kalau begitu apa maumu?"
"Aku mau mendengar suaramu."
"Kurang ajar!!!"
Dia sepertinya tidak bisa menahan diri lagi.
"Oh sorry. Apa ada yang salah denganku?"
"Apa aku tak boleh mendengar suaramu?"
"Atau kamu sedang sangat lelah?"
"Aku akan kembali meneleponmu besok pagi"
Telepon ditutupnya dengan kasar. Aku tak tahu apa yang dia lakukan setelah itu. Tapi menurutku, malam itu dia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dia masih sibuk mengingat-ingat suaraku. Bertanya-tanya siapa aku. Mungkin juga dengan persepsi yang bertentangan dia mulai menganalogikan diriku dengan bahasa hati. Atau yang akan paling tidak sopan, jika dia sudah berani mengkhayalkan aku dengan nafsu. Membayangkan… aku setampan Leonardo de Caprio dengan body atletis setara Brad Pitt. Aku tak tahu!!! Yang jelas dia paling tidak melakukan salah satu dari apa yang aku perkirakan. Kecuali kalau dia memang serakah dengan melakukan semuanya. Semoga saja sifat seperti ini tak berlaku padanya.

*******

Pagi yang cerah. Secerah wajahnya yang memerah. Udara pagi yang memukau malu-malu bermain dengan rambutnya yang terurai. Dari jendela kamarnya, kulihat dia termenung memandang mawar yang mulai merekah di taman. Dia mencoba menghibur hatinya yang galau dengan berjinjit di antara kamarnya yang luas. Vas-vas bunga yang berjejer rapi dengan harum melati mengundang sekawanan kupu-kupu untuk bertandang. Dia mengintipnya. Ingin menangkap kupu-kupu yang jelita. Seperti aku yang kini mengintip hatinya. Berusaha mencari celah untuk mendapatkannya. Menjadi milikku. Oh…..
Buku-buku kuliahnya sudah ia siapkan. Aku belum juga menelponnya. Bercanda dengan kupu-kupu tidak membuat keresahannya kemudian hilang. Dia lalu berusaha mengalihkan kegalauannya dengan berpura-pura menjadi seorang mahasiswi yang rajin. Seperti kelakuan anak sekolah dasar yang takut diberdirikan di depan teman-temannya. Tugas dari pak guru yang harus dikerjakan memaksanya untuk membuka buku sebelum berangkat ke sekolah. Dia memang tidak diberikan tugas seperti siswa berpakaian merah-putih itu. Tetapi perasaannya-lah yang paling berkepentingan untuk memaksanya melakukan hal-hal seperti itu.
”Kring….kring….", telepon berdering.
Dia menyambar gagang teleponnya. Tergesa-gesa.
"Cepat katakan apa yang kamu mau. Aku menunggumu dari tadi"
"Maaf non. Saya mau bicara dengan bapak!"
Ah…ternyata bukan telepon dariku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana malunya waktu itu. Wajahnya pias memerah. Dia salah tingkah. Memanggil pembantunya.
"Bapak ada telepon, Bi," katanya. Dia berlalu. Membiarkan badannya yang tinggi semampai pada pelukan kursi yang empuk.
Suasana hening sejenak. Tidak ada suara. Yang ada hanyalah desah nafasnya.
"Kring…kring…", telepon kembali berdering. Dia mengangkat teleponnya dengan hati-hati. Menjawabku dengan sopan. Dia khawatir kalau yang meneleponnya kali ini bukan aku.
"Halo Rielza", sapaku. Tidak seperti biasanya. Kali ini aku yang memulai pembicaraan.
"Iya, saya sendiri"
"Pa kabar?"
"Baik"
"Please. Katakan apa yang saudara inginkan"
"Iya. Aku memang tak biasa berbasa-basi"
"Lalu mengapa kamu tidak katakan dari tadi malam"
"Katakan apa?" aku pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan.
"Jangan buat aku marah!!!" dia mulai mengancamku.
"Maksudmu?"
"Cepat katakan tujuan kamu menelponku"
"Aku mencintai kamu"
Glek!!! Telepon kututup. Aku sudah puas. Aku sudah mengatakan apa adanya. Aku sudah menyampaikan sesak dadaku. Dan dia telah mendengarnya. Dengan jelas. Sempurna. Dia sudah tahu keinginanku. Sudah mengerti alasanku meneleponnya. Sudah faham tujuanku menghubunginya. Sekarang saatnya dia menyimpulkan. Menerima atau menolak. Itu saja. Tidak lebih.
Sekarang, aku hanya tersenyum geli mengingat hal bodoh bagaimana aku jatuh cinta kepada gadis manis anak tetangga di bawah apartemenku. He…he…dia dah kawin kemarin. Busyet deh!!!

Permintaan

masa mudaku hilang
hancur lebur
kemana aku di bawa kehidupan
mampus gugur

oh…bagaimanakah mestinya
kupertahankan hidup serba fana ini
sementara nafsu memenggal cita
tolong gapailah tanganku yang melambai sendiri
atau kau lihat nisan mengikat namaku

wajahku keras memeras
mencari senyum seulas
ternyata sebatas mimpi kertas
tergilas tidur pulas

biar keadaanku kering tandus
katakan pada ibu badanku tidaklah kurus
dan bila waktu tlah tiba
aku kan datang mencium tapak kakinya

09062005

Gumam-gumam Keikhlasan

cukup aroma air mata
hadir di pangkuanku
tanda kupinta dari penyesalanmu
bukan kau utus cerita tak berirama

ternyata janji kita
tak lain kecuali saksi
paling nista
karena kau kata tak lagi suci
oh…aku benar-benar tak bisa
mengatakan apa pun atas kejadian ini

alangkah berjasanya iblis kepada
lelaki yang kau ijinkan air matanya
mengalir di pipimu dengan membuatmu lupa
entah atau mungkin saja kau sengaja
maaf ini sama sekali bukan buruk sangka
tapi kalau ternyata
lidahmu yang tak terbiasa berdusta
t'lah berganti arah maka
cincin di jemariku adalah logam
murni yang kau kirim dari jahanam

aku mungkin memaklumi walaupun
malaikat harus bersusah payah menenangkan
dengan janji bidadari syurga hanya saja
untuk menahan pembunuhan sederhana
yang hendak kulakukan pada
jiwaku yang merana

lalu karena waktu
tak berjalan ke belakang maka
kumohonkan kerajaan langit dan bumi
berdiam sejenak mengantarkan padamu
duka luka paling siksa
dalam gumam-guma keikhlasanku

maafkan aku
tak bisa mengucapkan selamat jalan padamu

Metamorfosis Cinta

Awal kali aku suka pada gadis jelita
Aku dan dia sama-sama masih es-de
Berseragam merah putih dan sering main bersama
Kadang berkejaran karena dia meledekku
Tapi kalau ketahuan orang, aku dan dia
Jadi malu sendiri
Ada yang membuatku tentram bersamanya
Kemudia malu-malu aku berdoa setelah
Sholat dzuhur sepulang sekolah
"Palingkan hatinya padaku. Oh Tuhanku"
Waktu terus berjalan menanggalkan cerita lama
Kisahku dengannya lalu menjadi
Kenangan geli dan aku selalu tertawa
Sendiri mengingatnya

Aku pun berpisah
Kita lain sekolah
Di celah-celah hariku aku mulai melupakannya
Karena bertemu dengan bunga desa
Banyak hal kemudian aku lakukan
Jadi pahlawan ketika dia diganggu teman-teman
Yang aku ajak bersandiwara
Pura-pura tak melihat lalu menabraknya
Bahkan kadang-kadang aku mentraktirnya
Kalau ada sisa belanjaku
Ada damai yang aku rasakan
Melewati waktu bersamanya
Tapi aku belum berani
Kemudian senyumnya mengembang
Menjadi mantra suci
"Tuhanku. Hanya padaMu aku berani mengatakan
Bahwa ada gejolak di hati."
Pengalaman cinta ala es-em-pe

Putih abu kini menempel di badanku
Aku mulai melihat teman-teman wanita
Mengoleskan bedak di mukanya
Dan yang pria membasahi rambut dengan minyak rambut
Tapi aku yakin bukan alasan biar malaikat senang
Mereka melakukan semua itu
Seterusnya siswa mulai berani beratraksi
Pertama-tama malu kalau bertemu
Kedua mencari tahu tentang idaman
Ketiga minta waktu buat belajar bareng
Keempat rasa suka bersemi
Kelima dua alternatif bisa dilakukan
--terus terang dengan resiko sakit hati kalau ditolak
--jalani apa adanya dan biarkan berproses
Keenam mungkin saja minta orang tua melamarnya

Ternyata setelah lama
Aku baru menyadari bahwa
Cinta adalah hal besar yang tak bisa aku hindari
Ia seperti kupu-kupu
Pertama kali telur, menjadi ulat
Lalu kepompong dan akhirnya
Terbang sendiri mencari bunganya
17062005

Membaca di Ruang Gelap

tak dapat membaca apapun
kecuali mengeja rindu
tapi aku tak memintamu mendatangkan terang
jangan kau bawa cahaya!

seekor nyamuk kukirim ke akhirat
sebab alasan kecil.
darahku setetes dimintanya serakah
tak ada lagi datang mengganggu
tidak juga bacaanku

tapi rindu itu
mengapa selalu bisa menari di mataku
biar juga aku
membaca di ruang gelap.
Sayang…aku ingin pulang

Kairo Selasa; 240505

Indonesia 2006

2006 adalah bilangan keramat
Indonesiaku jangan lagi dihujat
Indonesiaku jangan lagi dilaknat
biar kita semua bangsat
mari sama-sama bertaubat

sudah terlalu lama
sudah terlalu bosan
sudah terlalu letih
sudah terlalu lemah
sudah terlalu merdeka
karena itulah kita butuh dijajah lagi
biar tumbuh kembali bagaimana sejatinya
keinginan sebenarnya merdeka yang benar

Indonesia 2250

ini hanya pertanyaan iseng ketika aku tak punya
lagi ide untuk dibincangkan

bagaimanakah wajah negeri indah menawan,
Indonesia, tahun 2250 kelak

saat itu nama kita telah masuk daftar absen
di liang lahad atau sebagian kita masih sibuk bersoal jawab
dengan Munkar-Nakir tapi dalam daftar hutang di IMF
juga bank dunia ternyata nama kita masih ada.

sungguh malapetaka karena jiwa kita tak sampai
ke hadiratNya karena tertahan hutang
bukankah nyawa orang berhutang melayang-layang
terbang di antara awang-awang.

yang lebih aku takutkan lagi
jika hutang ini jadi warisan keturunan lalu menantu dari cucuku
yang saat itu telah menjadi kakek ditanya oleh cicit anaknya
"Moyangmu usaha apa kok utangnya masih ada sampai sekarang?"
weleh-weleh ternyata semua bengong
wong saat itu negeri Indonesia tinggal pulau jawa

tempat berjubel 200 ribu juta manusia karena Kalimantan, Sumatra,
sulawesi, irian, apalagi titik macam bali lombok atau madura telah ludes dijual
sebagian lagi digadai buat hutang lagi
ini kok hitung hutang hitung hutang
sampai kutang juga dihutang.
aduh maluku tak lagi di ambon

Doa Meminta

kelelawar
menyambar
malam
kelam

istigfar
gemetar
menggelepar
menghalilintar

apalagi hendak kupinta
saat semua memejam mata?

ampunkan segala dosa
ketika Kau bersama
aku menjadi kita yang berdua

doa meminta
sangat sederhana

Alief Laam Miem

Alief-Mu
adalah jiwa tegak lurus
biar kering kerontang
menantang kemarau
berpeluh-peluh tak luruh
cinta-ku cinta-Mu bersatu
membungkam alief-ku alief-Mu
tak bersuara. menyerah!

Laam-Mu
adalah angkaraku murka
menggunting maksiat
membuat perahu taubatan nashuha
dari anganku yang membangsat

Miem-Mu
adalah mukaku berair mata
mengejar wajah-Mu
di antara ruku' sujud serampangan
oh…ada anak kalimat
jatuh pasrah di sajadahku
"Tuhan, betapa aku
belum mampu menjadi hamba-Mu."

Sajakku Sunyi

Sajakku lahir dari sunyi
Sunyiku lahir karena tak ada yang perduli
Sajakku sunyi
Sunyiku tak diperduli

Hidup adalah jalan panjang
Jalan adalah ajang perlombaan
perlombaan adalah rahim pecundang

sajakku sunyi
hidupku sepi
jalanku lengang
diriku pecundang

karena sajakku lahir dari sunyi
maka hidupku tak dipeduli

teka teki
basa basi
tantang mati
jika berani

aduhai…..aku masih akan terus berlari
aduhai…..aku harus menangis untuk kesekian kali

210605

UntukMu

Tuhanku
inilah bahasa yang aku punya
bagaimana aku meminta
bukan dengan doa
lalu mereka katakan aku gila
tapi bukankah kegilaan adalah bianglala

Tuhanku
aku tidak punya apa-apa
untuk aku persembahkan padaMu
bahkan jiwaku yang usang
adalah nol besar bernilai kosong
jika kuhadapkan padaMu

Tuhanku
mengapa dalam abad
yang semakin membangsat
jalanku menuju taubat
justru semakin pekat

Tuhanku
hidup ini hanyalah sehasta
langkah untuk menujuMu
tapi mengapa
aku terlalu sibuk dengan tetek bengek yang menipu
apakah aku tlah kehilangan diriMu

Tuhanku
jika benar keadaan kita
tlah berjauhan tolong tunjukkan padaku
perahu manakah yang seharusnya
kunaiki ‘tuk sampai pada labuhan cintaMu

Tuhanku
jangan biarkan diriku
terpanggang di pulau keterasingan ini
09062005

Tuhanku

Tuhanku
betapa semakin hari
aku semakin tak mengenali
juga tak mengerti
arti diriku di dunia ini
aku semakin berani
menentangMu
semakin sopan
berlaku kurang ajar padaMu

Tuhanku
langkahku tunggang langgang
mencariMu namun mengapa semakin
rabun dan gelap
ke manakah sebenarnya aku berjalan?

Tuhanku
lakuku
bukan mauMu
bukan hendakMu
bukan ridhoMu
bukan sukaMu
tapi lakuku adalah
mauku
anganku
nafsuku
syahwatku
binalah oh Tuhanku
agar
lakuku lakuMu
mauku mauMu
inginku hendakMu
sukaku sukaMu
senangku ridhoMu
amien…

Proklamasi III

kami bangsa indonesia menyatakan dengan ini sangat ingin menikmati kemerdekaan yang merdeka dengan merdeka untuk merdeka oleh diri merdeka untuk merdeka.

hal-hal mengenai pemindahan uang rakyat ke kantong pejabat, kolusi, nepotisme, juga hukum yang diselangkangkan kami serahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Adil dan akan kami minta di akhirat.

Atas nama rakyat yang makin melarat.

mengenang kemerdekaan indonesia yang dijajah bau ketek para laknat.


tertanda
semua rakyat Indonesia

mengapa harus ada berkali-kali proklamasi kalau toh kita tetap saja diperbudak?

Untuk Ibu

jika ada yang mengetuk pintu
keras-keras ketika wajahmu
telungkup di bantal kedamaian
itu adalah rinduku yang pulang
karena tak ada kekurang ajaran
kecuali dariku. Anakmu

Ibu
Aku masih belum berani
berjalan sendiri
tanpa doamu
dan tak akan pernah berani

Kairo 09062005

Menggalah Langit Kairo

Apakah yang turun dari langit selain gerimis,

hujan, dan malaikat pencabut nyawa?

Di tengah malam, mengapa angin sahara

justru mengajakku mempercakapkan kematian?


Kau mulai bertanya-tanya apakah sungguh

kau mencintai gadis bersenyum jingga itu

kau juga gelisah mengingat ayahmu yang semakin renta

dan kau merasa berdosa mengingat kenakalanmu

ketika bersamanya dahulu


Di tempat yang jauh, di sebuah pelosok

yang gelapnya malam tak berhak

berselingkuh dengan lampu listrik

ibumu menangis mengingatmu

apakah sungguh kau sangat bahagia

di negeri firaun hingga kau tak pernah

perlu menelponnya lagi


sementara dirimu entah mengapa

bingung tak tahu mesti bagimana

karena keris yang kau sepuh di negeri Majapahit

tak pernah mempan menggalah langit Kairo


Apakah sedang kugali kuburanku di sini

tanyamu di depan patung Cleopatra

yang mengutuk dirinya melihat lelaki

Mesir yang seringkali diperbudak istrinya

Kairo 00:29 20 Juni 2006

Dilarang Sms di Sepertiga Malam

Seberkas senyum mencahaya

lalu hatiku bergerimis tangis

larik-larik doa meraih altar langit

dan bertanya; "Dimanakah Arasy Tuhan ?"


"Tentang apakah kau datang sebelum subuh?"

suara menggema tabir putih bermandi peluh

tapi seorang lelaki yang sedang jatuh cinta

kepada seorang dara semalaman tak memejam mata


"Mengapa angin begitu akrab tuk kuajak bercakap?"

tanyanya pada diri sendiri yang telah lama merasa sepi

rembulan pun gemetar di Kairo

mendengar doa cinta mengharu biru

adakah musim dingin masih memeluk bumi?


Kini aku memulangkan diri pada mimpi tak selesai

karena terbangun mendengar bom di bukit Sinai

demikianlah, bahkan gadis yang kupuja itu pun

kularang mengirim sms di sepertiga malam

agar aku khusyu' menjahit namaku dan namanya

mengawinkan mimpiku dan mimpinya

dalam doa yang menebas-nebas langit dengan gelisah

Mengenang Madura

siwalan dan celurit yang dihadiahkan

Madura padaku adalah penggalan

sukma yang terus menari dalam angan


Madura

kaulah yang mengajarkan aku

bercengkrama di atas batu cadas

menggalah matahari memerah

mengasah jiwaku

agar tak meneteskan air mata

ketika panen tembakau

pasrah menyerah

sementara garammu memutih

menunggu pulang nurani

anak bangsa yang pergi


Madura

kau hiasi aku dengan hurup hijaiyah

yang kau tuliskan ketika malam mengeram

dan sepenuh hati paling ikhlas kau relakan ayah

menantang carok pada badai nasib menghujam


Madura

Serasa tak akan pernah kumampu

Membuat sebarang puisi

Sekedar mengenang tulus cintamu

13052005

Senja Bunga Kamboja

seperti kematian
yang datang bergegas
kau pulangkan aku
pada satu sunyi merajam napas

Tuhan, kalaupun aku boleh berdoa
sebelum lekas fajar ini berlalu
aku hanya minta satu:
semoga penantianku

tak serupa senja bunga kamboja
diam dan beku sebagai penanda
keranda mengantar nyawa
menabur aroma bunga dan air mata
karena suatu binasa

25 Januari 2006

Untuk Samingan

"Jangan lupa, kenangkan japit lusuh itu. Simpan pada puisimu, Kawan. Ada yang harus pergi... Sayonara." Tulisan ini begitu saja mampir di blog saya. Blog yang baru saja saya perbarui (bahasa kerennya: up date). Kupajang rongsokan-rongsokan yang kian lama berjejalan di komputer teman. Dan aku harus berhenti dulu dari kegiatan memperbarui blog. Pesan kawan saya ini, membuat saya melongo. Oh...begitu berat, begitu syahdu, begitu haru sebuah perpisahan.

Ada banyak kenangan tentangmu, Kawan. Karena itu tak cukup kuat perasaanku menulis. Ada sekian memori. Sekeranjang catatan. Juga selaut puisi untukmu. Aku butuh membuka catatan harianku untuk menulisnya.

Menderaslah, menderaslah
dalam bayang, gagah
kau panggul galah
bukan tuk menyerah

ambil setetes air nil
besok pagi, tuk mengail
kau datang kemari
suatu saat nanti

kutitipkan Indonesia, padamu
salam mesra penuh rindu

Kata GM:"… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama…" Ada banyak nostalgia tentangmu, Kawan!

Jiwa yang Terasing

::[Untuk adikku: Herman]

Baiklah, Her. Aku akan mencoba menulis tentang Mesir. Seperti yang selalu kau minta setiap aku menelepon, berkirim surat, atau chating: "Aku ingin Kakak bercerita tentang Mesir." Dan aku selalu mengelak bahkan menolak. "Kapan-kapan aku pasti akan cerita," begitu jawabku. Tentu cerita Mesir yang kau maksudkan bukanlah tentang cuaca, musim, batas negara, atau lainnya. Melainkan Mesir dalam persinggungan hidup Kakakmu yang terlantar ini bukan?

Keenggananku untuk tidak bercerita bukanlah tanpa alasan. Aku sudah tiga tahun hidup di Mesir ini. Dan semakin hari bayangan cita-cita yang dulu kucoba raih di sini, justru semakin hari semakin kabur dan tak jelas. Aku seringkali berkata pada diriku: "Aku telah tersesat. Tempatku bukan di sini!" Tetapi apa hendak dikata. Aku sudah terlanjur nelangsa. Maka kuterima saja suratan ini. Biarlah! Namun jika kau bertanya: "Apa itu artinya aku siap mati di Mesir ini?" Tentu jawabku tidak. Aku hanya ingin mati di pangkuan Ibu. Ibu, apa kabar kau hari ini?

Benar, aku hidup di Mesir. Tapi tak lebih hanya fisikku saja. Jasadku saja yang tinggal di negeri Musa ini. Lainnya jiwaku, anganku, pikiranku, tetaplah di Indonesia. Negeri yang entah sampai kapan akan menanggung beban derita. Ah...baiknya kita tidak usah mengingat-ngingat duka-lara bangsa. Itu membuat aku sangat bersedih. Itu membuat aku tak henti-henti meneteskan air mata.

Setelah tiga tahun di sini, aku baru sadar. Ternyata aku adalah manusia yang terperangkap dalam bingung. Sekian banyak peristiwa berlalu, datang silih berganti, saling mengejar dengan tergesa-gesa. Dan semua itu tak ada yang benar-benar kuhayati. Padahal bukankah hidup yang tidak direnungkan adalah hidup yang sia-sia? Sungguh malang. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Seperti baru kemarin aku berkata pada seorang gadis di sampingku, "Lihatlah. Pandanglah ke bawah. Tatap wajah negeri ini untuk terakhir kali. Sebentar lagi kita telah berada di langit, kemudian mendarat di tempat asing yang tak serupa dengan negeri kita. Menangislah. Aku akan mencatat bahwa kau menangis untuk Indonesia di depanku." Lalu gadis itu pun menuruti. Ia edarkan pandangnya. Jakarta. Indonesia. Selamat tinggal untuk sementara. Gulf Air pun bertolak. Tetapi gadis itu tidak menangis. "Kenapa kau tidak menangis?" tanyaku. "Barangkali air mataku telah habis. Sudah seminggu aku menangis." Aku terdiam mendengar jawabnya.

Itulah terakhir kali kutatap Indonesia dalam wajah aslinya. Lainnya berupa berita duka di surat kabar, juga televisi. Empat bulan di Mesir, Aceh dilenyapkan tsunami. Setelah itu berturut-turut, pesawat jatuh, kecelakaan kereta api, gempa bumi di Yogyakarta, laut pasang, banjir bandang, kapal laut tenggelam, dan lainnya. Dan sudah pasti telegram tentang korupsi yang semakin merajalela.

Adikku Herman. Adzan Dhuhur telah berkumandang. Aku harus menepati jani denganNya. "Ketika Dia memanggil, maka kita harus bergegas." Bukankah pada Ayah atau Ibu kita berlaku demikian. Jika iya, maka pada Sang Pencipta mesti lebih dari itu. "Sembahlah Allah, dan janganlah kau menyekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah pada kedua orangtua." Aku pasti akan bercerita tentang Mesir. Tapi tidak saat ini. Kau tahu kenapa? Karena jiwaku masih menyatu dengan Indonesia. Sedang dengan Mesir, aku masih asing dan terasing. Titip salam untuk Ayah.

Kairo Sabtu 11:59 8 September 2007

Duka Luka Menganga

::Mengenang kepergian (Alm) KH. Mohammad Tijani Djauhari MA


Pagi baru lahir dan kita ucapkan selamat tinggal malam. Malam baru datang dan kita ucapkan selamat jalan sore. Pada duka, waktu berjalan sangat lambat. Dan kita merasa hidup dalam gelap yang pekat.

Benar kata Chairil Anwar, hidup hanya menunda kekalahan, sebelum pada akhirnya kita menyerah. Manusia bergerak, hidup, dan berjuang. Memberi sebuah arti pada sebuah tubuh yang tak abadi. Hingga waktu tiba, tinggal tulang-tulang diliputi debu.

Pada yang diam hati berkata, apa arti sebuah mati. Mimpi masih menjulang tinggi. Cita-cita tetap tergantung di langit biru. Manusia dilucuti waktu dan perjuangan belum juga selesai. "Kami sudah coba apa yang kami bisa/ Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa." Maka ingatlah di tengah malam buta, hati bening itu bicara: "Kami cuma tulang-tulang berserakan/ tapi adalah kepunyaanmu/ kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan// Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan/ atau tidak untuk apa-apa,/ Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata/ Kaulah sekarang yang berkata."

Beliau telah pergi kawan. Seseorang yang memberi terang pada jalan. Pemberi semangat kala hati redup. Ingatkah ketika sayup-sayup itu terdengar lembut? Ketika kata-kata syukur menyirami jiwa yang tersungkur. Beliau yang selalu sampaikan kabar keberuntungan dan bahagia lalu membacakan pesan Nabi Sulaiman: "Hadza min fadli rabbi liyabluani a asykur am akfur." Beliau yang menuntun kita untuk berkata bahwa tidak ada nasib buruk di dunia, yang ada adalah nasib baik dalam bentuk yang berbeda. Maka selalu dan selalu, "Fanaqulu daiman abadan alhamdulillah."

Tak ada lagi detik untuk menunggu. Malam belum kelam. Jari-jari tangan masih lincah menari. Mari, sebelum hilang tenggelam, kita habiskan kata-kata, ukirlah kenangan. Tulis di kertasmu, beri arti yang telah pergi, lanjutkan kerja yang belum selesai. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah padaNya dengan hati yang puas dan diridhai. Bergabunglah dengan hamba-hambaNya dan masuklah ke dalam surgaNya. Jangan gemetar! Kamilah kini yang menggenggam cita-citamu.


Jalan-jalan ke Akhirat

Judul buku : Masrur wa Maqrur

Penulis : Ahmad Bahjat

Penerbit : Dar ar-Rayyan litturats

Kategori : Cerita Islami

Jumlah hal : 79 halaman

"Ini bukanlah cerita," demikian pengakuan Ahmad Bahjat, penulis buku ini dalam kata pengantar. "Sungguh, cerita dimulai dengan kehidupan dan berakhir pada kematian. Jadi, alangkah baiknya kita namakan saja buku ini, sebagai sesuatu bukan cerita!" lanjutnya.

Sesuatu bukan cerita ini dimulai dari kematian kemudian berakhir dengan hari kebangkitan. Kejadian-kejadiannya kemudian berlanjut hingga kita berhenti di ambang dua pintu: surga dan neraka.

Tersebutlah di suatu zaman –barangkali zaman kitalah yang dimaksud, dua manusia bernama Masrur dan Maqrur. Dan seperti lazimnya sebuah hidup bagi umat manusia, maka keduanya pun menerima bagian masing-masing. Masrur adalah orang kaya. Bahkan terkaya di negerinya. Kalau pun dibanding dengan kekayaan Qarun, mungkin dia kalah sedikit saja. Lain halnya dengan Maqrur. Hidupnya susah dan terlunta. Apalagi dengan masa lalu yang suram sebagai perampok jalanan, Maqrur adalah pendosa. Tapi justru karena itulah ia sadar. Maqrur insaf bahwa ada tugas lain yang sebenarnya telah ia lalaikan, yaitu beribadah pada Allah.

Akan dirinya yang menduduki tahta, bergelimang harta, dan dikelilingi wanita, Masrur pun menjadi pongah dan lupa diri. Puncaknya, Masrur murka ketika tahu bahwa Maqrur telah bertaubat dan menyimpang dari agama sang raja.

"Kamu mengakui bahwa ada Tuhan lain selain tuhan kami, hah?" suara Masrur membentak. "Kamu bilang kita akan dibangkitkan dari kematian. Bukankah kamu yang bilang demikian?" lanjutnya geram dengan muka merah padam.

"Iya," jawab Maqrur polos. Maqrur tersenyum kemudian melanjutkan, "Tidakkah Tuan tahu bahwa Allah Maha Kuasa untuk membangkitkan orang-orang yang telah mati. Kita sebelumnya mati kemudian Allah menghidupkan kita. Kita pun dikembalikan pada kematian dan hendak dihidupkan lagi. Apakah Tuan meragukan ini semua?"

"Dari mana kau dengar kata-kata ini?"

"Dari seorang Nabi yang diutus di sebuah wilayah di timur jauh. Aku bertemu dengannya dalam sebuah perjalanan. Beliau telah memberi terang hatiku dengan kata-katanya. Aku pun sadar untuk bertaubat sejak itu. Sungguh, beliau adalah Nabi, Tuanku."

"Diam!" potong Masrur berteriak. "Tuduhan tidak berubah. Hukuman apa yang akan ia terima, Hakim Agung?"

"Terdakwa bebas! Apa yang dikatakan Nabi itu benar," bela Hakim Agung tanpa pikir panjang.

Masrur terperanjat kaget. Amarahnya menyala.

"Hakim Agung telah gila. Bakar mereka berdua!" perintah Masrur. "Atau...tunggu!"

Maqrur ia jebloskan ke dalam penjara. Hakim Agung yang mencoba membela Maqrur pun, dibunuh Masrur dengan keji. Serbuk racun dituangkan pada minumannya. Sementara Maqrur digiring ke penjara, di istana Masrur pesta pora merayakan kemenangan. Masrur merasa sangat berkuasa dan hebat lalu bebas melakukan apa saja, termasuk mendholimi sesama manusia. Maka Maqrur yang lemah dan tak berdaya, tak bisa apa-apa selain pasrah dan menerima. Di lubuk hatinya yang mendua –antara bahagia dan sedih, Maqrur bertanya, "Ya Allah, apa jika aku dibakar itu artinya Engkau telah menerima taubatku? Apakah itu artinya Engkau telah memilihku untuk mati di jalanMu?"

Tapi takdir Allah berkata lain. Masrur mati ketika pesta pora di istana. Ia mati dalam keadaan sesat. Meregang nyawa ketika nikmat mereguk segelas khamr. Sedang Maqrur menunggu hukumannya di penjara dengan doa dan panjatan puji-puja. Memohon tanda pada Sang Maha Segala, isyarat hati agar mantap diri. Dan dijawablah doa Maqrur dengan sebuah mimpi di malam ketiga.

Ia menyaksikan dirinya berjalan di tempat yang rindang. Dikelilingi rimbun pepohonan dan buah-buahan. Di sampingnya anak-anak sungai mengalir tenang. Ia lihat juga, sebuah istana yang lebih megah dari istana Tuan Agung Masrur. Seorang perempuan bertanya mendayu-dayu, "Kapan kau akan berkunjung pada kami?" Siapa kamu?" Maqrur bertanya dan ia pun terbangun dari tidurnya. Ah...

Ketika Maqrur telah sakaratul maut, ia membayangkan dirinya dilalap api. Awalnya Maqrur takut. Ia ragu untuk masuk ke kobaran api. Maka datanglah sebuah wujud dari dalam api dan berkata, "Jangan takut! Maju saja. Kamu tidak akan merasakan sakit. Kamu tidak akan mati oleh api."

"Siapa kamu," tanya Maqrur tanpa membuka mulutnya.

"Aku datang untuk memberimu kabar kembira."

"Kabar gembira tentang apa? Bukankah kamu malaikat pencabut nyawa."

"Iya."

"Jadi aku akan mati dibakar api? Ini artinya Allah telah menerima taubatku?"

"Tidak. Kamu tidak akan mati dibakar api. Ajalmu akan berakhir sebelum kamu sampai di api itu."

"Aku ingin mati terbakar di jalanNya," ujar Maqrur sedih.

"Jangan bersedih. Selamat datang di alam lain."

Maqrur telah pergi ke alam sana. Kemudian datanglah malaikat penanya dalam kubur. Setelah itu masa penantian tiba. Ditiuplah terompet qiamat. Bumi luluh-lantak. Gunung-gunung beterbangan serupa kapas. Manusia berkumpul di padang mahsyar. Menunggu dan menunggu. Bumi terang benderang dengan turunnya Cahaya Maha Cahaya, Dialah Allah Sang Maha Segala.

Maqrur dan Masrur lantas menerima buku catatan amal masing-masing, --tentunya kita juga di sana kelak. Setelah itu datanglah hari pengadilan. Hari dimana tidak berguna lagi sesal dan kesedihan. Akhirnya, yang berbuat baik walau hanya seberat atom, diberikan ganjaran oleh Allah. Dan yang berbuat jahat juga menerima balasannya. Hingga masing-masing sadar, hendak pulang ke mana mereka setelah itu. Surga atau neraka?

Buku ini sungguh tepat sebagai pengingat bahwa hidup di dunia adalah fana dan sementara. Cerita kematian dan sederetan laku di alam akhirat digambarkan penulis dengan cukup apik. Peristiwa-peristiwa yang dilukiskan sungguh-sungguh bukan khayalan, melainkan sebuah kenyataan yang telah Allah jelaskan di dalam al-Quran. Kekurangan buku ini –atau jangan-jangan kelebihannya yang lain, adalah sedikitnya jumlah halaman karena kejadian-kejadian di akhirat digambarkan secara sangat sederhana. Barangkali ini adalah bentuk kehati-hatian penulis untuk tidak terjerumus pada imajinasi pribadi dan eksplorasi yang tak perlu, hingga menjerumuskan cerita hakiki ini menjadi cerita hasil karya sastra penebar khurafat semata. Wallahu A'lam.


Mereka Toh Tak Mungkin Membikin Malaikat[1]


Selembar perjalanan; secarik catatan; sekeranjang dosa. Manakah yang pertama kali ditanyakan kelak di akhirat?

Ada orang yang setiap selesai solat berjemaah menghitung pahalanya; kali ini duapuluh tujuh katanya. Lalu dia merasa telah menjadi malaikat. Ada yang tidak mau berjemaah tapi hanya menangis di rumahnya; aku malu padaNya bisiknya. Terlalu banyak dosa katanya, sehingga menghadap Tuhan pun malu. Dia merasa telah terkutuk dan menjelma iblis. Ada juga yang setelah selesai tahajjud; menangis kemudian tak henti-hentinya memohon ampunan. Mungkin inilah dia yang disebut manusia!

Seperti hari kemarin, saat ini penyesalan mesti datang kembali. Membuat semak-semak liar tempat bermain belalang dan serangga. Angin berkesiur. Belalang dan serangga berpegang semakin erat pada ranting-ranting. Di luar, burung-burung dara melibaskan diri dengan dzikir senja. Matahari memerah. Laut meredam marah. Nelayan-nelayan berangkat menantang keruh. Apakah badai dan pekat malam yang kau saksikan bukan keruh kehidupan? Tak mengapa! Bagi nelayan, badai dan pekat malam adalah nafas mereka.

*****

Malam berjalan sangat pelan. Gerimis yang rajin menyambangi bumi, kini telah terdengar kaki-kakinya di seng rumah. Ayam-ayam betina mendekap anak-anak mereka lebih kencang dan erat. Lolongan anjing, suara jangkrik, mengiringi cahaya-cahaya kilat yang menyambar. Seperti lampu disko di diskotek.

Alun-alun kota tak pernah sepi. Setiap pojok adalah tempat yang aman bagi sebuah perselingkuhan. Apakah yang bisa kau katakan, ketika melihat anak-anak jalanan yang mencoba meraih sebuah bahagia dengan melelapkan diri di trotoar jalan. Mimpi! Bahkan dalam mimpi pun, mereka tak pernah bisa makan kenyang. Ahai...dunia bagi mereka adalah ajang malapetaka. Tapi...tapi....ada rupa lain yang kini dipergunjingkan. Malaikat yang hendak membikin malaikat. Ahai...apakah memang ada beberapa Tuhan di alam ini, hingga semakin hari, jumlah malaikat semakin bertambah?

Malaikat-malaikat itu berpakaian putih. Turun dari langit yang bersih. Langit yang tak pernah bisa bisa ditembus dengan roket manapun. Mereka turun membawa risalah Tuhan; dibekali jaring-jaring (seperti sarang laba-laba), beberapa ayat suci, juga pedang yang wangi seperti melati. Apakah mereka datang membawa mati beraroma melati? Entahlah! Dan lihatlah, mereka sedang memasang jaring-jaring di setiap perempatan jalan. Di seluruh kota! Mimpi apalagi saat ini. Bukan mimpi! Tapi apakah mereka tidak kasihan kepada manusia yang harus merangkak di setiap arus jalan. Jalan raya macet total. Mobil tidak bisa bergerak. Jaring itu (walaupun mirip sarang laba-laba!), tidaklah serapuh sarang laba-laba. Jaring-jaring itu disulam dengan tangan-tangan ahli surga. Surga! Apakah setiap manusia mempercakapkan dirinya sebagai ahli surga. Tapi malaikat-malaikat itu?

Setiap kota kini telah diselimuti jaring-jaring malaikat. Malaikat menghalangi maksiat. Aroma api tercium dari lenguhan iblis. Serasa bumi akan dilumatkan dalam kebakaran besar. Manusia tak pernah tahu atau jangan-jangan tak mau tahu, bagaimana seharusnya menghadapi iblis dan malaikat dalam waktu yang sama. Atau memang manusia adalah bunglon. Malaikat di satu waktu. Dan iblis di kesempatan yang lain. Aku tak mengerti. Karena aku tidak tahu, dalam bentuk apakah aku berwujud sekarang ini. Ibliskah? Malaikat? Manusia? Tuhan? Bukan! Bukan Tuhan. Tuhan tidak akan pernah mengijinkan siapa saja, apa pun juga, sebagai sainganNya!

"Bagaimana? Kalian yakin sudah memasang jaringnya di setiap sudut kota? Ingat! Perintah Tuhan harus kita jalankan dengan hikmat dan penuh tanggung jawab. Jangan seperti koruptor-koruptor laknat! Maksiat harus kita singkirkan dari pelataran bumi ini. Orang-orang yang tidak mau menuruti kita, berarti harus segera hengkang ke neraka." Pimpinan malaikat itu berbicara lantang di depan anak buahnya. Dan iblis pun tertawa.

"Ha...ha...ha...! Apa dia kira surga dan neraka milik nenek moyangnya. Bicara seenak perut. Mau mengirim orang-orangku ke neraka. Tidak semudah itu kawan! Kita akan membuat perhitungan. Kita akan lihat siapa yang lebih berkuasa." Iblis menyudahi ocehannya sambil menyeruput segelas wiski ditemani gadis cantik yang seksi.

"Kalau ada yang terperangkap ke jaring-jaring itu kita apakan? Kita biarkan saja seperti layang-layang yang enggan diterbangkan angin, atau ada opsi lain yang harus dijalankan?" Anak buah malaikat bertanya.

"Jangan biarkan mereka tergantung di sana. Berikan pelayanan yang baik. Supaya mereka tahu bahwa menjadi malaikat sungguh nikmat sekali rasanya."

"Kita akan mengubah mereka menjadi malaikat?" Heran dan hampir tak percaya.

"Kita akan menyulap seluruh penghuni alam ini menjadi malaikat!" Tegas dan penuh percaya diri.

"Apakah mungkin?"

"Segalanya mungkin. Dan besok lihatlah! Koran-koran akan menurunkan berita tentang penduduk bumi yang telah berubah menjadi malaikat."

*****

Hari-hari pun berjalan. Orang-orang ramai membicarakan jaring-jaring malaikat yang telah membuat banyak manusia terperangkap. Manusia yang terperangkap dalam jaring-jaring itu adalah para pelaku pasar dosa; pemaksiat yang harus diproduksi menjadi malaikat. Bumi semakin kelihatan sepi. Ruas-ruas jalan lengang. Lampu-lampu disko, di tempat hiburan malam hilang. Iblis kini benar-benar linglung memikirkan kawan-kawanya yang lenyap ditelan jaring malaikat.

Langit putih bersih. Awan-awan berarakan seperti kapas yang beterbangan. Angin bertiup perlahan. Bunga-bunga bermekaran. Melati dan seroja, juga mawar meningkap selendangnya. Sementara jaring-jaring malaikat itu, kini benar-benar telah penuh dengan manusia. Barangkali sembilanpuluh persen penduduk bumi adalah pelanggan dosa! Hitung saja, dari tempat terkecil di kantor kelurahan yang pengap sampai ruang presiden yang sejuk ber-AC, berisi maling. Apalagi jika ditambah dengan jumlah penghuni jalan yang selalu berlari tergesa menjelang malam. Mereka yang tidak punya apa-apa. Mereka yang dilumpuhkan oleh sistim. Mereka yang dirampok para penguasa. Tak punya sesuatu apapun untuk diperjual-belikan, selain harga diri termasuk di dalamnya badan yang indah dan menawan.

Bukan saja iblis yang linglung karena kehilangan sahabat-sahabatnya, bahkan malaikat-malaikat yang memasang jaring juga bingung mati kepalang. Bagaimana mungkin akan mampu menyulap sedemikian banyak manusia menjelma malaikat. Bahkan sebagian besar anak buahnya; yang turut andil dalam aksi jaring suci juga terjaring oleh jaring sendiri. Kualat dan laknat! Mengkhianati diri sendiri demi nafsu serakah. Mereka yang menjaring para pemaksiat juga diam-diam menyimpan hasrat dosa yang berkobar. Jadilah mereka, malaikat beringas. Menumpas segala apa saja tanpa ampun. Bahkan anak-anak jalanan yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa mereka pukuli dengan semena-mena.

Bumi benar-benar telah sepi. Tidak ada lagi suara desahan yang bikin merangsang. Lenyap juga cekikikan para wanita pekerja kenikmatan di warung remang-remang (di hotel barangkali tak mungkin terjaring!). Hilang juga desah para brondong yang menunggu tante-tante kesepian yang minta dikunjungi menjelang tengah malam. Tak ada juga suara para penegak hukum yang minta suap lebih banyak. Para koruptor tak lagi nampak lenggang kakung di kantor-kantor pemerintahan. Manusia, iblis, setan, dedemit, bunian, makhluk-makhluk halus lainnya, bahkan juga kepala pimpinan malaikat yang memasang jaring, kini terjerat dalam jaring. Sandiwara apalagi yang berlaku. Benar-benar membingungkan.

Malaikat itu kini diam dan bisu. Hilang sudah segala harapnya. Tak berbekas juga semua rasa percaya diri yang dulu memompa semangatnya untuk mengobarkan perang. Mampus gugur. Dan dia sendiri tak tahu mesti berbuat apalagi. Jaring yang mereka buat terlalu kuat. Semua tak bisa bergerak. Sementara bau pesing dan amis karena beberapa hari terjaring, kencing, berak, mungkin juga mimpi basah di tempat yang sama, menusuk hidung, membuat kepala pening. Ah...malaikat yang hendak membikin malaikat! Membuat jaring bagi kematian diri sendiri. Mencoba mencari solusi bertaubat, sayang diri sendiri tertipu dengan pesona maksiat. Gelap dan pekat. Apakah dunia benar-benar akan kiamat. Gerimis tak juga reda, sementara api bergejolak dalam diri. Dosa apalagi yang hendak kita perselingkuhkan dalam hidup yang mesum ini? Ifrit menjerit disambut tepuk tangan bergemuruh.

Kairo, Juni-Juli 2006.



[1] . Meminjam Danarto, "Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat."

Penyair Muda, Istri Muda

Jika aku bertemu Tuhan, maka yang pertama kulakukan adalah memprotesNya. MenyalahkanNya. MenggugatNya. Aku kecewa karena doaku puluhan tahun lalu Ia kabulkan. Aku sungguh terluka. Karena saat itu aku tak sungguh-sungguh berdoa. Aku tak serius. Hanya bercanda. Seperti kata penyair yang tegak berteriak. Seakan suaranya membelah langit. Meluluh-lantak bumi.

"Aku bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Ketika hujan turun dari langit seperti kaki-kaki merpati yang bermain di seng rumah. Ketika halilintar menyambar lalu cicak di pohon kelapa gemetar. Ketika sepi mencekam lalu aku mulai berpikir bunuh diri. Tuhan menuntunku mandi ke kali, bermain air yang keruh karena hujan belum reda sejak pagi dan aku menjadi lupa bunuh diri."

Aku kecewa karena cita-citaku menjadi penyair Ia kabulkan. Apa enaknya jadi penyair? Dan sialnya ini menjadi semacam garis takdir yang tak mungkin kutolak. Tak bisa kusiasati. Ideku seakan mati.

Puluhan perempuan menolak cintaku karena kebetulan aku penyair. Mereka tahu karena sering melihat namaku muncul di koran hari Minggu dan beberapa buku antologi puisi. Mereka membaca puisi-puisiku seakan membaca alur hidupku sendiri. Mereka kemudian sepakat mengatakan aku tukang gombal. Tukang tipu. Pembohong. Bahkan lebih dari itu, mereka menuduh pekerjaanku hanya menghayal belaka.

"Apa yang bisa kuandalkan darimu. Cinta tidak butuh puisi. Cinta tak memerlukan hayalan. Apa bisa kenyang dengan puisi?"

Siapa tidak kecewa disemprot seperti itu. Siapa tidak jengkel diremehkan seperti tai keledai yang bikin sengak jalanan. Tapi, apa benar aku hanya berhayal? Tidak! Aku tidak berhayal. Aku hanya bermimpi. Lalu apa bedanya hayal dan mimpi? Entahlah!

Menjadi penyair layaknya sebuah kutukan bagiku. Cita-citaku waktu kecil menjadi presiden. Tapi ketika kulihat presiden di negeriku tidak ada yang becus dan sunguh-sungguh serius mengurusi bangsa, aku jadi takut. Aku tak lagi bercita-cita menjadi presiden. Aku tak mau menjadi seonggok daging yang dicaci-maki karena gagal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Apalagi jika kelak setelah aku menjabat, negeriku diliputi malapetaka karena hartanya kucuri, kukorupsi, kumakan sendiri, tentunya dengan mengeluarkan berbagai macam proposal fiksi. Maka cita-citaku kuubah menjadi pilot.

Aku sering membayangkan terbang ke mana-mana. Melihat dunia dari kaki langit. Jalan-jalan ke Eropa dan Amerika. Menunaikan ibadah haji ke Mekah setiap tahun. Atau sesekali mampir di Taj Mahal, tembok raksasa di Cina, bahkan ke Casablanca, sebuah kota di benua Afrika yang membuatku berdecak kagum karena nama itu menjadi nama parfum kesukaanku. Tentu enak bukan? Apalagi itu semua kulakukan gratis. Cuma-cuma!

Tapi cita-citaku menjadi pilot kugagalkan. Aku ngeri melihat belakangan ini di negeriku pesawat berjatuhan seperti daun di musim gugur. Ada yang hilang tanpa ketahuan rimbanya. Ada yang gagal take off karena mesin rusak parah. Bahkan ada yang jungkir balik ketika landing. Roda pesawat copot karena baut lupa dipasang. Belum lagi anganku jalan-jalan ke Eropa terancam gagal. Pesawat dari negeriku tidak diperkenankan terbang ke sana karena alasan keselamatan. Orang-orang Eropa tidak mau ambil risiko jika suatu saat hal-hal yang sangat ngeri terjadi. Misalnya saja, pesawat dari negeriku jatuh di kota Paris atau London karena mesin tiba-tiba mati.

Begitu juga keinginanku beribadah haji tiap tahun. Arab Saudi, sahabat terbaik negeriku, tiba-tiba berubah. Aku tak mengerti mengapa dia ikut-ikutan mem-black list pesawat dari negeriku. Burung Garuda mendapat lampu merah. Membuat Menteri Goda Gado belingsatan seperti cacing kepanasan. Ratusan ribu jamaah haji akan ia gagalkan jika burung Garuda benar-benar tak diijinkan terbang ke Arab Saudi. Terang saja karena haji adalah area bisnis paling basah. Tak perlu keringat tapi uang akan melimpah. Begitulah barangkali. Karena hidup di negeriku sebagian besar diliputi oleh kata barangkali. Ah!

Lalu dalam keadaan seperti itu, menjadi pilot sama saja mimpi buruk. Tidak ada enaknya! O...aku mau jadi tentara saja. Oh...tidak! Aku tak mau jadi tentara. Dulu aku sering melihat mereka membunuhi mahasiswa. Entah mengapa, menyebut kata tentara saja bulu kudukku berdiri. Terang karena berita yang kudengar tentang mereka adalah yang jelek-jelek melulu. Mereka membunuh saudara sendiri di mana-mana. Bahkan baru-baru ini, di sebuah pelosok di Jawa Timur, beberapa tentara menyarangkan peluru dengan bangganya ke dada rakyat tak berdosa. Dan konyolnya lagi, itu disanggah sebagai pelanggaran berat hak azasi manusia. Sungguh malang hidup di negeri penuh ironi!

Maka kutukan itu menjelmalah. Aku memilih menjadi penyair. Seorang penyair datang ke sekolahku. Membaca puisi-puisinya. Aku tak sadar bahwa yang dibaca adalah imajinasi bukan cerita hidup sendiri. Dalam puisi itu aku dengar penyair menjadi Dewa Penyelamat. Penyair berpakansi bukan saja ke Eropa atau Amerika. Akan tetapi ke planet Mars bahkan ke surga sekaligus. Penyair tidak hanya bercinta dengan perempuan-perempuan tercantik di dunia. Melainkan dengan Dewi Venus dan bidadari surga sekalian. Penyair bisa bolak-balik ke Mekah tiap hari untuk haji. Kudengar mereka sering bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Sungguh enaknya bukan main. Tapi ternyata tidak begitu! Dan itu kusadari setelah aku dikerangkeng dalam dunia penyair dan tak mungkin lari.

Kusadari semua hanya imaji belaka ketika aku sudah benar-benar gila. Semua orang bilang aku tidak waras. Aku terjangkit maniak depresi sangat akut, sindrom bipolar. Suasan hati tak menentu dan berubah-ubah, dari euforia berlebihan menjadi putus asa tak hingga. Aku menjadi sangat tertekan dengan setiap imajinasi dalam puisiku. Dan aku mulai berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri. Mengikuti jejak seniman seperti, Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, dan Virginia Woolf, yang gagal berperang dengan dirinya kemudian mengakhiri hidup dengan tragis. Seluruh waktu dan tenagaku hampir habis terkuras mencari jalan paling damai menuju mati, selain tanpa henti berpuisi.

Bagiku puisi adalah darah yang jika berhenti mengalir berarti aku telah mati. Nasib sial sungguh! Dalam puisi-puisiku aku bahkan menginginkan mati. "Aku ingin mati, Tuhan/ tuk menemu Mu//mari... mari sudahi sandiwara/ tak tahan kuingin bermesra/ kita bersua//hangus mampus/ diriku padaMu tak berdaya//rapuh lepuh/ diriku padaMu hilang musnah.//"

Detik-detik dalam hidupku adalah sakaratulmaut. Prosesi menuju mati. Aku memesan peti mati dari kayu jati. Melihat ulahku, Ayah mengurungku dalam kamar. Benda-benda tajam dijauhkan dari jangkauanku. Jendela kaca diganti kayu kemudian dipaku dengan keras. Pintu kamar dikunci, digembok. Di kamarku aku nyaris tak berteman. Kecuali dengan spidol hitam, kertas lusuh, pensil yang tintanya mewangi, dan tentu saja bayanganku sendiri yang sering kuajak diskusi.

Maka setiap aku ekstasi untuk mati, tidak ada hal lain kulakukan kecuali menulis puisi. Dinding kamarku adalah sahabat paling setia yang pernah kutemui. Dia diam saja ketika tanganku gatal kemudian menulisi kulitnya yang putih bersih dengan spidol hitam. Yang kutulis bukan hanya puisi sendiri, tapi juga puisi orang-orang terkenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Umar Khayyam.

"Di kamar ini pernah tinggal/ sebuah jiwa yang terus menyala.//Ditemani tawa-tawa palsu/ sambil tangan dan pena/ saling bersiasat untuk menulis apa saja/ di dindingnya;/ dinding tak jadi dicat merah!//"

"Kamar begini,/ 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!"[1]

"barangkali hidup adalah/ doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras./ ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;/ ia pun bergegas.// [2]

"Bangunlah, Cintaku, bangun! Fajar cerlang tiba/ Reguk anggur perlahan-lahan dan petik kecapi/ Tak ada nyawa yang abadi di tempat ini/ Di antara mereka yang pergi, tak seorang pun kembali//"[3]

Aku lelah. Aku hilang arah. Aku frustasi. Aku ingin lekas mati.

*****

Jika aku bertemu Tuhan saat ini, maka yang pertama akan kulakukan adalah menciumNya. MemelukNya. Berterima kasih padaNya. Aku sungguh beruntung karena doaku Ia kabulkan. Doa yang tidak serius untuk menjadi penyair. Aku sungguh beruntung. Melebihi apa yang akan kucapai jika aku menjadi presiden, pilot, atau tentara. Anugerah apa pula yang paling berharga bagi lelaki kecuali istri cantik penuh cinta nan setia? Ahai...! Hanya satu perempuan yang sungguh menerima cintaku. Dan aku tak butuh lebih dari itu.

"Mas tahu Anjani jatuh cinta karena apa?" tanya istriku. "Karena Anjani kasihan Mas mau bunuh diri?" jawabku.

"Bukan itu. Anjani jatuh cinta karena puisi-puisi Mas yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa," ucap Anjani tersenyum dan lesung pipitnya menggodaku seketika. "Mas dapat inspirasi dari mana?" lanjutnya lagi.

"Inspirasi tak cukup membuat seorang penyair melahirkan karya. Ia mesti punya motivasi."

Anjani mengernyitkan dahi. Pandangnya yang serupa cahaya bening bintang kejora mengarah padaku. Ia menunggu lanjutan kalimatku.

"Hidup yang direnungkan adalah inspirasi terbesarku. Dan senyummu adalah motivasi yang paling nyata," terangku dengan mimik sangat serius. Di luar malam makin lelap.

Cinta membuat perang dunia kelihatan sederhana!

Kairo, Buus Indah Permai; Senin 11:40 23062007


[1] . Dari puisi 'Sebuah Kamar' Chairil Anwar.

[2] . Dari puisi 'Pada Suatu Malam' Sapardi Djoko Damono

[3] . Umar Khayyam. Petikan ini diambil dari pembatas buku cetakan penerbit Tirai Yogyakarta.

Aku Ingin Pulang

:: Untuk Muhammad di Malaysia

[Benar, hidup itu ternyata simalakama]

Senja ini, seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, matahari tetap berwarna emas. Tapi tiada debur ombak di depan rumahku. Aku berdiri di dekat jendela. Memandang jauh ke sana. Memandang entah apa. Bunga-bunga yang berderet rapi; yang tertata dalam pot; yang senantiasa menemaniku, kini layulah sudah. Musim semi telah berakhir. Dan ia hanya menunggu waktu. Menunggu untuk kemudian meranggas. Menanti untuk mati. Setelah lelah ia pun musnahlah. Seperti itukah aku? Tanyaku dalam hati, sambil menutup korden. Senja telah berakhir. Di luar gelap mulai merayap.

"Sayang, aku kangen sekali padamu," istriku, titisan Yusuf dan Zulaikha, turunan Cleopatra, Syaifa, mencium pipiku. "Sayang, ada apa sih? Kok kamu murung begitu. Kamu sakit," lanjutnya melihat sikapku yang dingin. Aku hanya geleng kepala kemudian menatapnya sayu. Aku membuang napas panjang. Syaifa, buru-buru memelukku. "Sayang, kamu sakit. Setelah Magrib kita ke dokter ya," bisiknya merajuk. Aku menganggukkan kepala.

*****

"Oh...Tuan Lukman tidak sakit. Hanya gangguan psikologis. Mungkin banyak pikiran. Tuan butuh istirahat," dokter Ahmad menjelaskan. Syaifa yang berdiri menunggu di sampingku, menatap iba. Ia mendekat. Mengusap dahi dan kepalaku, lalu mengecupku. Aku merasa seperti kembali menjadi bayi lima tahunan. Tenang dan damai. Aku merasa seperti tinggal di pelukan ibu. "Seperti apakah kau kini, Ibu," lirihku dalam hati sementara tanganku tak henti-hentinya mengusap air mata. Aku teringat ibu di Indonesia.

Rumahku, oh...bukan! Rumah istriku sepi tak berpenghuni. Hanya kami berdua dan beberapa pembantu. Anak-anak kami: Akmal, Rafi, dan Fatma, masing-masing kini di Paris, London, dan Berlin. Mereka sedang menempuh studi. Syaifa lebih bangga dengan Eropa. Orang Eropa lebih optimis, tindak tanduk mereka lebih masuk akal, dibanding orang Arab yang kerjanya hanya mengenang melulu. Mengenang kejayaan masa lalu, sambil tertawa dan bercerita sepanjang waktu di kedai-kedai kopi, main catur dan lainnya, kemudian ketika Israel menggempur Palestin dan Libanon, mereka hanya gigit jari tak berkutik. Dan kini pelan-pelan aku menjelma layaknya orang-orang Arab itu. Lemah tak berdaya. Lebih dari itu, ternyata aku hanya bisa menyesali diri.

Aku duduk di ruang keluarga. Entah mesti diberi nama apa lagi ruang-ruang yang kami tempati. Rumah istriku terlalu megah, terlalu mewah. Tidak seperti gubukku di Indonesia sana. Makan, tidur, juga masak, di tempat yang sama. Tidak ada ruang keluarga. Tidak ada juga ruang tamu. Kalau sesekali ada yang bertandang, digelarlah tikar pandan di amben depan.

Syaifa datang menghampiri. Semula ia duduk di sampingku. Tapi kemudian tiduran di pangkuanku. Ia raih remot control di meja. Menyalakan televisi. Memilih channel 'Fashion and Show' yang mengorbit dari Prancis, kiblat mode nomor satu di dunia.

"Syaifa, aku cinta kamu, Sayangku," kukecup di dahinya. Ia pun tersenyum. Raut kecantikannya tetap membiusku, sejak dahulu hingga malam ini. Umur kami sama. Empatpuluh lima. Tapi bagiku, dia masih seperti dulu. Gadis tujuhbelasan yang baru dimabuk asmara.

"Duduklah sebentar, Sayang. Aku ingin bicara," ujarku pelan sambil mengangkat badannya dari pangkuanku. Dia menatapku penuh tanda tanya. Aku mencoba tersenyum.

"Kamu sudah lihat berita bukan?" kataku membuka pembicaraan. Ia menganggukkan kepala.

"Kamu tahu arti Indonesia bagiku," lanjutku.

"Ya aku tahu. Indonesia itu sarang maling. Indonesia itu negeri malapetaka. Indonesia itu telah keropos dan tinggal menunggu waktu untuk dihapus dari peta. Indonesia itu..." ucapnya berceloteh seperti anak tanpa dosa.

"Cukup!" aku membentak. Tapi Syaifa tidak mau diam. "Mesir lebih nyaman untuk ditinggali daripada Indonesiamu. Itu bukan perkataan orang Mesir. Itu ucapanmu sendiri ketika menikahiku dan memilih menjadi warga Mesir. Apa kamu telah lupa?" Syaifa membidik peluru tepat bersarang di dadaku. Kata-kata itu, kini menghunjam di ulu hatiku. Perih. Sangat perih! Aku telah berbuat kesalahan besar dengan menikahi gadis Mesir ini, sesalku. Kukira aku akan tenang hidup bergelimang uang. Nyatanya tidak. Apalagi kini berita dari Indonesia tak henti-hentinya meminta air mata. Daerahku sendiri di Lombok terserang busung lapar. Ratusan orang menggelepar. Mati!

"Ok. Aku memang pernah mengatakan demikian. Tapi dengar baik-baik, aku sekarang akan pulang ke Indonesia," nada suaraku penuh emosi. Aku bangkit dari kursi menuju kamar tidur.

"Tunggu!" Syaifa menarik tanganku. "Kita bicarakan baik-baik ya, Sayang" lanjutnya pelan. Ah...wanita di mana saja sama. Cepat marah. Tapi cepat juga luruh. Sekarang bilang benci, lima menit lagi minta dikeloni.

"Kita bicarakan dengan anak-anak. Aku akan menelepon mereka sekarang. Baba dan mama akan kukabari. Masalah ini bukan hanya masalah kita berdua. Ini juga menyangkut nama baik keluarga besarku. Ini juga bersinggungan dengan kedaulatan negeriku, Mesir tercinta," ucapnya panjang lebar.

"Tapi, Syaifa ikut ke Indonesia kan, Sayang," aku merayu.

"Kita lihat nanti. Tapi kupikir, baiknya kamu jangan gegabah. Pertimbangkan dulu sebelum mengambil keputusan." Syaifa berlalu ke kamar tidur. Aku mengikuti.

"Kamu tidur di kamar Akmal. Malam ini kita tidak usah bercinta. Aku ingin sendiri. Pikiranku sedang kacau," ucapnya menghentikan langkahku. Dugaanku yang mengatakan wanita cepat luruh ternyata salah. Wanita terlalu pintar menyimpan. Menyimpan marah, benci, juga cintanya, dalam kisi-kisi hati yang sunyi. Dan malam ini kami pisah ranjang. Pertama sejak kami menikah. Apakah ini adalah latihan bagi malam-malam selanjutnya yang akan kami lalui dalam kesendirian?

*****

Waktu yang ditunggu datanglah sudah. Akmal, Rafi, dan Fatma telah datang. Mereka keheranan. Mereka belum tahu apa yang hendak dibicarakan. Mertuaku, Baba Ibrahim dan Madam Hani, ayah dan ibu Syaifa, telah hadir.

"Baiklah, semua telah ada di sini. Silahkan Tuan Lukman menyampaikan apa yang hendak dibicarakan," bapak mertuaku membuka pertemuan. Tenggorokanku tercekat. Aku bingung. Aku gelisah. Aku resah. Entah rasa apalagi yang menggerogoti jiwaku.

Kutatap anak-anakku. Mencari pembelaan pada sorot mata mereka. Kutatap juga cintaku, Syaifa. Kucari kekuatan pada bening matanya. Dia menganggukkan kepala. Dan aku mulai bicara.

"Ee...," aku menghela napas panjang. Suasana hening. Hanya suara gemericik air di akuarium, detak jarum jam, dan semilir angin yang berkesiur. "Saya ingin pulang ke Indonesia!" ucapku mantap.

"Boleh saya dengar sekali lagi?" pinta baba Ibrahim sambil menatap ke arahku.

"Saya ingin pulang ke Indonesia," ulangku. Kurasakan semua tatap mata menyorot padaku. Dan senyap. Seperti gelap. Aku menunduk. Bingung.

"Kamu sendiri bagaimana?" tanya baba menoleh ke istriku. Syaifa hanya geleng kepala.

"Akmal, Rafi, Fatma. Kalian bagaimana?" baba menjelma layaknya introgator ulung. Anak-anakku ciut melihat sorot tajam kakek mereka. Mereka tak ada yang menjawab.

"Kamu telah sinting, Lukman. Apa yang kamu cari di Indonesia? Tiap hari bencana. Tiap waktu malapetaka. Rakyatnya edan-edanan. Pemerintahnya mabuk-mabukan. Apa yang kamu cari?" suara baba Ibrahim meninggi.

Aku diam membisu.

"Kamu ingat duapuluh lima tahun lalu? Apa katamu tentang negeri antah berantah itu?" lanjutnya.

Sunyi. Senyap. Tidak ada suara. Pikiranku menerawang jauh. Kembali ke duapuluh lima tahun silam. Ketika darah mudaku membara. Ketika asmaraku berkobar. Ketika kuputuskan untuk menikahi gadis Mesir dan mengganti kewarga-negaraanku.

"Tuan Lukman, Anda saya persilahkan pulang. Tapi, Syaifa dan anak-anak tidak akan pernah menjadi warga Indonesia. Mereka lahir, dibesarkan, juga akan mati di Mesir ini. Mesir tumpah darah mereka."

Gleg.

*****

"Sayang, senja ini indah sekali. Matahari tetap berwarna emas. Tapi tiada debur cintamu di sini," bisikku memandang ombak di depan gubukku, di ujung selatan pulau Lombok. Aku rindu Syaifa, bidadariku. Aku kangen Akmal, Rafi, dan Fatma, anak-anakku. Sementara aku hanya diam tanpa daya karena sudah berapa lama berpuasa. Ah...busung lapar ini. Ayah, ibu, dan keluargaku satu persatu membusuk. Mati seperti ulat yang terkena pestisida. Aku ingin pulang sekali lagi. Tapi entah ke mana? Barangkali ke akhirat sana.

BIP; Selasa 03042007 11:40


Selamat Jalan Toto

Nyawa ranggas. Mati tebas.

Kita diajak berdiam sejenak. Tenang menatap langit benderang. Titik hujan air mata membasahi tanah. Dan yang datang akhirnya berpulang jua. Satu lagi yang pergi! 9 Oktober lalu Toto Sudarto Bachtiar pamit dari dunia. Meninggalkan ruang di hati untuk museum kenang. Kenang-kenanglah kami! Kami yang kini menulis nama di batu nisan.

Kepergian Toto menghentak sadar kita, bahwa manusia ternyata mempunyai batas. Batas hidup yang akan dituntaskan. Catatan hutang yang harus dilunaskan. Setelah itu, kertap badan dikunyah ulat, nyawa pun pulang pada Yang Punya. Ungkapan bela sungkawa saja, tidaklah cukup sebagai penghormatan terakhir bagi yang telah pergi. Ada jejak yang ia tinggalkan dan minta dilanjutkan. Siapa berani bertarung?

Penting diingat bahwa Toto telah memberi kuntum bunga bagi perpuisian kita. Dalam nyanyian puisinya ia tulis tangis orang-orang yang tersingkirkan . Sekarang giliran kita, menjeritkan 'Suara' dan 'Etsa', mencoba mengabadikan apa yang disebut orang sebagai hidup ini. Karena yang tertulis mengabadi, sedang yang terucap menguap. Bagi penyair, hidup adalah puisi dan mimpi. Selepas itu, tentu saja mati!

Monday, October 22, 2007

Pada Sebuah Kenang

Di suatu malam
Kita duduk di bawah langit
Menunjuk bintang dan bulan sabit
Menunggu petir dan tasbih yang gemetar

Hitung, hitunglah berapa kenang lagi
Yang akan kita bikin sebagai prasasti
Ini hari makin dekat membawa mati
Ini diri makin berlari dari kata hati

Jika di suatu malam
Kalian kembali duduk bersama
Menghujankan puisi dan memetirkan sajak
Aku di sini cemas,
Menghadapi hutang yang gaib
Kapan akan tuntas

Kutomiyah, 22:55 Senin 22-10-2007